Tempat ini untuk berbagi pengalaman, mungkin cenderung yang lebih rohani.Pengalaman tersebut belum tentu bisa diterima oleh orang lain, namun itulah yang namanya pengalaman pribadi. Tidak harus sama dengan orang lain.
Jumat, 31 Januari 2014
Menjelang Paskah
Komunikasi Rohani menjelang Paskah
19 Maret 2013
Sekitar pkl. 20.00, kami kumpul dirumah saya – Sumeri, yang hadir antara lain pak Pujono, pak Sumadi, pak Priyono, pak Siahaan, pak Yohanes Budi, mas Sugeng, mas Totok Saan, mas Ilud Saan serta mas Budianto. Kebetulan pak Darmono pas berangkat ke Batam.
Pkl. 21.30 saya buka dengan doa pembukaan dan rencana akan kami teruskan dengan rosario serta dilanjutkan dengan doa safaat, namun karena yang kudus telah hadir yakni Santo Aloysius – pelindung saya, maka doa rosario dan doa safaat kami batalkan.
Santo Aloysius menyampaikan bahwa malam ini belio mengawani kami lek-lek-an. Kami menanyakan sesuatu yang sifatnya pribadi, sehingga tidak perlu kami catat.
Sekitar pkl. 00.30, pertemuan kami tutup dengan doa oleh pak Pujono.
“Trimakasih bapa Santo Aloysius, atas kehadirannya mengawani kami keluarga Durpo dalam lek-lek-an. Semoga apa yang engkau sampaikan pada kami menjadi kekuatan kami dalam berkarya, Amiiin”
24 Maret 2013 - MINGGU PALMA
Pagi ini pkl. 06.00 saya – Sumeri beserta istri saya – Ikah Sumekahsari menjemput bapak/ibu Pujono bersama-sama ke Gereja St. Martinus – Bangunharjo – Jogja. untuk ikut serta merayakan Minggu Palem, yang akan dimulai pkl. 07.30
Sekitar pukul 07.10 kami sudah berada dalam gereja, setelah kami berdoa masing2 untuk menyampaikan puji & syukur atas kesempatan yang diberikan-Nya dan mempersiapkan diri agar kami layak untuk turut serta dalam perayaan ekaristi pagi ini.
Pak Pujono melihat ada seorang laki-laki lenggah siniwoko ( duduk dengan posisi tangan diatas dengkul sedangkan posisi kaki terbuka dan tumit berdekatan/ berhimpit) memakai mahkota raja yang diatasnya ada salib, dan ada tulisan “ V Brother Commendation (?)”.
Berikutnya terlihat kursi kerajaan dan altar, serta Entok yang besar berwarna hitam dengan mulutnya terbuka seperti pakai lipstick. Namanya Dewi Kurantil.
Kami heran kok ada hewan turut serta dalam Ekaristi dan bertanya apa maksudnya? Jawabannya “ Meskipun aku berwujut Entok tapi aku berhak memiliki Allah, berhak hidup kekal koyo kowe, pokok-e Entok ono nyawane” .
Terlihat Lampu gandul kerajaan (blenclong ) menyala, dan ada tulisan “ Boldies of Gamma on live” . Suara terdengar “ Gumpalan2 awan Allah yang hidup, maksudnya Roh-roh Allah ya kuwi gantine Roh Kudus yang hidup kang bakal rawuh mengko dalam misa Kudus hari ini”.
Kemudian terlihat tulisan “ Soldies mama (?)” serta terlihat arak-arakan masuk berpakaian putih dipimpin oleh Santa Ursula yang dipayungi, akan memimpin misa Minggu Palem. St Ursula memakai ikat pinggang hitam yang ikatannya dipusar.
Pada waktu misa berlangsung terlihat;
- Saat bacaan II, terlihat lilin besar paskah menyala.
- Saat bacaan kisah sengsara, terlihat lilin paskah mengecil dan masih menyala.
- Saat bacaan “Salibkan Dia” terlihat lilin kecil dan tulisan PX, serta di altar St Ursula memimpin ibadat.
- Saat renungan, terlihat tabernakel dengan ukuran 50x50cm ada ukir-ukiran warna kuning dan ada tulisan “house state Gamma” dan tulisan GAMMA – gammaliel serta suara yang terdengar “tempat persinggahan Anak Allah” . Lalu tabernakel tersebut berubah menjadi bola bulat 3 buah yang menjadi satu (Lambang Tritunggal Maha Kudus?). Setelah itu berubah menjadi seorang laki-laki lenggah siniwoko di Altar tanpa pakaian. Suara yang terdengar “Pada-Ku ada pengampunan dosa, padha majuo nyembah” St Ursula berada disebelah kanan kursi raja yang kosong.
- Saat pengukupan/pendupaan Altar, laki-laki yang lenggah siniwoko tersebut naik keatas/ mengambang diatas Altar dengan posisi tetap lenggah siniwoko.
- Saat konsekrasi, laki-laki tersebut berada duduk di kursi raja.
- Saat Pastur menyampaikan “ Marilah kita berdoa” terlihat Sibori terbuka.
- Saat kudus-kudus, Sibori sudah berisi Hosti. Dan kudus-kudus berakhir, Sibori ditutup dan dinaikkan keatas.
- Saat Sibori dinaikkan keatas, terlihat Sibori jadi dua yang berisi anggur ditangan kanan dan roti ditangan kiri.
- Saat pernyataan Iman, St Ursula maju ke Altar memimpin, menggantikan Imam dengan mengunjukkan hosti.
- Saat doa Bapa Kami, St Ursula menengadahkan tangan keatas, kemudian maju kedepan memberi salam damai, kemudian kembali ke Altar sebagai imam, Sibori masih terlihat tertutup. Selanjutnya roti dan anggur dalam Sibori, berubah menjadi Hosti besar.
- Saat pembagian hosti, St Ursula tidak turut membagikan
- Pada saat penutupan misa, St. Ursula memberkati umat yang hadir. kemudian dia keluar.
- Saat lagu penutup, terlihat hosti dan lilin kecil, kemudian purificatorium (serbet kecil) mulai dibereskan oleh St Ursula, Serta terlihat tulisan ditengah-tengah salib “How live on Hu, view live human was lost” dan suara “Bagaimanakah kehidupanmu, apa bisa hidup yang los (pasrah) kepada Allah”
- Di meja altar masih terlihat Sibori dan piala bekas anggur, sampai umat memberikan hormat dengan bersujud.
Sekitar pkl. 9 pagi, misa Minggu Palem selesai, kami mengantar bpk/ibu Pujono pulang kerumahnya, setelah bincang-bincang untuk memperbaiki catatan ini, kemudian saya dan istri saya pamitan untuk melanjutkan perjalanan pulang kampung di Pare – Kediri.
“Selamat merayakan Minggu Palma” Semoga kelak kami Engkau perkenankan memasuki Yerusalem abadi, dalam Kristus Tuhan dan Pengantara kami, Amiiin.
30 Maret 2013 - MALAM PASKAH
Sekitar pkl. 16.00, saya – Sumeri dan istri - Ikah Sumekahsari, tiba di rumah pak Pujono. Setelah ngobrol ngalor ngidul, sekitar pkl. 17.30 kami bersama-sama pergi ke Gereja St. Martinus – Bangunharjo – Jogja, untuk turut serta dalam Misa malam Paskah.
Pkl. 17.15, kami sampai di Gereja, langsung masuk dan berdoa masing-masing, ibu Pujo berpisah dengan kami karena belio tugas koor.
Pak Pujono memberitahu bahwa dia melihat ada mahkota raja di depan Altar, sedangkan dialtarnya terlihat cupu, terdengar suara “ Nata Agung wus medal saking pakuwon” (Raja Agung sudah keluar)
“Durjono kang sebo pada nderek alias slamet katebus dosanipun dening sangsoro Dalem, lan kapareng nderek mulyo Gusti. Durjono bae di slametake apa meneh …………………” (= Penjahat yang datang diselamatkan, ditebus dosanya oleh sengsara Kristus, dan diperbolehkan hidup mulia bersama Gusti. Penjahat saja diselamatkan apalagi ……… kalimat tidak diteruskan, sepertinya disuruh meneruskan sendiri).
Terlihat Kombokarno serta ada buto-raksasa dengan tangannya hitam yang sungkem kepada Kombokarno. Selain hal tersebut juga terlihat sebilah Keris bernama Nogorojo menancap didepan Altar, mahkota raja tidak terlihat lagi.
Kemudian terlihat 1 bh lilin kecil dialtar serta tulisan “ Habid place commandor ritual legion of combad, dellicius deregulation contact. Hu, Hu, Hu, Hu”
Terlihat seorang pastur bernama Glacio – Itali, memakai jubah dan mahkota, suara yang terdengar “Sociate purposal Glacio ……. Patrio noble.”
Pkl. 18.00 misa dimulai, pada saat misa berlangsung, suasana sepi tidak ada yang terlihat sampai misa berakhir pkl. 20.30.
Mengantar pastor yang pindah , maupun yang ditinggal neneknya
Senin tanggal 4 Maret 2013
Hanya tidur sekitar dua jam, pagi pagi bersama isteri sudah bersiap siap pergi. Pagi itu kami akan mengantar pastor Bekatmo (pastor paroki) pindahan ke paroki santo Yosef di Cirebon. Rombongan yang mengantar berkisar limapuluhan orang dalam satu bis, ditambah dua mobil pribadi.
Rombongan sampai di paroki Cirebon berkisar jam 11.30 yang disambut dengan hujan deras. Kami semua bersilaturahmi dengan warga Cirebon yang menyambut rombongan kami. Sambil menunggu pastor lain yang juga pindah ke Cirebon, kami ngobrol sambil beristirahat. Aku melihat pastor Eko Susanto sedang menerima telepon dan wajahnya berubah, mata berkaca-kaca dan menutup mulutnya. Pasti ada sesuatu yang terjadi, maka aku mendekati. Dia bilang bahwa neneknya yang sangat dicintai baru saja meninggal. Dia ingin cepat cepat pergi ke Yogyakarta, dan aku minta tolong ke warga Cirebon, kendaraan apa yang paling awal berangkat menuju Jogya. Sokurlah mas Candra Setiawan menyediakan diri untuk mengantarkan dengan mobilnya. Sesaat kemudian aku lihat mbak Lis ibunya Aan yang sedianya ingin ikut mengantar, wajahnya memerah dan tegang. Ternyata ibunya di Semarang mengalami serangan jantung dan dibawa ke rumah sakit. Akhirnya aku, mas Candra dan pak Frans yang mengantar pastur Santo ke Yogya. Sedangkan mbak Lis beserta anaknya ditemani mas Martin berangkat ke Semarang.
Aku sempat menghubungi pak Pudjono dan bertanya tentang ibu Marto Sudarmo, nenek pastor Santo. Menurut penglihatannya, ibu Marto Sudarmo malah begitu cepat sudah berada di tangga paling bawah. Tangga tersebut bagaikan trap-trap yang terus naik tinggi, menuju kemah Allah. Kemah Allah tersebut bagaikan di puncak bukit dan melayang diatasnya. Dalam mobil, aku bercerita tentang penglihatan yang dialami pak Pudjono. Dan aku tambahkan, boleh percaya boleh tidak. Namun hal ini mestinya kita syukuri bahwa perjalanan ibu Marto Sudarmo begitu mulus. Pasti selama hidupnya selalu berada di jalan Tuhan. Pastor Santo bercerita bahwa memang dia begitu dekat dengan sang nenek. Dan neneklah yang begitu mendukung agar dia mau menjadi pastor.
Kami sampai tujuan berkisar jam sembilan malam lebih, masuk ke rumah dan berdoa dihadapan arwah ibu Marto Sudarmo. Beliau mempunyai nama komplit sebagai ibu Ignatia Maria Tarsinah Marto Sudarmo. Beliau bagikan tidur dan tersenyum dan aku mengucapkan kata-kata seperti yang diajarkan Tuhan Yesus, serta memberikan tanda salib di dahinya.
Berkisar jam sebelas malam, kami meminta agar pastor Santo istirahat, karena besok pagi masih ada tugas panjang. Kamipun ingin beristirahat juga di rumah pak Pudjono, agar tidak mengganggu keluarga besar ibu Marto maupun tamu yang ingin menyambanginya.
Kami bertiga menginap di rumah pak Pudjono, yang sudah menyiapkan makan malam untuk kami semua. Dan aku masih sempat ngobrol sejenak, sedangkan pak Frans dan mas Candra tidur duluan. Aku dan pak Pudjono masih ngobrol tentang wiyosan Dalem yang jatuh pada tanggal tiga Maret, dimana pak Pudjono dan pak Sumeri menginap di gua Tritis Wonosari. Senin pagi hari pak Sumeri pulang ke Bandung, sedangkan kami malam harinya gantian di rumah pak Pudjono.
Selasa pagi, setelah sarapan yang disediakan ibu Pudjono, aku, pak Frans, mas Candra, pak Pudjono dan anak live in dari van Lith (lupa namanya) berangkat ke kediaman pastor Santo. Sambil menunggu acara Misa Requiem, aku dan pak Pudjono mencoba melihat gambaran ataupun pesan dari yang diatas. Siang itu hujan bagai tercurah dari langit, yang ingin mengiringi kesedihan para yang ditinggalkan. Pak Pudjono melihat ibu Marto Sudarmo berpakaian Jawa, keluar dari rumah dan sepertinya mau ke jalan besar. Sewaktu ditanya belia menjawab :”Aku arep methukake anakku dhisik.” Aku tidak tahu siapa yang dimaksud.
Kemudian pak Pudjono mendengar kata-kata seperti :”Gijarat” Aku tidak tahu apa yang dimaksud, maka aku tanyakan dan ada jawaban :”Damai sejahtera.”
Pak Pudjono melihat tulisan seperti running text, namun tidak bisa mengikuti semua.
Yang bisa aku tangkap kurang lebih dan mungkin salah tulis :
Patrio current noble standart
Delicous state .......
Zamza carious on believe numerical zone
God wonderfull gate pilar some human together with soul
Circle circum first with Son
Maria together with them believe….. (terlihat bunda bersalaman dengan yang datang)
This is complete comeback was loose
Ladies memoriam on home place smart
Kemudian terlihat seperti bentuk pigura dan diminta untuk berhenti, karena upacara Misa Requiem akan segera dimulai. Dan hujan malah semakin deras, juga sayang karena jumlah hosti tidak mencukupi untuk semua umat. Batinku hanya bertanya, mangapa tidak dipotong menjadi dua, agar semuanya boleh menikmati Tubuh Kristus.
Aku dan pak Pudjono memohon kepada Yang Kuasa, semoga dalam perjalanan ke makam sampai selesai penguburan, hujan berhenti. Harapanku malah sampai perjalanan kami pulang ke Bandung. Ternyata dikabulkan dan aku hanya bisa mengucap syukur dan terima kasih.
Penguburan berjalan lancar, namun ternyata pator Santo sudah tidak bisa menahan kesedihan, menangis habis. Aku mendekati dan hanya bilang :”Puaskan saja mo, kami masih menunggu koq.” Selesai menangis pastor Santo melihat berkeliling, dan semuanya sudah berjalan pulang. Dia bertanya :”Lho pada kemana semuanya, kasihan simbah, tidak ada yang menemani, ditinggal sendirian.”
Aku hanya berkata :”Mo, rohnya sudah enak Mo. Romo Kanjeng Pujo malah bilang profisiat, karena sudah lulus dari peziarahan. Badannya sudah terbaring diam dalam damai.” Kemudian aku berdoa dengan caraku dan aku lanjutkan berkata setengah ngobrol dengan mbah Marto Sudarmo. Rasanya cukup panjang aku ngobrol dan didengarkan oleh yang masih menunggu.
Kami semua pulang ke rumah dan bersiap siap melanjutkan perjalanan. Mas Candra ngajak makan sore dahulu bersama romo Santo dan mobil kami isi berenam. Selesai makan kami ke rumah pak Pudjono, duduk ngobrol dan mandi sore. Romo Santo malah bisa tertidur di kursi dan kami biarkan saja. Aku hanya berpesan sebagai orang yang lebih tua dari romo. Sebaiknya kepulangan ke Bandung menunggu setelah mbah bungsu dari Kendari datang, karena selama ini belum pernah bertemu muka. Daripada suatu ketika menyesal tak berkesudahan, tidak ada seorangpun tahu akan kehidupan dan kematian seseorang.
Sekalian pamit dan berterima kasih kepada bapak ibu Pudjono sekeluarga, kami pulang karena jam tujuh malam akan diselenggarakan ibadat arwah yang dipimpin prodiakon setempat. Selesai doa, ternyata pada kecapaian dan bergeletakan di tikar. Aku ngobrol dengan ibu dan adik adik pastor Santo di samping rumah, sambil menunggu kedatangan keluarga dari Kendari. Aku menyampaikan hasil komunikasi rohani dan titip semoga selama seminggu ini diadakan doa rosario keluarga. Demikian juga agar dilakukan intensi misa buat simbah selama tiga hari berturut-turut. Kebetulan stasi dekat dan melewati makam simbah Marto Sudarmo.
Ternyata keluarga Kendari datang terlambat sekitar jam setengah sebelas malam. Karena sesuatu hal pesawat merpati ditunda cukup lama, demikian juga sewaktu mau mendarat di Yogyakarta berputar-putar dulu hampir setengah jam.
Kami ngobrol bersama sambil menikmati oleh-oleh Kendari, mete, bagea mete dan kopi. Kemudian satu persatu ketiduran sehingga hanya aku dan mbah lik Kendari saja yang ngobrol. Obrolanpun tak sengaja ya hanya seputar gereja dan paroki.
Sekitar jam tiga pagi mbah lik Kendari mengundurkan diri dan aku tidak tidur, hanya berjalan keluar dan mencoba untuk berdoa rosario pribadi. Ternyata doaku pun berputar-putar, kadang lenyap ditelan malam, terjaga kembali melanjutkan doa sampai habis. Aku tidak yakin apakah selesai betulan atau malah kelebihan, biarlah Tuhan yang tahu.
Akhirnya, Rabu pagi sekitar jam tujuh kami berempat pulang ke Bandung. Mas Candra hari Kamis harus berangkat ke Medan. Aku berkata bahwa sekarng giliranku untuk tidur gantian. Pastor Santo berkata bahwa sewaktu tertidur dalam mobil, wajah neneknya muncul sampai dua kali. Inginnya kembali lagi ke Yogyakarta. Aku berkata bahwa simbah putri itu sedang menemani perjalanan kita. Dan aku juga berserita tentang pengalaman rohani sewaktu bertemu santo Petrus di Pasirimpun. Kami mendoakan anak seorang teman. Santo Petrus memberi tahu bahwa anak tersebut belum mau masuk ke sorga, karena masih “digondheli” ibunya. Ibunya harus rela, ikhlas melepaskan agar segera menikmati kehidupan kekal. Kebetulan bapaknya memang sedang bersama kami. Kemudian pak Pudjono melihat bahwa anak tersebut digandeng santo Petrus dibawa ke atas. Kami semua yang berkumpul, menangis seperti anak kecil, betapa kasihnya Tuhan melalui santo Petrus. Malah santo Petrus berkata agar hal ini diwartakan, betapa Allah begitu mengasihi umatNya.
Akhirnya berkisar jam tujuh malam, aku turun di terminal Cicaheum, naik ojeg dan sampai di rumah dengan selamat. Terima kasih Tuhan atas penyertaanMu. amin.
Selasa, 20 November 2012
Awal bulan Suro 2012 .... antara Lembang dan Subang
Tanggal 14 Nopember 2012 aku main ke rumah pak Pudjono yang baru saja datang dari Yogyakarta. Aku menghubungi pak Sumeri namun teleponnya tidak diangkat. Kami ngobrol ngalor ngidul berdua. Kemudian sepertinya pak Pudjono melihat simbol kemah Allah dengan jalan seperti tangga yang menuju ke atas. Terlihat roh pak Saan sepertinya kebingungan karena tidak melihat jalan yang menuju ke kemah Allah.. Dia kelihatan kurus sekali. Sayang, aku sendiri mau ke kebun dan bersepakat bertemu sore hari untuk berdoa lingkungan di rumah pak Yadi yang akan mantu. Berdoa untuk pak Saan kami tunda malam harinya, sekalian menjelang tanggal 1 Suro bergadang semalaman bersama yang lain.
Berkisar pukul delapan malam, setelah sembahyangan di rumah pak Yadi, aku bersama pak Pudjono langsung berangkat ke Pasirimpun. Kemudian datanglah pak Sumeri, pak Yohanes BP, pak Weking, pak Slamet, pak Prianto. Kemudian dibuka dengan doa yang dipimpin pak Sumeri.
Pak Pudjono melihat simbol Pieta, dimana Bunda Maria memangku tubuh Tuhan Yesus, namun kepalanya terletak ditangan kiri Bunda. Tubuh Tuhan Yesus dibalut kain putih. Suara yang terdengar :”Iki tahun kemujuran utawa tahun kemakmuran. Makmur kanggo sing atine resik. Tegese abad kanggo muncul urip abadi.”
Pak Pudjono bertanya apakah ini bagian dari tugas kita, dan dijawab :”Ora usah; kuwi tugase bapa pengayom, bapa pembimbing. Bisa diwakili pastor, sing nyuwargaake. Tugasmu ming reresik awake dhewe. Kulinakna berdoa kanggo awakmu, kanca-kancamu. Kulinakna kanggo awakmu dhisik, lagi sedulurmu, brayatmu, lan sapinunggalane. Dongane gampang, atur panuwun keslametan. Tinebihna saking rubeda. Sing penting didasari ngilangi ganjelan.. Gampangane, yen donga kowe kudu ngoko. Dongane ora perlu kok jlentrehake. Dasare donga kuwi ana ati, ora ana uni.”
Sewaktu kami bertanya tentang pak Saan, tidak ada jawaban. Namun sewaktu pak Sumeri bertanya tentang saudaranya, katanya sudah selamat. Begitu juga waktu aku bertanya tentang pak Kuwatidjo Djojoatmodjo (mertua) ada jawaban :”Kuwi wis tak dhisikake.” Kami hanya bisa berucap terima kasih dan terima kasih.
Hampir tengah malam istriku datang bersama dengan bu Sri Yohanes, bu Cucun dan Merry. Karena kami sudah berdoa, maka para ibu ini naik ke lantai atas dan berdoa bersama. Ibu-ibu menyediakan nyamikan, makanan ringan sebagai teman bergadang.
Pak Pudjono merasa tidak bisa berkonsentrasi karena sepi dari penglihatan. Akhirnya kami ngobrol tentang orang meninggal, siapa yang menjemput. Malah ada suara :”Manut pengalaman, sing methuk kuwi sing uwis mulya.”
Kami ngobrol macam-macam sampai nabi Abraham dan keluarganya. Aku bercerita sedikit dari hasil pengalaman rohani dulu. Dari hasil komunikasi, yang didengar pak Pudjono :”Sara kuwi tegese gumbira. Ismail kuwi tegese bibit kawit ana. Lebih bersifat kerek(?), sifat nggregetake, senengane nuntut marakake cumleng. Lha yen Iskak kuwi luwih humanis, kang tumata, menjiwai, mranani, gampangan, kedaya ana ombak umbule kahanan. Gampangane dadi pemimpin kang bisa nyawiji.”
Kemudian sepi dan akhirnya kami ngobrol macam macam sampai pagi. Berkisar pukul empat pagi pak Weking, pak Slamet dan pak Prianto pamitan pulang. Pak Yohanes sekalian juga pulang ikut pak Slamet. Kamis pagi tanggal 15 Nopember 2012 pas tanggal 1 Suro pak Sumeri juga pulang.dan tinggal aku dan pak Pudjono beserta ibu-ibu yang menyiapkan sarapan indomie. Ibu-ibupun pulang duluan.
Berkisar pukul sepuluh pagi, pak Prianto datang kembali, disusul pak Sumeri, pak Weking dan kemudian pak Rusdi. Kami ngobrol dan ada juga yang berkonsultasi tentang kesehatan maupun masa depan. Kami malah bersepakat untuk melanjutkan perjalanan ziarah ke gereja Karmel Lembang maupun Subang pada hari Jumat pagi. Aku bercerita tentang apa dan bagaimana beradorasi seperti yang aku ketahui, sebagai persiapan untuk besok pagi.
Jumat pagi tanggal 16 Nopember 2012 kami bersembilan, aku dan istri, pak Yohaness sekalian, pak Rusdi dan bu Umi Pung dalam satu mobil berangkat ke Lembang. Kemudian pak Sumeri, pak Pudjono dan pak Prianto satu mobil. Pak Sumadi sekalian yang sedianya akan ikut, tiba tiba membatalkan diri.
Kami semua mengikuti perayaan Ekaristi, menerima Tubuh Kristus yang kemudian dilanjutkan dengan adorasi.
Pak Pudjono melihat simbol tabernakel dan tulisan “AVILATE PILATUT”. Kemudian Kemudian pak Pudjono melihat banyak orang (roh) ngantri maju dan berlutut di depan monstran. Maka aku dan pak Pudjono juga ikut maju berlutut, dahi menyentuh lantai, disusul pak Sumeri. Temen yang lain sudah berada di luar, mungkin sedang berdoa di taman doa. Sedangkan istri ikut beradorasi di belakang. Pak Pudjono juga melihat seorang pastor bule yang memakai sabuk hitam. Beliau mengaku bernama pastor Brouwer (?)
Pak Pudjono melihat ada seorang anak sepuluh tahunan telanjang menunggu atau menjaga di dekat monstran. Katanya sedang menjaga tangga yang menuju kemah Allah. Terlihat juga pak Saan hanya memakai celana pendek yang sedang kebingungan dan tidak berani mendekat. Pak Saan sampai mengemis-ngemis agar diperkenankan ikut naik ke tangga namun ditolak. Kemudian sepertinya yang menjaga diganti oleh seseorang, dan kami meminta agar pak Saan boleh ikut, tetapi masih ditolak juga. Pak Pudjono sampai menangis melihat keadaan pak Saan. Namun kekerasan hati pak Saan masih terlihat yang sepertinya tidak mau menerima bantuan. Aku sampai menghadap kembali ke tabernakel dan berlutut di hadapan Tuhan, menungging sampai tiga kali. Tetap saja masih belum diperbolehkan.
Pak Pudjono melihat simbol PX, ikan, lilin dan …. sudah tak terlihat lagi. Terlihat seperti seorang pastor namun jauh sekali. Kemudian terlihat seseorang dengan memakai ikat kepala putih sedang menaki binatang seperti kuda. suara yang terdengar :“Tumpakane kuldi putih”
Kemudian terlihat barisan para suster berwajah timur tengah sedang menyembah orang yang naik kuldi putih tersebut, dengan posisi berlutur dan menungging. Kami hanya berlutut ditempat dan diam saja.
Pak Pudjono kemudian melihat seseorang yang sedang lenggah siniwaka dengan tangan terentang ke atas. Terlihat seperti pak Saan yang sedang berjongkok ingin menghadap; kemudian ada seseorang berjubah putih yang sepertinya berkata kepada pak Saan, memberitahu bahwa belum bisa.
Simboknya pak Sumeri malah malah sudah diperbolehkan masuk walau lewat samping.
Kemudian terlihat seperti ada yang lenggah siniwaka, tetapi kedua tangannya diletakkan diatas kedua lutut, tempurung kaki, seperti sedang bersabda atau mendengarkan.
Berkisar satu jam kemudian, yang berjaga sepertinya sudah berganti, seperti seorang suster. Pak Saan disini dihadapan penjaga tersebut sudah bersila, seperti menunggu. Kami juga menyelesaikan adorasi kami dan keluar dari gereja.
Karena tidak bertemu dengan saudara yang lain, kami berempat bersama istri berniat untuk jalan salib dan memohon dengan cara rog-rog asem, demi keselamatan pak Saan. Doa jalan salib aku pimpin dengan sepenuh hati jiwa dan akalbudi, yang tanpa aku tahan, aku sampai menangis terisak-isak. Demikian juga pak Pudjono maupun pak Sumeri, sedangkan istriku ikut di belakang.
Pada pemberhentian ke delapan, sewaktu Tuhan Yesus menghibur para perempuan, kami berdoa mengemis kerahiman. Pak Pudjono mendengar suara :”Iki tickete pak Saan, gawanen.” dan kami amat bersuka cita.
Setelah kami menyelesaikan doa jalan salib, kami melanjutkan ke taman makam, gua Bunda Maria maupun melihat gambaran Golgota.
Kemudian setelah sarapan, ibu-ibu pulang duluan ke Bandung dengan angkutan umum. Sedangkan mobil pak Sumeri ditinggal di Lembang karena masalah kopling. Kami berenam melanjutkan peziarahan ke gereja Subang. Kami disambut dengan hujan angin yang besar sekali, sehingga doa jalan salib kami tunda menunggu cuaca terang.
Sewaktu kami akan memulai ziarah jalan salib, pak Pudjono melihat simbol bulan, kemudian buah nanas yang ukurannya besar sekali, namun diberi warna warni. Sura yang terdengar :”Sak durunge diwiwiti, saiki padha majua tak berkati dhisik.” Kami maju satu persatu menerima berkat rohani di depan pemberhentian pertama.
1. Tuhan Yesus dihukum mati
Yang membikin kaget, terlihat anglo besar, kemudian seperti buku doa atau buku nyanyian. Di depan patung terlihat seperti replika orang bersila berwarna putih. Suara yang terdengar:”Kuwi replika Bapa di surga sing ana donya. Ya iki ujud nyata duniawi kang ateges sowanmu neng ngersane Gusti secara duniawi ditemoni.”
2. Tuhan Yesus memanggul salib
Terlihat replika patung menjadi lebih besar. Suara yang terdengar :”Aku cekeln, kudangen.” Kemudian replika tadi berubah menjadi gambar Tuhan Yesus yang memakai mahkota duri.
3. Tuhan Yesus jatuh untuk pertama kali
Terlihat patung tersebut menjadi dua. Suara yang terdengar :”Roh Tuhan Yesus yang ada di belakang replikasebagai sesembahan.”
4. Tuhan Yesus berjumpa dengan Bunda Maria ibunya
Terlihat kami semua sepertinya dikelilingi oleh selendang berwarna krem. Kemudian terlihat pisang raja satu tandan. Suara yang terdengar :”Ini biasanya simbol untuk para pastor.”
5. Tuhan Yesus ditolong Simon dari Kirene
Dibawah patung terlihat seperti harimau yang sedang menghadap Tuhan, seperti mengaku kalah. Suara yang terdengar :”Kuwi lambang Tuhan Yesus mengalahkan angkara murka , kebencian.”
6. Wajah Tuhan Yesus diusap oleh Veronika
Terlihat pisang tadi semakin matang dan besar.
7. Tuhan Yesu jatuh untuk kedua kalinya
Terlihat seperti banyak baju berwarna putih yang masih digantung dan berjejer. Suara yang terdengar :”Iki hem kanggo kowe kabeh sing uwis tak siapake. Nanging durung tak paringake saiki..” Kemudian terlihat seperti gelas ukur masih kosong dan disampingnya terlihat seperti poci atau teko yang juga masih kosong.
8. Tuhan Yesus menghibur para wanita yang menangisinya
Terlihat anak kecil yang dipanggul/ dipunji oleh seseorang. Kemudian terlihat di dekat patung Tuhan Yesus ada sebuah nampan/ lepek besar yang berisi minyak. Suara yang terdengar :”Padha majua, duliten kanggo nggawe tandha salib ana bathuk, tutuk lan dada.” Kami semua antri mengambil minyak secara rohani dan membuat tanda salib. Suara yang terdengar kemudian :”Uwis jangkep. Uwis jangkep kawruhmu. Kawruh secara penalaranmu. Pemikiran lan ati uwis sawiji nanging tutuk/ mulut durung”
9. Tuhan Yesus jatuh untuk ketiga kalinya
Terlihat kembali baju baju putih yang digantung tadi. Suara yang terdengar :”Mung kuatna atimu.”
10. Pakaian Tuhan Yesus ditanggalkan
Yang terlihat hanya simbol nisan
11. Tuhan Yesus disalibkan
Terlihat bahwa baju baju putih itu berubah menjadi berkembang-lkembang warna warni. Suara yang terdengar :”Padja jupuken, anggonen.” Kami antri satu persatu, secara rohani mengambil baju dan terus dipakai. Pak Pudjono melihat bahwa aku mendapat dua baju. baju dalam dan baju luar.
12. Tuhan Yesus mati di salib
Terlihat sepertinya banyak orang yang memanjat salib, kemudian sepertinya menciumi kaki Tuhan Yesus. Aku, pak Sumeri dan pak Pudjono ikutan mencium kaki Tuhan Yesus. Pak Pudjono malah menangis.
13. Tuhan Yesus diturunkan dari salib
Terlihat simbul salib dan simbol X menjadi satu. Suara yang terdengar :”Gadane utawa gamane uwong urip, kanggo ngalahake maut. Gawanen, rak menang”
14. Tuhan Yesus dimakamkan
Tak terlihat apapun, dan doa kami tutup.
Kemudian kami ngobrol di halaman sambil bertanya tentang simbol kami masing-masing.
Simbolku : terlihat simbol tubuh orang namun tidak ada kepalanya; kemudian gubug ditengah sawah dan ada orangnya sedang ongkang-ongkang. Suara yang terdengar :”Kebak pikirane manungsa.”
Pak Sumeri : terlihat seseorang yang utuh normal; kemudian lincak; orang berdiri dan menyapa yang dijumpai. Suara yang terdengar :’Digawe becik, dibales becik.”
Pak Yohanes : Terlihat orang nguwot bambu, pakai topi cowboy, pohon pisang belum berbuah. Suara yang terdengar :”Tekan.”
Pak Prianto : Terlihat berdiri saja; memakai medali; membawa buku doa. Suara yang terdengar :”Medhar sabda.”
Pak Rusdi : Terlihat menggelar tikar dan duduk bersila; menyalami banyak orang, ada lilin menyala dan memakai jubah. Suara yang terdengar :”Aja cengeng, aja rewel.”
Pak Pudjono : Terlihat orang pakai jubah bawa buku, kancing masih terbuka, jika diganti, yang terlihat malah berbaju spt misdinar dan membawa raket; orang bersemedi. Suara yang terdengar :”Jodho, gaplok.”
Simbul rombongan hari itu : Terlihat seperti berdiri semua saling berdekatan, kemudian kakinya dicuci. dibash dari belakang samping. Suara yang terdengar :”Digawe resik kareben layak.”
Ziarah hari itu selesai dan kami mengucap syukur dan berterma kasih kepada Tuhan Yesus. Khususnya sukacita kami demi pak Saan . Kami pulang ke Bandung dengan selamat berkisar pukul sembilan malam.
Selasa, 02 Oktober 2012
SABTU LEGI DI GUA MARIA WANGON
28 Septembar 2012
Kamis tanggal 27 September 2012, di rumah kedatangan tamu suami isteri, besan dari Jakarta yang kebetulan pas hari ulang tahun pernikahan yang ke 42. Berkisar pukul 11 siang mereka sampai karena kemacetan di jalan. Sebagai tuan dan nyonya rumah yang baik, kami menerima mereka dengan penuh persaudaraan, tak lupa mengucapkan selamat berbahagia bagi mereka berdua. Mereka kami ajak juga untuk menengok rumah kebun yang ada di Pasirimpun, walau dalam keadaan kering kerontang, bahkan ikan ikan banyak yang mati. Mereka kembali ke Jakarta sudah berkisar jam 16 sore. Selamat berziarah besanku, yang akan dimulai tanggal 10 Oktober 2012 selama tiga minggu ke Eropa. Ada hadiah yang belum diketahui pada saat itu, bahwa Hesty putri bungsunya, mantu kami positif hamil di Australia.
Malam harinya aku masih melaksanakan pertemuan kelompok Durpa di rumah ibu Mardayat. Yang hadir ibu Saan, pak Sumeri, pak Weking, pak dan ibu Yohanes BP, pak Siahaan, pak Slamet, mas Rudi GG, mas Sugeng Hartono dan malamnya disusul oleh mas Ilut (Mardiyanto).
Kami berdoa Rosario bersama dilanjutkan dengan doa permohonan. Selanjutnya diteruskan dengan ngobrol dan doa bagi kesehatan pak Weking. Pertemuan kami tutup berkisar jam 00.30.
Gua Maria Beji Wangon
Ranjingan RT 05/10 Kelurahan Kelapa Gading Kulon; Kecamatan Wangon
Jumat tanggal 28 September 2012, aku dan istri, bu Yohanes Sri, bu Cucun dan bapak ibu Sumeri melakukan perjalanan ziarah ke Wangon, berangkat berkisar jam 0915. Pak Pudjono berangkat dari Jogyakarta dan bertemu kami di Gua Maria Beji, Wangon berkisar jam 16.00. Kami kulanuwun kepada tuan nyonya rumah, suster Marta maupun keluarga pak Patrick dan bu Nining, maupun beberapa warga yang sedang beres beres membersihkan halaman gua. Rombongan kami ada yang langsung berdoa di depan patung Bunda Maria dan ada pula yang ngobrol dengan warga stasi setempat.
Sejak sore kami datang, pak Pudjono sudah melihat simbul lilin Paskah besar menyala di depan gua Maria. Terlihat juga gambaran deretan kursi yang telah ditata, sepertinya akan ada perayaan dan banyak tamu yang datang.
Kemudian kami bersih diri, mandi dan mempersiapkan diri untuk acara doa bersama yang akan dilanjutkan dengan “ngobrol” bersama.
Berkisar jam 19 malam, pak Pudjono melihat seperti gendang yang dibunyikan, sebagai tanda bahwa acara akan dimulai. Kemudian terlihat seperti serombongan orang yang membawa persembahan, dan ternyata membawa “ingkung” ayam utuh yang digoreng dengan segala uborampenya. Rombongan kami berkumpul bersama warga stasi setempat, mengadakan doa bersama, yang dipimpin oleh prodiakon stasi. Terlihat simbol lilin besar menyala tersebut berada di tengah tengah kami. Suasana malam itu begitu indah dan syahdu, karena diterangi oleh sinar bulan yang begitu cemerlang. Doa dan nyanyian serta renungan terdengar begitu indah, dan diteruskan dengan doa permohonan secara bergantian.
Setelah doa doa selesai didaraskan, maka dilanjutkan dengan ngobrol dan mendengarkan apa yang dialami dalam komunikasi rohani yang diterima oleh pak Pudjono. Lilin Paskah yang menyala ini, bagi kami menandakan bahwa Tuhan Yesus hadir di tengah tengah kami. Kemudian terlihat gambaran seorang laki laki yang telanjang bulat..Suara yang terdengar :”Yakuwi awakmu dhewe dhewe. Sowan Gusti kuwi tanpa brana, tanpa mahkutha, tanpa bandha.” Pada saat itu terlihat gambaran Tuhan Yesus yang disalib telanjang bulat.
Kemudian dilanjutkan suara terdengar :”Uwalna sandhanganmu, rompimu, banjur salibna awakmu, ben bisa tuwuh kasihe, katresnane bareng karo Aku. …. …. kudu wani menyalibkan diri kanggo wong akeh, ora kena nolak yen dijaluki tulung. Udharana tanganmu sing nggegem, amrih bisa ndherek Gusti.Wis, semene dhisik, bahasen bareng bareng.”
Kami ngobrol bersama mencoba memahami pesan pesan maupun gambaran yang telah kami terima tersebut. Pak Pudjono memintaku untuk mencoba menjabarkan segala penglihatan dan pesan pesan pendek ini.
Sekitar pukul sembilan malam, pak Pudjono melihat simbol bulus di tengah tengah kami. Aku mengatakan bahwa pengalaman komunikasi rohani selama ini, bahwa bulus itu bermakna ibu kang mulus. kang tanpa cacat. Simbul untuk Bunda Maria sendiri.
Sewaktu pak Pudjono bertanya tentang nama gua di Wangon ini, suara yang terdengar :”Gua Maria campur adhuk; mung tinggal panyuwunan. Mula sing pinter nggoleki. Sing rawuh bisa beda, ana sing nylinep, melu ndherek ana kene.”
Yang bisa aku tangkap adalah, bahwa tempat ini sebelumnya memang sudah dipakai untuk tirakatan, permohonan dengan bermacam sajian. Tempatnya di pohon besar sejenis ki hujan dan beringin, berhadapan dengan gua Maria yang dibangun belakangan. Kita diminta untuk hati-hati karena yang “datang” bisa saja roh yang tidak kita harapkan. Roh-roh ataupun energi di pohon tersebut bisa menyelinap di antara kita.
Kemudian acara selanjutnya, sepertinya mengalir yang berkaitan dengan konsultasi pribadi sampai berkisar pukul dua pagi hari.
Tanggal 29 September 2012, pagi pagi berkisar pukul sembilan suster Kus mengajak kami untuk berdoa bersama kepada para malaikat agung. Hari tersebut bertepatan dengan pesta para malaikat agung santo Mikhael, santo Gabriel dan santo Rafael.
Pak Pudjono melihat simbol bola terang yang selama ini sebagai gambaran Tri Tunggal Maha Kudus. Kemudian terlihat selendang warna warni yang banyak sekali, bagaikan keluar dari gua.. Setelah itu disusul simbol Lilin Paskah menyala. Setelah itu ada gambaran seperti salib atau bahkan seperti layang layang, dimana di setiap sudutnya seperti dibuat lingkaran kecil, yang menggambarkan malaikat agung, berjumlah lima termasuk di sambungan ditengah salib.
Beberapa saat kemudian di tengah kami ada gambaran meja dan lilin kecil menyala. Suara yang terdengar agak lucu dan mengherankan :”Nek kowe rawuh sowan Gusti, kuwi sing asring diarani wong edan.” Dalam penangkapan kami, ya memang begitulah karena sering dianggap aneh, tidak seperti manusia pada umumnya. Sampai ada buku “Orang gila dari Nazaret” yang ditulis seorang pastor.
Beberapa saat kemudian pak Pudjono memberi tahu kepada kami semua yang bersembilan ini, untuk menerima “Komuni Surgawi.” Kami antri seperti sedang menerima komuni suci dari yang kudus sendiri. (bapak ibu Sumeri, suster Kus, pak Pudjono, bu Erna, bu Sri Yohanes, bu Cucun dan aku beserta istri)
Kemudian ada suara :”Tulisen jenengmu dhewe dhewe, sing padha nampa komuni.” Sewaktu pas giliranku menulis nama, ada suara agar aku sekalian menerima sesuatu. Suara yang terdengar :”Iki ticketmu padha tampanana.” Semuanya antri sekali lagi untuk menerima ticket. Pas giliran bu Cucun, dia menerima dua ticket untuk dia pribadi dan almarhum suaminya. Demikian juga untuk pak Pudjono, menerima dua ticket, yang satu untuk almarhum ibunya. Bu Sumeri bercerita bahwa ada suatu getaran sewaktu menerima ticket. Pak Pudjono berkata bahwa ticketnya ibu Sumeri masih berwarna hijau, padahal yang lainnya berwarna putih.
Setelah acara komuni dan pemberian karcis, suara yang terdengar :”Wis cukup; lilinne tak patenane ya.” Kami menangkap bahwa acara doa sudah selesai dan kami pindah tempat, karena halaman tersebut akan dibersihkan oleh tukang kebun.
Kami mengobrol panjang lebar sampai tengah hari, salah satunya adalah tentang hari Sabtu Legi yang harus dimaknai secara khusus. Aku mengatakan misalnya bahwa Sabtu itu berarti Sabda Tuhan. Legi yang kata lainnya adalah manis bisa dimaknai sebagai “dileg ben maregi”. Mengenyam sabda Tuhan, ditelan agar menjadi kenyang.
Kemudian kami pamit kepada para suster maupun ibu ibu yang menemani kami, melanjutkan perjalanan pulang.
Terima kasih Tuhan, akan semua peristiwa komunikasi rohani yang kami alami bersama.
Kamis, 26 Juli 2012
dari Wangon sampai Sendangsono
PENGALAMAN ROHANI BEBERAPA TEMAN DI BULAN JULI 2012
20 Juli 2012
Pkl. 06.20, Kami pak Rusdi, pak Supriyanto, romo Totok, pak Yohanes Mare, serta saya-Sumeri berangkat ziarah menuju Gua Maria Sendang Beji – Wangon. Selain kami juga berangkat dengan tujuan yang sama antara lain pak Yohanes Budi P, pak Suharto serta pak Suroto memakai kendaraan tersendiri.
Sebelum sampai di Wangon, kami berhenti di Ciamis untuk pemberkatan rumah anak saya Gerry, namun tidak jadi. Perjalanan dilanjutkan ke Langen – Banjar, untuk mengikuti misa di kapel Langen pukul 12.00. Selesei misa kami singgah ke tempat keluarga pak Suharto, bersilahturami sekalian makan siang yang telah dipersiapkan oleh keluarga tersebut, Terimakasih atas kebaikan ini, semoga berkat Tuhan Yesus selalu melimpah di keluarga ini, Amiiin.
Sebelum makan siang, saya mengontek kembali pak Pujono agar dapat berangkat ke Wangon, mengingat sebelumnya belio sampaikan baik melalui telepon maupun SMS tidak dapat hadir karena sakit perut. Puji Tuhan, belio siap untuk pergi walaupun kurang sehat.
Sekitar pkl. 14.30, Kami berangkat ke Wangon, dengan tambahan pengikut pak Kuat – saudara pak Harto dari stasi Langen.
Pkl. 17.00, kami sampe di Susteran Wangon dan disambut oleh saudara-saudari stasi Wangon dengan sukacita, “trimakasih sadaraku stasi Wangon, semoga kasih Tuhan selalu menyertai kita, Amin ” Sementara kami bersilahturami, pak Harto dan beberapa kawan jemput pak Pujono di perempatan Buntu, mereka tiba di Wangun pkl. 19.00
Acara di susteran berjalan bagaikan air yang mengalir, sehingga menambah keakraban kami walaupun kami baru berjumpa satu sama lainnya.
Selain rombongan kami dari Bandung, juga datang dari keluarga Jakarta serta keluarga disekitar luar Wangon, kami tidak sempat mengetahui lebih detil mengingat waktunya.
Setelah makan malam yang telah disiapkan ibu-ibu stasi wangon dengan nasi bungkusnya yang sungguh nikmat dan praktis, kami bersama-sama pergi ke Gua Maria yang lokasinya dekat sekali dengan susteran.
Pkl. 20.15, kami berdoa masing-masing dipelataran Gua Maria, yang hadir saat itu cukup banyak sekitar 50 orang termasuk anak-anak dan remaja.
Pada saat kami berdoa, pak Pujono melihat # lilin paskah, selanjutnya wanita pake jubah putih ber-syal segi empat serta memakai mahkota, # (Suster Kus melihat seorang putri bebaju putih dan bermahkota - sama dengan yang dilihat pak Pujono) suara terdengar “ aku sembahen disik”, “ wis mundura.” (= aku sembahen dulu, sudah mundurlah,) namaku Dewi Kitri) Lalu duduk bersila “Jenengku Dewi Kitri. isaku mung pepulih, amargo Bunda durung rawuh” (namaku Dewi Kitri, bisaku hanya …………………. , karena Bunda belum dating)
Penglihatan selanjutnya antara lain:
- white board yang belum ada tulisannya ,suara terdengar "isinen tulisen jenengmu ." (= tulislah namamu) kemudian white board tak terlihat lagi.
- Bunda rawuh, Suara yg terdengar "Aturno disik panyuwunmu" (= Sampaikan permohonanmu) kami semua berdoa menyampaikan ujub masing-masing, kemudian bunda menjawab "Yo wis tak cukupi, di syukuri" (= ya sudah tak cukupi, di syukuri) Suster Kus terdengar suara "panyuwunmu sing mantep" (= permohonanmu yang mantap) suara berikutnya terdengar " Iki mung ana lilin kecil, sedoten" (= Ini ada lilin kecil, sedoten) - kami semua yang hadir menyedotnya secara rohani.
- Bunda melemparkan lilin ke arah belakang dan diterima oleh seorang ibu yang hadir memake jaket hitam - . Lilin merupakan lambang padang bagi yang mendapatkannya. Suara bunda " Saiki aku mau maju, coba delengen, aku wis cedak enggal ngomongngo”. (= sekarang aku ke depan, coba dilihat!, aku sudah dekat bicaralah!) - Yang hadir menyampaikan ujubnya satu persatu dan langsung dijawab oleh bunda melalui pak Pujono. Hal ini tidak kami tulis karena merupakan privasi bagi yang hadir.
- Trlihat oleh pak Pujono serta suster Kus, kemaluan laki-laki , terdengar suara “sedoten kanggo sing durung duwe keturunan” (= sedotlah, buat yang belum punya keturunan)
- tape sepotong, kami bertanya buat apa tape tersebut?? Jawaban “Di anggo ngresiki sing keno setan.” (= buat membersihkan yang kemasukan setan)
- Kipas, seperti ngipasi sate, suara terdengar "sabaro ndisik, oncek ana” (= sabarlah dulu, kupas dulu maknanya) selanjutnya terdengar “orang sakit sing nyembuhne sang yang Romo lantaran sang yang putro kang manjalmo” (= Orang sakit itu yang menyembuhkan Allah Bapa, perantaraan putra-Nya)
- Bulan di arah barat, - kami bertanya - tanya mengapa bunda hadir selalu dari arwah barat ??
- Tulisan # Good on litle …………………….. ( suster Kus: meskipun kecil Tuhan selalu ada dalam kehidupanmu) suster Kus melihat tulisan # mery is your mother goo on slowly#
- Terlihat ada orang besar hitam berkalung salip warna hitam kemudian salib tersebut berubah menjadi kuning - ( Seorang anak gadis 12 -13thn melihat Hati Kudus Tuhan yesus , suster Kus , melihat di dada orang meneteskan darah ) suara terdengar “ Gusti manungalo kalian kito sedoyo” (= Tuhan beserta kita sekalian). Pak Pujono, suster dan anak tersebut melihat Tuhan Yesus tersalib dengan lutut tertekuk, ada tulisan # ………. ND.# terdengar suara “tegese Roh Allah wis kumpul karo Gusti Yesus” (pada saat disalibkan Roh Allah menyatu dengan Tuhan Yesus - Roh Allah ada pada-Ku ).
- Pincuk - lambang Rezeki , kemudian terlihat tongkat komando terdengar suara “berdirilah yang mau minta” ( ada 2 umat yang hadir berdiri , tongkat tersebut diberikan pak Kuat Dari Banjar .
- Orang laki - laki ( mbah urip ) suara yang terdengar “aku diutus Gusti aku arep ngriski lingkungan kene (= Aku diutus Gusti Yesus, aku mau membersihkan lingkungan sini) - Terlihat mbah Urip mengelilingi sekitar Greja dan Gua Maria dengan arah berlawanan arah jarum jam
- Suster Kus, melihat Cahaya terang dari sebelah barat kemudian berpindah keatas tepat diatas kami berkumpul, selanjutnya cahaya berubah seperi selendang kuning kemudian berubah lagi terurai menjadi selendang yang banyak seperti hiasan panggung kesenian - Romo Toto : selendang itu memberikan gandulan bagi keselamatan kita Suara yang terdengar “podo ngadego kabeh nyekelo” (ayo semua berdiri, peganglah!) - kami semua berdiri dan memegang selendang tersebut secara Rohani . suara yang terdengar “kabeh wus tak angkat” (= semua sudah terangkat)
- Pa Pujono dan Suster melihat Kemah Allah yang digambarkan seperti kotak segi empat beratap Dom ( batok mengkurep ) dengan subuah pintu yang gelap ( satu jalan yang gelap) suara yang terdengar “tanpa penjaga” . “ sing jogo durung ono sebabe durung ono sing dipangil Gusti’ (= yang jaga belum ada, karena belum ada yang dipanggil Gusti) – Kemah Allah, pengertian kami merupakan suatu tempat berkumpulnya para orang suci, atu dengan kata lain Kemah Allah = Sorga.
- white board besar berkaki disebelah kiri gua. suara terdengar “jenengmu tulisen eneng kono “ (= tulislah namamu disitu) - kami semua menulis nama masing - masing yang hadir , terdengar suara “wis kabeh mlebu neng kono “. (= sudah semuanya masuk disitu) - kemudian terdengar suara “tulisen jenenge sing mbok arep di slamet ake …………” (= Tulislah nama yang akan kamu selamatkan) - kami semua menulis nama orang yang mau diselamatkan .suara terdengar “ Dalan padang wis ono gari nggonmu kupokoro ben …… katenger karo sang yang Romo , minimum dosane diampuni” (Jalan terang sudah ada, tinggal kamu ……… biar …………… terlihat oleh Allah Bapa, minimum dosanya diampuni)
- Ada orang laki-laki, badannya kurus tak berbaju, Suara yg terdengar “Aku sing dadi tetunggulmu , aku kan bakal ngaturake, Aku kan mimpin kowe besok , Tutwuri neng mburiku tak aturke ……… intine - isine slamet / munggah” (= Aku yang menjadi patokanmu, aku akan menghantarkan, aku yang memimpin kamu besok, Tutwuri dibelakangku tak hantarkan ……. Intinya selamat/ naik”)
- Salib disenderkan di pintu kiri gua – tidak ada kelanjutannya
- Terlihat sukmanya Romo Budi …………. , belio duduk terpisah dan lebih tinggi dengan kami, mengapa demikian?? Romo adalah gembala dan kami umatnya. Suara terdengar “Gusti ndurung rawuh, aku piket” (= Gusti Yesus belum dating, aku piket/jaga)
- Terlihat simbul mata, selanjutnya terlihat kendi yang berisi, suara terdengar “minta suster Kus berdoa” – suster Kus berdoa untuk kehadiran Tuhan Yesus
- Terlihat Lilin besar belum menyala, yang hadir diminta menyalakan. Terdengar suara “Rungokno percikan banyu” (=Dengarkanlah suara percikan air) suara berikutnya “jukukno banyu ndang tak berkati lan di ombe” (= ambil air, tak berkati, dan minumlah) - Kami yang hadir minum air yang telah diberkati secara rohani tersebut semuanya.
- Terlihat ada Sapi – lambing bebakulan / kawan nyambut gawe (= kawan usaha-bisnis) suara terdengar “aku sedoten kanggo konco pangupo jiwa” (= aku sedoten buat kawan mencari nafkah)
- Terlihat cincin besar, terdengar suara “ ya nek ora kanggo tak gantine” (= ya kalo tak diperlukan, aku ganti)
- Terlihat # Cincin terpasang di jari telunjuk kanan. Suara terdengar “ iki unduhen kanggo wong sing kok suwunke kangge omah-omah) (= ambilah buat orang2 yang kamu mintakan untuk berumah-tangga) - pak Pujo menyedotnya dan menyebut nama2 yang mencari jodoh.
- Terlihat #Anak Domba Allah# terdengar suara “ silahkan suster Kus untuk menceritakan Anak Domba Allah” - Suster Kus menyampaikan siapa Anak Domba Allah itu dan apa peran Dia bagi umatnya
- Terlihat Romo membawa sibori, minta kami berdiri untuk menerima hosti, selanjutnya kami disuruh berdoa masing-masing.
- Suster melihat #wajah Tuhan Yesus tersenyum, kemudian lenggah siniwoko (= duduk bersila dalam posisi siap mengajarkan firman)
- Terlihat perempuan membopong anak kecil – suster Kus berdoa agar penampakan tersebut segera terwujut. Terdengar suara “wis bopongen gawanen mulih” (= boponglah dan bawa pulang kerumah) - saya menyedotnya untuk anak saya yng belum punya keturunan. Pak Pujono melihat perempuan tersebut menyerahkan anak ke saya. Trimakasih!!!
- Penglihatan terakhir ada kendang
Pkl. 00.30 tanggal 21 Juli 2012, komunikasi rohani kami tutup dengan doa, namun sebelum bubar kami- peziarah dari Bandung, Jakarta dan Jogja bersama suster Kus, serta beberapa warga stasi Wangon termasuk ibu Nining (ahli waris lahan tersebut) berdiskusi perihal rencana Paroki Purwokerta yang membawahi stasi Wangon, untuk merehap taman Gua Maria Sendang Beji yang saat ini kondisinya cukup memprihatinkan.
21 Juli 2012
Pkl 09.00 mengikuti Misa khusus di Gereja St.Paskhalis – Wangon, dipersembahkan oleh romo Totok Puji dari diosen Keuskupan Padang.
Yang terlihat oleh pak Pujo, saat misa dimulai terlihat lambang Anak Domba Allah, berubah menjadi gambar 3 bulatan yang menyatu – lambang Tri Tunggal Maha Kudus serta terlihat sosok laki-laki sepertinya Simbah Kakung – pak Mardayat sesepuh Durpo yang telah meninggal pada Maret 2012.
Pada saat pembacaan I yang dibacakan oleh seorang ibu memakai kaos putih/kombinasi merah, Lektor tersebut terlihat secara rohani, memakai ABBA serta tutup kepala/kerudung seperti yang biasa digunakan oleh para suster. Demikian juga romo yang sebelumnya memakai jubah hijau, pada saat bacaan I, terlihat duduk di sebelah kiri tarbenakel dengan memaki pakaian biasa / bukan pakai jubah hijau – sebagai pendengar firman.
Pada saat bacaan Injil, terlihat romo berjubah hijau seperti saat saat awal misa serta muncul kembali bulatan – lambang Tri Tunggal Maha Kudus. Terlihat juga Romo didampingi anak kecil tanpa paki baju (telanjang bulat).
Higga misa berakhir, tidak ada pesan dawuh dari yang kudus. Saya – Sumeri mewakili rombongan dari Bandung, Jakarta, Jogja serta Banjar mohon pamit untuk meneruskan perjalanan ke Ganjuran
Trimakasih saudaraku warga stasi St. Paskalis – Wangon, semoga berkat Tuhan Yesus Kristus selalu beserta kita – Amiiin.
Sejak misa selesei hingga pukul 12.00, sementara pak Pujono sibuk melayani umat baik yang warga Wangon serta luar wangon (Jakarta, Pekalongan, Banjar serta daerah lainnya) yang meminta bantuan / konsultasi perihal keluarga, kesehatan serta iman dengan yang kudus, dll). Kami bersilaturahmi dan mempersiapkan / berkemas untuk perjalanan selanjutnya.
Setelah makan siang di susteran, kami dan beberapa umat yang masih berada di susteran berdoa di pimpin oleh suster Kus dan berkat oleh Romo Totok Puji. Kemudian mohon pamit, terimakasih Suster Kus!
Pkl. 12.30, kami – pak Pujono, pak Priyanto, pak Yohanes Mare, pak Rusdi serta saya-Sumeri, berangkat ke GM Candi Ganjuran, sementara yang lainnya pak Yohanes BP, pak Suharto, pak Suroto dan pak Kiat, berangkat ke Banyumas untuk menjemput ibu mertua pak Suharto yang selanjutnya pulang ke Bandung telebih dahulu mampir ke Banjar.
Pkl. 17.00 kami tiba di Ganjuran, setelah istirahat kami menuju Candi Ganjuran dan berdoa secara pribadi masing-masing.
Yang terlihat: sekuntum mawar merah – lambang Bunda Maria, serta terlihat seorang berhidung mancung memakai baju keprabon dengan kuluk (kopyah bundar Kerajaan) suara yang terdengar “ Abraham Lincoln, aku diutus oleh Gusti untuk menjaga keamanan di Ganjuran.”
Selanjutnya terlihat orang memakai gelang besar, beberapa buah cicin kawin yang tertancap di paku besar. Serta seorang ibu yang mengajari anak kecil berdiri.
Sewaktu kami berdoa di dalam candi, yang terlihat pada masing2 pribadi al:
- Pak Yohanes Mare – di beri gelang dan disuruh pakai. (gelang – lambang rejeki)
- Pak Priyanto – garpu tanah / alat pertanian.
- Saya-Sumeri – diberi spoon bedak untuk anak-anak.
- Pak Pujo - ……………….. tampanen ndang gawanen mulih.
Dalam obrolan saat perjalanan dari Wangon menuju Ganjuran, kami bersepakat untuk berkunjung dan kalo memungkinkan menginap di Padepokan Puri Brata yang diprakarsai oleh Romo Rochadi Widagdo Pr. Di Desa Kalimundu – Gadingharjo -Sanden, Bantul , Jogjakarta -55763, Tlp 0274-6915864. Website:www.puribratameditation.or.id E-mail: Info@ puribratameditation.or.id
Romo Totok mengontek pak Cahyo 08157990679 – pengelola puri, belio dengan sukacita menerima kami.
Pkl. 20.00, kami tiba di Puri Brata, setelah ngobrol kesana-kemari dengan pak Cahyo-pengelola puri, kami istirahat di salah satu kamar yang cukup besar lengkap dengan 10 tempat tidur, 2 kmr mandi, 2 WC serta beranda cukup luas bila ingin mengadakan sarasehan serta fasilatas yang lainnya.
Malam itu, kami cukup capek mengingat perjalanan yang lumayan jauh ditambah malam sebelumnya kami sarasehan hingga pukul 12.45 bersama saudara-saudara kami di stasi Wangon sehingga kami sulit berkonsentrasi dan kami isi malam itu ngobrol-ngobrol ringan saja hingga pkl 12.30.
22 Juli 2012
Pkl 09.00, kami misa di salah satu padepokan yang dikhususkan sebagai kapel di Puri Brata, yang dipersemabahkan oleh Romo Totok, yang hadir saat itu kami ber-enam ditambah 2 orang staff Puri Brata.
Saat akan memulai misa terlihat Santo Petrus dengan tongkatnya di cantolkan di pundak kiri serta jubahnya yang acak-acakan. (mungkin hal ini mengingatkan romo Totok yang pake jubah tanpa pake ikatan tali …………………..)
Terdengar suara “Aku tak mundur” terus terlihat misdinar membantu romo.
Pada saat konsekrasi, terlihat Santo Petrus memakai jubah yang model jubahnya tidak seperti yang ada di Indonesia – mungkin model kedaerahan dengan warna hijau. Sedangkan romo Totok terlihat secara rohani di dadanya ada bulatan seperti simbol Tri Tunggal Maha Kudus dan ditengah-tengahnya ada salib serta terlihat sinar terang diatasnya yang menyelubungi romo Totok. Suara yang terdengar “Puri ini Puri Puspasari” simbulnya seperti lambang Adidas – peralatan olah-raga. Penglihatan selanjutnya #Anak Domba Allah dan terlihat hosti besar yang masih utuh serta gulungan firman yang digulung# – pewartaan / misa sudah selesei. Amiin.
Nama dan lambang puri ini saya sampaikan ke mas Cahyo – pengelola Puri. Lambang Adidas 3 helai daun/bunga teratai, bila dihubungkan dengan konsep awal pembangunan puri ini, sangat tepat, yakni
1. Nuansa Manusia dengan manusia,
2. Nuansa Manusia dengan alamnya,
3. Nuansa Manusia dengan Sang Penciptanya.
Selesi misa, kami sarapan pagi, dalam obrolan pak Priyanto mengusulkan mampir ke Sendangsono, terakhir belio ke Sendangsono tahun 1968, jadi sekalian bernostalgia, kami bersepakat ke Sendangsono karena rencana perjalanan kami hari ini ke rumah pak Pujono di Sewon –Bantul, terus ke rumah romo Totok di Muntilan, jadi memang searah.
Pkl. 10.30, Kami pak Pujono, pak Yohanes Mare, pak Priyanto, pak Rusdi, romo Totok serta saya-Sumeri – pamitan sama pengelola puri – mas Cahyo bersama staffnya, selanjutnya menuju ke rumah pak Pujono.
Dalam obrolan santai di rumah pak Pujo, kamiminta pada yang kudus untuk lambang pribadi kami masing2. Lambang-lambang tersebut sengaja tidak kami tulis, biarlah mereka mencernakan sendiri lambang baginya.
Pak Pujono mendengar suara “kowe ojo ngikuti senengmu dewe ……………………” – semula pak Pujono memang tidak ikut menyertai kami ke Sendangsono, hal ini disampaikan saat perjalan dari Puri Brata menuju rumahnya. Akhirnya Puji Tuhan pak Pujono menyertai kami dalam penziarahan selanjutnya.
Sekitar pukul 11.00 kami berangkat ke Gua Maria Sendangsono, dalam perjalanan pak Pujo bertanya pada saya mumpung masih disini apa tidak mampir ke tempat ibu Etty Supriyono? - kawan saya sewaktu masih kerja di Dumai dahulu, dan kami bersepakat mampir dulu.
Di rumah ibu Etty kami bertemu suaminya pak Supriyono serta 3 anak gadisnya dan 1 anak laki-laki keponakannya dari Dumai yang kuliah di Jogja. Kami disambut dengan sukacita oleh keluarga tersebut, setelah makan siang, kami berpamitan untuk melanjutkan perjalanan ke Sendangsono.
Pkl. 15.00, Kami pak Pujono, pak Yohanes Mare, pak Priyanto, pak Rusdi, romo Totok serta saya-Sumeri, sampai di Gua Maria Sendangsono. Setelah berdoa bersama dengan ujub masing-masing, romo Totok, pak Rusdi serta pak Supriyanto meninggalkan kami bertiga saya-Sumeri, pak Pujono serta pak Yohanes Mare.
Setelah kami merenung sebentar, pak Pujo melihat ada orang perempuan kurus pakai baju penari srimpi, penglihatan selanjutnya perempuan bawa gendong bakul sedang membakar lilin, tak lama kemudian menghilang,
Kemudian terlihat pengaron/kwali berisi dawet lengkap dengan canting warnah merah beserta tumpukan gelas. Datang laki-laki pakai cawet-celana dalem serta pakai syal di lehernya. Laki2 tersebut memindahkan arah pegangan canting ke arah kami duduk agar kami dapat mengambilnya dengan mudah. Suara yang terdengar “Sing pada butuh nyinduka, banjur di ombe ora perlu di gowo mulih mendak kamanungsan” (= Yang memerlukan silah ambil, lalu diminum, jangan dibawa pulang, berkah hilang).
Terlihat ciduknya sudah diambil – kami menyesal belum sempat mengambilnya, tapi kami percaya bahwa kami belum waktunya untuk menerimanya.
Terlihat # didepan pinta gua, ada air mengalir / terjun yang sangat jernih, running tex # banyu kang mengalir iki banyu suci udinen, ora oleh kongkonan uwong, kudu mara ndewe# (= air yang mengalir ini air suci atau air kehidupan yang harus kamu cari sendiri,tidak boleh diwakilkan, harus datang sendiri)
Bagaimana dengan nama-nama yang kami doakan??? suara yang terdengar “orang yang perlu harus datang, iki kangge kowe bae” (= orang yang perlu harus datang, ini buat kamu saja)
Terlihat Gua, pintu masuk gua terlihat terang, ada running tex #Brigde wall Colorado / Bragde Cannon# ……………………………………..
Kemudian terlihat:
- Kotak kaleng berisi kerupuk, suara yang terdengar “persembahanmu mung segede kerupuk” (= persembahanmu baru sebesar kerupuk)
- White board. “Jenengmu ora perlu di tulis, wis ana” (= namamu tak perlu ditulis, sudah ada) - Dalam penglihatan sebelumnya di GM Wangon, kami diminta untuk nama-nama kami di white board jadi memang tak perlu ditulis.
- Ada orang turun dari kiri gua, sedang menyalakan lilin memakai korek api kayu. Suara terdengar “Sedoten, ambungen, banjur sedot ben masuk” (= Dihirup, dicium lalu di hisap biar masuk) - sinar terang lilin yang menyala ada dalam hati kami, Amin. Suara selanjutnya # Umbaren nanging ojo nganti muspro” (= bebaskan saja, tapi jangan sampe kehilangan maknanya). Untuk apa lilin tersebut??? , jawabannya “Buat tetulung! Ojo pilih-pilih, kanggo sopo bae sing teko” (= Buat menolong! Jangan pilih kasih, siapa saja yang datang minta pertolongan) Terdengar suara lagi “ Kamurkanmu ilangono, sifat kuwi sih ana neng atimu/awakmu mundak dedongamu/panyuwunmu gagal” (= Hilangkan kemarahanmu, sifat tersebut ada dihatimu yang dapat menggagalkan doa-doamu). Hal ini mengingatkan saya pribadi karena dari anggota keluarga saya akan saya tegur/marahin setelah saya pulang – Trimakasih Tuhan, dan saya berjanji tidak melaksanakan niat tersebut.
“Lelungamu iki ono undak-undak ane” (= Ziarahmu ini ada nilai tambahnya), Kami bertanya berapa nilai tambahnya??? Jawabannya “ 2 digit, ya dianggep sing lunga pada” (= 2 digit, dianggap sama nilai bagi pergi)
- Terlihat ada anak laki2 balita telanjang, “balita iki nggoleki kowe tanpanen” (= balita ini mencarimu, terimalah!) – anak tersebut saya sedot, terdengar suara “wis ben ngamplok” (= sudah! Biar terikut!)
- Terlihat makam cina yang ada salibnya. Kami berdoa bersama (pak Yohanes Mare, pak Pujono dan saya- Sumeri) untuk keselamatan jiwa keluarga pak Yohanes Mare yang bernama bapak Suryanto Wijaya, ibu Ho Yu Sie dan adiknya Eva Ratna yang telah meninggal. Terlihat seorang ibu, diikuti laki-laki dibelakangnya ada perempuan lari/berjalan naik keatas. Terdengar suara “ Ayo pak! Di tunggu ana kene “ (= ayo pak! Ditunggu disini). Terlihat orang laki-laki, suara terdengar “ sing kawogran papan kamulyan durung rawuh, entennono aku tak tok-tok, tak ketuk pintu” ( = Yang berwenang dalam kemah Allah / sorga belum datang, tunggulah saya mau mengetuk pintu dulu) - Kondisi ini mengingatkan kami kembali pada saat mendapat pangeram-eram di gereja Sukoharjo-Jateng (lih. Komunikasi Rohani tgl 3 Maret 2009) kami percaya bahwa ketiga jiwa orang yang kami doakan tersebut berada di tempat penantian menunggu di jemput oleh Tuhan Yesus. Puji Tuhan !
- Terlihat bola dunia, dengan gambar/peta yang ditonjolkan Amerika Selatan. Terlihat running tex # berdoalah kanggo Amerika Selatan ben akeh romo# (= berdoalah bagi Amerika Selatan, biar banyak orang menjadi romo/pastor). – kami bertiga berdoa untuk maksud tersebut.
- Terlihat lilin masih menyala, kami bertanya apakah Gua Maria ini masih penuh berkah serta sering dikunjungi Bunda??/ Jawaban-Nya “ Yen Gua Maria iki diresiki, yo balik kaya ngono. Diresiki atine wong kanan kirine. Pada ngambang kurang sujud” (= kalo GM ini dibersihkan secara rohani, ya akan kembali penuh berkat seperti dahulu. Dibersihkan hati/pikirannya orang yang berda di kanan-kiri GM. Mereka kurang percaya). Kami bertanya apa perlu hal ini disampaikan??? Jawaban-Nya “ora usah, kowe mung golek ……………. Kowe mung moro/ nyenyuwun, lakumu bener” (= tidak usah! Kamu hanya mencari ………….. kamu hanya datang menyampaikan permohonan/ doa, Jalanmu sudah benar)
- Pada saat kami berkomunikasi rohani, ada peziarah tiga orang, mereka duduk berdoa dibawah pohon di depan patung Bunda. Secara rohani terlihat # digelarkan tikar untuk mereka bertiga oleh penjual dawet yang sama seperti sebelumnya # suara yang terdengar “kabeh diparingi di kon ngombe” (= semua diberi dan disuruh minum)
- Terlihat #Anak Domba Allah dengan posisi berdiri menyambutnya dengan agresif# lambang ini diperuntukan bagi tiga orang tersebut juga bagi yang baru datang. Kami heran kenapa kok tidak kami disambut seperti itu? Jawaban-Nya “ Kocekmu sih akeh” (= duitmu banyak). Setelah itu terlihat #mistar/penggaris ukuran 30 cm #. terdengar suara “ iki ukurane mung samene, kowe ojo meri” (= Ukurannya hanya segitu, kamu jangan iri)
Komunikasi rohani kami bersama yang kudus di GM Sendangsono, selain dawuh-dawuh yang kami tulis diatas juga ada dawuh tentang bahan-bahan alami yang dapat dijadikan obat kesehatan.
Sekitar pukul 17.30, kami akiri dengan doa penutup, kami selanjutnya menuju rumah romo Totok dan sekitar pkl 18.00 kami tiba dirumahnya, setelah bersilahturami makan malam kami berpamitan , diantar oleh romo Totok sampe di jalan besar. Terimakasih Romo Totok !!!, Semoga Rahmat Tuhan bersamamu”
Kami menuju airport, mengantar pak Yohanes Mare untuk pulang ke jakarta, selanjutnya mengantar pak Pujono ke rumahnya.
Sekitar pkl 19.00, kami pak Rusdi, pak Priyanto serta saya-Sumeri berangkat pulang ke Bandung, sampe diBandung sekitar pkl 04.00 tanggal 23 Juli 2012.
Terimakasih Tuhan Yesus atas penyertaan-Mu dalam ziarah kami ini, semoga apa yang kami peroleh dari-Mu ini dapat berguna bagi sesama. Amiiin!!!
Langganan:
Postingan (Atom)