Tempat ini untuk berbagi pengalaman, mungkin cenderung yang lebih rohani.Pengalaman tersebut belum tentu bisa diterima oleh orang lain, namun itulah yang namanya pengalaman pribadi. Tidak harus sama dengan orang lain.
Jumat, 31 Januari 2014
Ziarah ke Lembang
19 Juli2013
Jumat pagi pagi kami bertujuh berangkat ke Lembang. Aku, nyonya, pak Sumeri sekalian, pak Pudjono, bu Sri Yohanes dan bu Asngadi sengaja akan mengikuti perayaan Ekaristi, yang dilanjutkan dengan Adorasi.
Perayaan Ekaristi dipimpin oleh pastor Sunarto dan dilanjutkan dengan pentahtaan Sakramen Maha Kudus. Dari awal perayaan, sepertinya imam didampingi oleh seorang pastor yang mengaku bernama pastor Wang Yun Zen. Entah dia berasal dari mana, kami lupa menanyakannya. Kalau Jumat sebelumnya, yang mendampingi imam adalah pastor F.X. Sutardi yang katanya berasal dari mBoro Kulon Praga.
Sambil istirahat, kami sempat ngobrol dengan pastor Sunarto yang berasal dari Puworejo. Beliau kebetulan pastor paroki di Lembang.
Selesai ibadat, sepertinya para ibu kurang bergairah untuk meneruskan dengan ibadat jalan salib. Akhirnya kami hanya berkeliling di jalan salib, ada yang serius ada yang hanya ikut berjalan saja. Yang jelas, kami tidak melakukan ibadat jalan salib seperti pada umumnya.
Dari awal sebenarnya kami didampingi oleh ki Wahyu Dumadi. Namun niat sudah terlanjur kendor. Kami mengajak apakah mau ibadat atau hanya jalan jalan saja, tidak ada jawaban yang meyakinkan.
Ternyata di pemberhentian pertama, yang terlihat oleh pak Pudjono adalah lilin yang belum menyala. Bu Asngadi juga bisa melihat dan mendengar, walau sebagian.
Di pemberhentian kedua yang terlihat Alkitab yang dibuka. Bu Asngadi mendengar bahwa itu di Injil Matius. Kemudia seseorang yang memakai sarung, yang sedang berjaga disitu. Yang terjadi malah pak Sumeri sepertinya ngrogoh sukma..
Di pemberhentian ketiga. terlihat lagi lilin belum menyala, dan bende/ gong kecil yang tengkurab. Pak Pudjono mendengar suara :”Babeku kudus.” Pak Sumeri bertanya, siapakah yang dimaksud, karena aku dirumah memang dipanggil babe. Aku menjawab bahwa ada tertulis “Abba ya Bapa.” Jawaban yang didengar :”Bapakmu sing suci.”
Di pemberhentian keempat yang terlihat malah agak aneh. Seekor anak domba berbulu abu abu kehitaman, namun ekornya panjang. Ditengah diorama terlihatseperti buah atau sebutir telur, berwarna kemerahan muda agak kekuningan. Disini kita diminta hati hati, jangan jangan penglihatan tersebut adalah roh pengganggu. Sewaktu ditanya, anak domba tersebut mengaku bernama mBah Jabrang.
Beberapa saat kemudian terdengar suara :”Unggahna aturmu.” Sesaat kemudian diteruskan :”Paningalmu kurang adoh.”
Sejenak kemudian terlihat seperti seorang perempuan yang datang, yang kalau melihat cara pakaiannya, dia bukan dari suku Jawa. Kami hanya berjalan terus saja.
Di pemberhentian kelima, yang terlihat ki Wahyu Dumadi sudah duduk disitu. Suara yang terdengar :”Pelipur lara.” Bu Asngadi mendengar :”Penghibur yang duka.”
Kemudian terlihat seperti gulungan kertas atau kulit. Sesaat kemudian datanglah seseorang yang bertelanjang dada, disampingnya seorang anak kecil yang menyertainya. Seseorang tersebut mengaku bernama pak Supadi.
Pak Supadi bersama anak kecil malah mendahului berjalan ke pemberhentian keenam dan berada di atas diorama.. Kemudian ki Wahyu Dumadi bersuara :”Sing jelas ora gawe gela. Mung dedongaa wae.”
Di pemberhentian ketujuh, sepertinya ada suara :”Boma … Boma…” Kami bertanya apa maksudnya, lkarena seperti Jumat sebelumnya ada suara Boma juga. Suara yang terdengar :”Kanugrahan. Barang aneh dadi kanugrahan.”
Di pemberhentian ke delapan sepertinya sepi walau ada bayang bayang yang tidak jelas. Selanjutnya kami menuju ke pemberhentian kesembilan. Yang terlihat sepertinya sebuah menara tinggi berpilar empat, modelnya hampir seperti menara Eifel. Kemudian terlihat lilin lilin kecil menyala yang semakin pendek. Lilin lilin tersebut dibagikan kepada kami satu persatu..
Di pemberhentian ke sepuluh, sepertinya terlihat simbul tempat minyak wangi. Beberapa orang mengatakan bahwa ada bau harum di sekitar atau didepan diorama. Pak Supadi sudah berda disitu duluan. Kemudian terlihat simbul lilin yang dikerok, kemudian diampelas. Menjawab pertanyaan kami apa maksudnya, terdengar suara :’ Diilangi reregede, diilangi murkane, angkuhe. Dadia pandhegane urip langgeng.” Setelah itu seperti terlihat simbol seperti nasi timbel yang dibungkus daun.
Di pemberhentian ke sebelas. terlihat seperti aliran air dari atas, persis penglihatan yang di Totombok Kuningan. Kemudian bu Asngadi merasa kecipratan air, yang berasal dari belakang. Kemudian pak Pudjono melihat tulisan Iesu ses, dibelakang ada simbol bunga putih, piala yang tinggi, sibori tertutp kain, dan salib. Sewaktu kami menanyaka maksud simbul simbul dan air mengalir, suara yang terdengat :” Iesu ses kuwi Yesus mligi.. Lha yen air mengalir kuwi tegese berkat Tuhan yang melimpah.”
Pak Pudjono melihat sepertinya banyak orang sedang mengantri ingin masuk ke sebuah pintu berwarna gelap kehitaman, yang bangunannya berkubah.
Di pemberhentian keduabelas, terlihat sepertinya banyak anak domba. dibawah salib yang terlihat ada seseorang yang bersorban sedang menatap kepada para domba.
Di pemberhentian ke tigabelas, pak Supadi dan sianak kecil masih menemani dan mendahului datang. Kemudian diatas terlihat simbol pisang sesisir yang sudah dipatahkan.
Dipemberhentian keempatbelas terlihat sabuk ikat pinggang. Kami cukup lama berbincang di sini. Bu Asngadi malah melihat mbah kakung yang berdiri didepan banyak orang berpakaian jas hitam. Kemudian terlihat juga pak Asngadi.
Kami mengucap syukur dan terima kasih kepada Tuhan, atas karunia yang kami terima selama ini.
Kemudian kami kembali ke Bandung.
Wahyu Dumadi
Wahyu Dumadi
15 Juli 2013
Senin malam aku sudah ditunggu pak Sumeri di rumah pak Pudjono. Sore itu hujan cukup lumayan deras, sehingga becek dimana mana. Pak Sumeri ingin melanjutkan hasil komunikasi rohani pada Minggu malam, yang terpotong karena ada keluarga yang membutuhkan kami.
Setelah membaca hasil ziarah di Lembang, pak Sumeri bertanya, siapakah sebenarnya “orang yang betelanjang dada duduk bersila” yangselalu terlihat sewaktu ibadat jalan salib di Lembang. Malam ini rasanya begitu mudah berkomunikasi. Pak Pudjono bertanya dan melihat seseorang yang duduk bersila tanpa pakaian, namun tidak jelas wajahnya. Bukan laki laki dan bukan perempuan.
Suara yang terdengar :”Sing lenggah siniwaka arane Wahyu Dumadi. Sing oleh Wahyu Dumadi ing ajaling mengko, sapa wae kang pirsa lan gelem kanggonan. Gampangane bakal dituntun dening panjenengane. Ya Wahyu Dumadi iki sing nuntun, banjur kaaturake marang Gusti.”
Kemudian seperti Wahyu Dumadi yang berbicara :”Cekak aten, tak tuntun bareng aku kang wus pirsa nalika Gusti Yesus jumeneng nata ingkang nunggal kaliyan Sang Hyang Roh Suci, medhar linggih nampi ingkang sampun dumugi wonten Ngarsanipun. Gampilipun kepareng ndherek Gusti. Kuwi ta sing kok goleki? Aja lali, critakna utawa dongengna marang wong akeh.”
Kami bertanya, apakah Wahyu Dumadi hanya bertempat di pertapaan Carmel.
Jawaban yang terdengar :”Wahyu Dumadi, papan ana ngendi wae bisa, ananging ingkang gampil wonten griya Alpabet utawi griya pertapaan. Lan malih wonten padhepokan Giri Wanti.”
Kami bertanya arti dari Giri Wanti, dan jawaban yang terdengar :”Padhepokan wong wani ngelih, nggone wong sunyi, sepi penggalih. Ya kuwi jenenge kahyangan.”
Kami bertanya apakah Wahyu Dumadi sama dengan malaikat pamomong. dan jawaban yang terdengar :”Sak perangan dudu, ananging leres. Malaikat Pamomong kuwi dudu Wahyu Dumadi, ya malaikat.”
Kami bertambah bingung dan bertanya apakah hanya muncul sewaktu kami meninggal?
Gambaran yang dilihat pak Pudjono, Wahyu Dumadi berjalan bersama kita, sedangkan malaikat Pamomong berada diatas, disamping Tuhan Yesus.
Kami penasaran dan bertanya, siapa sebenarnya malaikat pamomong itu?
Suara yang terdengar :”Malaikat Pamomong roh ingkang suci, ingkang ngreksa sak sintena kemawon. Dadi gampangane kabh uwong direksa malaikat. Ora siji, ya bareng ya dhewe dhew. Angel ta tembunge. Malaikat kuwi ngreksa awake dhewe, ya wong akeh, ya sesarengan. Ya diwastani kanggo aku ya kanggo kana kana.”
Pak Pudjono bertanya, apakah Wahyu Dumadi itu sama dengan yang dilihat di Sukaharja, seperti anak kecil yang telanjang? Suara yang terdengar :”Bener tur jajag.”
Kami merenung dan ngobrol apakah Wahyu Dumadi itu hanya satu atau banyak sekali. Kami mencoba membayangkan dengan akal kami dan akhirnya bertanya. Suara yang terdengar :”Bapa Wahyu Dumadi kuwi mung jeneng lan werna werna. Roh kang diutus dening Allah, tumrap wong kang seda. Kabeh nggoleki dhewe dhewe, bisa ketemu dewe dhewe, manut gambarane lan kiblate dhewe dhewe. Umpamane ana wong 500 manca, ya bapa Wahyu Dumadi ana 500 manca.”
Apakah dengan banyaknya agama, gambarannya bisa berbeda beda? Dan suara yang terdengar :”Gampangane ya mengkono, gampangane sing isa nyuwargakake dhewe dhewe..”
Bagaimana dengan orang yang meninggal dan masuk neraka? Jawaban yang terdengar :”Aku dudu bagian neraka. Tugasku sing ora kesingse (kesingsal), sing ndalan. Nek kamurkan aku ora ngerti.”
Kami bertanya kepada bapa Wahyu Dumadi, mengapa jawabannya ada yang menggunakan bahasa krama inggil dan ada bahasa ngoko? Jawaban yan terdengar :”Nek basa (krama inggil) kuwi wigati. nek ora basa, kuwi mung keterangan.”
Kami bertanya bahwa pengalaman rohani di Sukaharja ternyata ada yang diterima Gusti Yesus, namun ada juga yang tidak diterima Gusti sendiri; dan Santo Yusup yang menghadapinya. Apakah yang tidak diterima itu yang masuk neraka? Jawaban suara yang terdengar :”Neraka dudu urusanku. Kelompok kelompok kuwi kasebut kelompok katimbalan. Becike ana pengarep-arep ning kurang jangkep. Durung bisa kaangkat wektu kuwi. mBesuk yen ana wreditama katimbalan malih dening Gusti. Batesku mung tekan kene.”
Pak Pudjono bertanya bagaimana dengan pak Mardayat dan pak Saan yang sudah sampai pelataran, dimanakan bapa Wahyu Dumadi? Suara yang terdengar :”Kelompok mbah kakung kuwi mengko lewat aku. Dikumpulake ana kemah Allah. Pokoke wis tekan kemah Allah, kari nunggu Gusti Yesus rawuh. Kuwi dudu Papan Pangentosan. ning Papan adhem Ayem, Papan Rubegda, papan ora kuciwa.”
Kami bertanya sesuatu yang dijawab :”Ora, padha. Bedane aku ora sah nggoleki wis tekan dhewe. Jelase dalan menyang karahayon Dalem ora mung tunggal.”
Kami dibuat kaget dan bingung sewaktu bertanya dalam sahadat para rasul bahwa Tuhan Yesus turun di tempat penantian. Jawabanya cukup aneh :”Papan Pangentosane ora ana. Gusti Yesus menika wonten nginggil.”
Lha sebenarnya bagaimana? Jawabannya kembali lagi membikin bingung :”Ora ki, Gusti Yesus langsung tetep jumeneng nata. Kanggone angger angger seda, ning ora seda. Seda tumrape manungsa, ning ora seda kaya manungsa. Gampangane seda kanggone manungsa, ora seda kanggone Gusti. Lahiriyah seda, carane manungsa oncat nyawane. Kanggone Gusti ora pisah, ora uwal, isih tetep dadi siji. Jiwa lan ragane nunggal. Jiwa ragane yektos isih manunggal. Gampangane ora isa oncat nyawane.”
Pak Sumeri penasaran dan bertanya apakah bapa Wahyu Dumadi itu berasal dari manusia ataukah dari roh? Jawabanya singkat :’Wujude uwong ning dudu uwong.”
Aku juga bertanya, sebenarnya malaikat itu bersayap atau tidak? Suara jawaban yang terdengar :”Gambaran akal kudu nganggo suwiwi. Gambaran kapercayan lugas; gambaran asli kahanan kang ora kawetu. Ya kaya ngono kuwi.”
Pak Pudjono bertanya tentang kepercayaan Budha seperti yang di candi Barabudur, bagaimana penjelasannya. Suara jawaban yang terdengar :”Pemimpine, pinunjule agama Budha ketemu aku, banjur diwujudake, dipapanake. Banjur dipamirsakake; banjur dijenengke, digrahitaake, wujude mengkono.”
Apakah reinkarnasi di dunia ini ada? Jawaban yang terdengar :”Kuwi karangane sapa? Khalayak rame nganggep ana, ning ora ana. Khalayak rame nganggep isa, ning ora isa. Sing ana, jenenge badhar. Yen uwong ora ana sing isa.”
Jawaban tentang karunia :’Kanugrahan kuwi saben uwong ana, ning beda beda.”
Pak Pudjono bertanya mengapa malam ini tidak ada penampakan simbol yang berkaitan dengan Tuhan Yesus. Jawaban yang terdengar :”Gampangane sing ana, sing rawuh sing diutus.”
Malam semakin dingin dan kantuk mulai merasuk. Kami mengucap syukur dan berterima kasih akan pengalaman komunikasi rohani ini. Berkisar jam sebelas lebih kami pamitan pulang.
Sembahyang 4 Juli 2013
4 Juli 2013
Kamis malam dalam suasana hujan rintik rintik, kami keluarga Durpa berkumpul di rumah mas Marselus (Ilut) dan Tina. Yang datang aku, pak Pudjono, pak Abraham, pak Sumeri, pak Sumadi, pak Yohanes BP, keluarga mas Totok.
Dalam penglihatan pak Pudjono, ternyata hadir juga roh pak Mardayat, pak Saan dan seorang perempuan China bernama Valentin Dwi. Kemudian terlihat lilin kecil menyala. Kami masih ngobrol kesana kemari dan berkisar pukul 21.00 kami semua berdoa Rosario maupun safaat secara spontan. Aku sendiri mendoakan mbak Atik dan mas Tjiptadi yg sedang sakit. Aku sudah diberitahu pak Pudjono bahwa ada simbul anglo untuk mbak Atik. Maka aku hanya bisa berdoa pasrah, apa yang terbaik buat yang bersangkutan (berkisar jam empat pagi ada telepon dari Jakarta bahwa mbak Atik sudah dipanggil yang kuasa)
Selesai berdoa, pak Sumeri bertanya apakah masih perlu mendoakan bagi mereka yang sudah ketahuan berada di kemah Allah. Suara yang terdengar oleh pak Pudjono :”Ora susah wae, wis slamet, becike ndonga kanggo sing liya wae. Aditya isih adoh, ora ketok.”
Kemudian pertanyaan pribadi saling disampaikan, yang sebagian besar berkaitan dengan kebutuhan duniawi. Percakapan ini begitu rame yang tahu tahu sudah melewati tengah malam. Hujanpun masih berlangsung, walaupun pak Sumeri sudah mengajak untuk menutup pertemuan.
Berkisar jam satu pagi, pak Pudjono seperti melihat Bunda Maria hadir walau hanya sejenak. Semua diminta untuk berdoa dengan kebutuhan masing masing melalui Bunda Maria. Setelah Bunda pergi, terlihat seorang perempuan yang berkebaya cukukp ketat, entah siapa orang tersebut. Dalam doa, mas Totok seperti melihat Bunda Maria sedang menutupi seorang anak kecil yang telanjang. Pak Sumadi melihat pelangi dan pohon kelapa.
Beberapa saat kemudian pak Pudjono sesuatu yang gelap berwarna hitam, selanjutnya berubah menjadi orang yang cukup langsing sedang lenggah siniwaka. Setelah disapa, orang tersebut berubah menjadi lilin kecil yang menyala, di belakangnya ada salib tanpa corpus.
Suara yang terdengar :”Sinaring jagat kang adi. Bengi iki kowe nemoni; tegese pinanggih kaliyan aryanipun Gusti Yesus piyambak. Milanipun mboten Gusti piyambak ingkang tedhak.”
“Jagatmu kudu koq rubah; kowe kudu bisa dadi sinaring jagat. Kowe kudu bisa dadi tuladhaning …..”
Pak Pudjono bertanya, apa bedanya lilin paskah yang besar dengan lilin kecil, dan ada suara yang terdengar :”Lilin Paskah namung ubarampe. Lilin kecil malah sinar kang adi..”
Kemudian terlihat salib yang cukup tnggi dengan corpus, warna kehitaman. Dibawah salib terlihat seperti huruf “X”
Suara yang terdengar :”Salib Kristus; “X” kuwi kanggo pancatan, kanggo uwong sing nggoleki Kristus, nggoleki buah buah salib Kristus kanggo kowe.”
Kemudian dibawah salib terlihat ada gambaran putih yang mengelilingi salib, yang menggantikan tanda X. Suara yang terdengar :”Kang ajaib, kang mustahil uwis kebedhek; tegese yen kowe bisa nyemplung, … slamet. Ateges ana sajroning lingkaran kebahagiaan dibawah kaki salib Kristus. Gampangane aman ndherek Gusti Yesus. (tanda panah) wis tekan, kabul. Ateges salib Kristus mboten sia sia, ora muspra.”
Pak Pudjono bertanya, apakah yang berkumpul ini juga sudah masuk ke dalam lingkaran tersebut. Suara yang terdengar :”Gampangane oleh.”
Kemudian pak Pudjono melihat simbol cicak berwarna putih, dan suara yang terdengar :”Nguwatake panemumu, ngiyani.”
Karena hujan sepertinya berhenti, kami berdoa mengucap syukur sebagai penutup, yang kami lakukan sekitar jam dua pagi. Aku harus mengantar pak Abraham, sebelum pulang ke rumah.
Menjelang Paskah
Komunikasi Rohani menjelang Paskah
19 Maret 2013
Sekitar pkl. 20.00, kami kumpul dirumah saya – Sumeri, yang hadir antara lain pak Pujono, pak Sumadi, pak Priyono, pak Siahaan, pak Yohanes Budi, mas Sugeng, mas Totok Saan, mas Ilud Saan serta mas Budianto. Kebetulan pak Darmono pas berangkat ke Batam.
Pkl. 21.30 saya buka dengan doa pembukaan dan rencana akan kami teruskan dengan rosario serta dilanjutkan dengan doa safaat, namun karena yang kudus telah hadir yakni Santo Aloysius – pelindung saya, maka doa rosario dan doa safaat kami batalkan.
Santo Aloysius menyampaikan bahwa malam ini belio mengawani kami lek-lek-an. Kami menanyakan sesuatu yang sifatnya pribadi, sehingga tidak perlu kami catat.
Sekitar pkl. 00.30, pertemuan kami tutup dengan doa oleh pak Pujono.
“Trimakasih bapa Santo Aloysius, atas kehadirannya mengawani kami keluarga Durpo dalam lek-lek-an. Semoga apa yang engkau sampaikan pada kami menjadi kekuatan kami dalam berkarya, Amiiin”
24 Maret 2013 - MINGGU PALMA
Pagi ini pkl. 06.00 saya – Sumeri beserta istri saya – Ikah Sumekahsari menjemput bapak/ibu Pujono bersama-sama ke Gereja St. Martinus – Bangunharjo – Jogja. untuk ikut serta merayakan Minggu Palem, yang akan dimulai pkl. 07.30
Sekitar pukul 07.10 kami sudah berada dalam gereja, setelah kami berdoa masing2 untuk menyampaikan puji & syukur atas kesempatan yang diberikan-Nya dan mempersiapkan diri agar kami layak untuk turut serta dalam perayaan ekaristi pagi ini.
Pak Pujono melihat ada seorang laki-laki lenggah siniwoko ( duduk dengan posisi tangan diatas dengkul sedangkan posisi kaki terbuka dan tumit berdekatan/ berhimpit) memakai mahkota raja yang diatasnya ada salib, dan ada tulisan “ V Brother Commendation (?)”.
Berikutnya terlihat kursi kerajaan dan altar, serta Entok yang besar berwarna hitam dengan mulutnya terbuka seperti pakai lipstick. Namanya Dewi Kurantil.
Kami heran kok ada hewan turut serta dalam Ekaristi dan bertanya apa maksudnya? Jawabannya “ Meskipun aku berwujut Entok tapi aku berhak memiliki Allah, berhak hidup kekal koyo kowe, pokok-e Entok ono nyawane” .
Terlihat Lampu gandul kerajaan (blenclong ) menyala, dan ada tulisan “ Boldies of Gamma on live” . Suara terdengar “ Gumpalan2 awan Allah yang hidup, maksudnya Roh-roh Allah ya kuwi gantine Roh Kudus yang hidup kang bakal rawuh mengko dalam misa Kudus hari ini”.
Kemudian terlihat tulisan “ Soldies mama (?)” serta terlihat arak-arakan masuk berpakaian putih dipimpin oleh Santa Ursula yang dipayungi, akan memimpin misa Minggu Palem. St Ursula memakai ikat pinggang hitam yang ikatannya dipusar.
Pada waktu misa berlangsung terlihat;
- Saat bacaan II, terlihat lilin besar paskah menyala.
- Saat bacaan kisah sengsara, terlihat lilin paskah mengecil dan masih menyala.
- Saat bacaan “Salibkan Dia” terlihat lilin kecil dan tulisan PX, serta di altar St Ursula memimpin ibadat.
- Saat renungan, terlihat tabernakel dengan ukuran 50x50cm ada ukir-ukiran warna kuning dan ada tulisan “house state Gamma” dan tulisan GAMMA – gammaliel serta suara yang terdengar “tempat persinggahan Anak Allah” . Lalu tabernakel tersebut berubah menjadi bola bulat 3 buah yang menjadi satu (Lambang Tritunggal Maha Kudus?). Setelah itu berubah menjadi seorang laki-laki lenggah siniwoko di Altar tanpa pakaian. Suara yang terdengar “Pada-Ku ada pengampunan dosa, padha majuo nyembah” St Ursula berada disebelah kanan kursi raja yang kosong.
- Saat pengukupan/pendupaan Altar, laki-laki yang lenggah siniwoko tersebut naik keatas/ mengambang diatas Altar dengan posisi tetap lenggah siniwoko.
- Saat konsekrasi, laki-laki tersebut berada duduk di kursi raja.
- Saat Pastur menyampaikan “ Marilah kita berdoa” terlihat Sibori terbuka.
- Saat kudus-kudus, Sibori sudah berisi Hosti. Dan kudus-kudus berakhir, Sibori ditutup dan dinaikkan keatas.
- Saat Sibori dinaikkan keatas, terlihat Sibori jadi dua yang berisi anggur ditangan kanan dan roti ditangan kiri.
- Saat pernyataan Iman, St Ursula maju ke Altar memimpin, menggantikan Imam dengan mengunjukkan hosti.
- Saat doa Bapa Kami, St Ursula menengadahkan tangan keatas, kemudian maju kedepan memberi salam damai, kemudian kembali ke Altar sebagai imam, Sibori masih terlihat tertutup. Selanjutnya roti dan anggur dalam Sibori, berubah menjadi Hosti besar.
- Saat pembagian hosti, St Ursula tidak turut membagikan
- Pada saat penutupan misa, St. Ursula memberkati umat yang hadir. kemudian dia keluar.
- Saat lagu penutup, terlihat hosti dan lilin kecil, kemudian purificatorium (serbet kecil) mulai dibereskan oleh St Ursula, Serta terlihat tulisan ditengah-tengah salib “How live on Hu, view live human was lost” dan suara “Bagaimanakah kehidupanmu, apa bisa hidup yang los (pasrah) kepada Allah”
- Di meja altar masih terlihat Sibori dan piala bekas anggur, sampai umat memberikan hormat dengan bersujud.
Sekitar pkl. 9 pagi, misa Minggu Palem selesai, kami mengantar bpk/ibu Pujono pulang kerumahnya, setelah bincang-bincang untuk memperbaiki catatan ini, kemudian saya dan istri saya pamitan untuk melanjutkan perjalanan pulang kampung di Pare – Kediri.
“Selamat merayakan Minggu Palma” Semoga kelak kami Engkau perkenankan memasuki Yerusalem abadi, dalam Kristus Tuhan dan Pengantara kami, Amiiin.
30 Maret 2013 - MALAM PASKAH
Sekitar pkl. 16.00, saya – Sumeri dan istri - Ikah Sumekahsari, tiba di rumah pak Pujono. Setelah ngobrol ngalor ngidul, sekitar pkl. 17.30 kami bersama-sama pergi ke Gereja St. Martinus – Bangunharjo – Jogja, untuk turut serta dalam Misa malam Paskah.
Pkl. 17.15, kami sampai di Gereja, langsung masuk dan berdoa masing-masing, ibu Pujo berpisah dengan kami karena belio tugas koor.
Pak Pujono memberitahu bahwa dia melihat ada mahkota raja di depan Altar, sedangkan dialtarnya terlihat cupu, terdengar suara “ Nata Agung wus medal saking pakuwon” (Raja Agung sudah keluar)
“Durjono kang sebo pada nderek alias slamet katebus dosanipun dening sangsoro Dalem, lan kapareng nderek mulyo Gusti. Durjono bae di slametake apa meneh …………………” (= Penjahat yang datang diselamatkan, ditebus dosanya oleh sengsara Kristus, dan diperbolehkan hidup mulia bersama Gusti. Penjahat saja diselamatkan apalagi ……… kalimat tidak diteruskan, sepertinya disuruh meneruskan sendiri).
Terlihat Kombokarno serta ada buto-raksasa dengan tangannya hitam yang sungkem kepada Kombokarno. Selain hal tersebut juga terlihat sebilah Keris bernama Nogorojo menancap didepan Altar, mahkota raja tidak terlihat lagi.
Kemudian terlihat 1 bh lilin kecil dialtar serta tulisan “ Habid place commandor ritual legion of combad, dellicius deregulation contact. Hu, Hu, Hu, Hu”
Terlihat seorang pastur bernama Glacio – Itali, memakai jubah dan mahkota, suara yang terdengar “Sociate purposal Glacio ……. Patrio noble.”
Pkl. 18.00 misa dimulai, pada saat misa berlangsung, suasana sepi tidak ada yang terlihat sampai misa berakhir pkl. 20.30.
Mengantar pastor yang pindah , maupun yang ditinggal neneknya
Senin tanggal 4 Maret 2013
Hanya tidur sekitar dua jam, pagi pagi bersama isteri sudah bersiap siap pergi. Pagi itu kami akan mengantar pastor Bekatmo (pastor paroki) pindahan ke paroki santo Yosef di Cirebon. Rombongan yang mengantar berkisar limapuluhan orang dalam satu bis, ditambah dua mobil pribadi.
Rombongan sampai di paroki Cirebon berkisar jam 11.30 yang disambut dengan hujan deras. Kami semua bersilaturahmi dengan warga Cirebon yang menyambut rombongan kami. Sambil menunggu pastor lain yang juga pindah ke Cirebon, kami ngobrol sambil beristirahat. Aku melihat pastor Eko Susanto sedang menerima telepon dan wajahnya berubah, mata berkaca-kaca dan menutup mulutnya. Pasti ada sesuatu yang terjadi, maka aku mendekati. Dia bilang bahwa neneknya yang sangat dicintai baru saja meninggal. Dia ingin cepat cepat pergi ke Yogyakarta, dan aku minta tolong ke warga Cirebon, kendaraan apa yang paling awal berangkat menuju Jogya. Sokurlah mas Candra Setiawan menyediakan diri untuk mengantarkan dengan mobilnya. Sesaat kemudian aku lihat mbak Lis ibunya Aan yang sedianya ingin ikut mengantar, wajahnya memerah dan tegang. Ternyata ibunya di Semarang mengalami serangan jantung dan dibawa ke rumah sakit. Akhirnya aku, mas Candra dan pak Frans yang mengantar pastur Santo ke Yogya. Sedangkan mbak Lis beserta anaknya ditemani mas Martin berangkat ke Semarang.
Aku sempat menghubungi pak Pudjono dan bertanya tentang ibu Marto Sudarmo, nenek pastor Santo. Menurut penglihatannya, ibu Marto Sudarmo malah begitu cepat sudah berada di tangga paling bawah. Tangga tersebut bagaikan trap-trap yang terus naik tinggi, menuju kemah Allah. Kemah Allah tersebut bagaikan di puncak bukit dan melayang diatasnya. Dalam mobil, aku bercerita tentang penglihatan yang dialami pak Pudjono. Dan aku tambahkan, boleh percaya boleh tidak. Namun hal ini mestinya kita syukuri bahwa perjalanan ibu Marto Sudarmo begitu mulus. Pasti selama hidupnya selalu berada di jalan Tuhan. Pastor Santo bercerita bahwa memang dia begitu dekat dengan sang nenek. Dan neneklah yang begitu mendukung agar dia mau menjadi pastor.
Kami sampai tujuan berkisar jam sembilan malam lebih, masuk ke rumah dan berdoa dihadapan arwah ibu Marto Sudarmo. Beliau mempunyai nama komplit sebagai ibu Ignatia Maria Tarsinah Marto Sudarmo. Beliau bagikan tidur dan tersenyum dan aku mengucapkan kata-kata seperti yang diajarkan Tuhan Yesus, serta memberikan tanda salib di dahinya.
Berkisar jam sebelas malam, kami meminta agar pastor Santo istirahat, karena besok pagi masih ada tugas panjang. Kamipun ingin beristirahat juga di rumah pak Pudjono, agar tidak mengganggu keluarga besar ibu Marto maupun tamu yang ingin menyambanginya.
Kami bertiga menginap di rumah pak Pudjono, yang sudah menyiapkan makan malam untuk kami semua. Dan aku masih sempat ngobrol sejenak, sedangkan pak Frans dan mas Candra tidur duluan. Aku dan pak Pudjono masih ngobrol tentang wiyosan Dalem yang jatuh pada tanggal tiga Maret, dimana pak Pudjono dan pak Sumeri menginap di gua Tritis Wonosari. Senin pagi hari pak Sumeri pulang ke Bandung, sedangkan kami malam harinya gantian di rumah pak Pudjono.
Selasa pagi, setelah sarapan yang disediakan ibu Pudjono, aku, pak Frans, mas Candra, pak Pudjono dan anak live in dari van Lith (lupa namanya) berangkat ke kediaman pastor Santo. Sambil menunggu acara Misa Requiem, aku dan pak Pudjono mencoba melihat gambaran ataupun pesan dari yang diatas. Siang itu hujan bagai tercurah dari langit, yang ingin mengiringi kesedihan para yang ditinggalkan. Pak Pudjono melihat ibu Marto Sudarmo berpakaian Jawa, keluar dari rumah dan sepertinya mau ke jalan besar. Sewaktu ditanya belia menjawab :”Aku arep methukake anakku dhisik.” Aku tidak tahu siapa yang dimaksud.
Kemudian pak Pudjono mendengar kata-kata seperti :”Gijarat” Aku tidak tahu apa yang dimaksud, maka aku tanyakan dan ada jawaban :”Damai sejahtera.”
Pak Pudjono melihat tulisan seperti running text, namun tidak bisa mengikuti semua.
Yang bisa aku tangkap kurang lebih dan mungkin salah tulis :
Patrio current noble standart
Delicous state .......
Zamza carious on believe numerical zone
God wonderfull gate pilar some human together with soul
Circle circum first with Son
Maria together with them believe….. (terlihat bunda bersalaman dengan yang datang)
This is complete comeback was loose
Ladies memoriam on home place smart
Kemudian terlihat seperti bentuk pigura dan diminta untuk berhenti, karena upacara Misa Requiem akan segera dimulai. Dan hujan malah semakin deras, juga sayang karena jumlah hosti tidak mencukupi untuk semua umat. Batinku hanya bertanya, mangapa tidak dipotong menjadi dua, agar semuanya boleh menikmati Tubuh Kristus.
Aku dan pak Pudjono memohon kepada Yang Kuasa, semoga dalam perjalanan ke makam sampai selesai penguburan, hujan berhenti. Harapanku malah sampai perjalanan kami pulang ke Bandung. Ternyata dikabulkan dan aku hanya bisa mengucap syukur dan terima kasih.
Penguburan berjalan lancar, namun ternyata pator Santo sudah tidak bisa menahan kesedihan, menangis habis. Aku mendekati dan hanya bilang :”Puaskan saja mo, kami masih menunggu koq.” Selesai menangis pastor Santo melihat berkeliling, dan semuanya sudah berjalan pulang. Dia bertanya :”Lho pada kemana semuanya, kasihan simbah, tidak ada yang menemani, ditinggal sendirian.”
Aku hanya berkata :”Mo, rohnya sudah enak Mo. Romo Kanjeng Pujo malah bilang profisiat, karena sudah lulus dari peziarahan. Badannya sudah terbaring diam dalam damai.” Kemudian aku berdoa dengan caraku dan aku lanjutkan berkata setengah ngobrol dengan mbah Marto Sudarmo. Rasanya cukup panjang aku ngobrol dan didengarkan oleh yang masih menunggu.
Kami semua pulang ke rumah dan bersiap siap melanjutkan perjalanan. Mas Candra ngajak makan sore dahulu bersama romo Santo dan mobil kami isi berenam. Selesai makan kami ke rumah pak Pudjono, duduk ngobrol dan mandi sore. Romo Santo malah bisa tertidur di kursi dan kami biarkan saja. Aku hanya berpesan sebagai orang yang lebih tua dari romo. Sebaiknya kepulangan ke Bandung menunggu setelah mbah bungsu dari Kendari datang, karena selama ini belum pernah bertemu muka. Daripada suatu ketika menyesal tak berkesudahan, tidak ada seorangpun tahu akan kehidupan dan kematian seseorang.
Sekalian pamit dan berterima kasih kepada bapak ibu Pudjono sekeluarga, kami pulang karena jam tujuh malam akan diselenggarakan ibadat arwah yang dipimpin prodiakon setempat. Selesai doa, ternyata pada kecapaian dan bergeletakan di tikar. Aku ngobrol dengan ibu dan adik adik pastor Santo di samping rumah, sambil menunggu kedatangan keluarga dari Kendari. Aku menyampaikan hasil komunikasi rohani dan titip semoga selama seminggu ini diadakan doa rosario keluarga. Demikian juga agar dilakukan intensi misa buat simbah selama tiga hari berturut-turut. Kebetulan stasi dekat dan melewati makam simbah Marto Sudarmo.
Ternyata keluarga Kendari datang terlambat sekitar jam setengah sebelas malam. Karena sesuatu hal pesawat merpati ditunda cukup lama, demikian juga sewaktu mau mendarat di Yogyakarta berputar-putar dulu hampir setengah jam.
Kami ngobrol bersama sambil menikmati oleh-oleh Kendari, mete, bagea mete dan kopi. Kemudian satu persatu ketiduran sehingga hanya aku dan mbah lik Kendari saja yang ngobrol. Obrolanpun tak sengaja ya hanya seputar gereja dan paroki.
Sekitar jam tiga pagi mbah lik Kendari mengundurkan diri dan aku tidak tidur, hanya berjalan keluar dan mencoba untuk berdoa rosario pribadi. Ternyata doaku pun berputar-putar, kadang lenyap ditelan malam, terjaga kembali melanjutkan doa sampai habis. Aku tidak yakin apakah selesai betulan atau malah kelebihan, biarlah Tuhan yang tahu.
Akhirnya, Rabu pagi sekitar jam tujuh kami berempat pulang ke Bandung. Mas Candra hari Kamis harus berangkat ke Medan. Aku berkata bahwa sekarng giliranku untuk tidur gantian. Pastor Santo berkata bahwa sewaktu tertidur dalam mobil, wajah neneknya muncul sampai dua kali. Inginnya kembali lagi ke Yogyakarta. Aku berkata bahwa simbah putri itu sedang menemani perjalanan kita. Dan aku juga berserita tentang pengalaman rohani sewaktu bertemu santo Petrus di Pasirimpun. Kami mendoakan anak seorang teman. Santo Petrus memberi tahu bahwa anak tersebut belum mau masuk ke sorga, karena masih “digondheli” ibunya. Ibunya harus rela, ikhlas melepaskan agar segera menikmati kehidupan kekal. Kebetulan bapaknya memang sedang bersama kami. Kemudian pak Pudjono melihat bahwa anak tersebut digandeng santo Petrus dibawa ke atas. Kami semua yang berkumpul, menangis seperti anak kecil, betapa kasihnya Tuhan melalui santo Petrus. Malah santo Petrus berkata agar hal ini diwartakan, betapa Allah begitu mengasihi umatNya.
Akhirnya berkisar jam tujuh malam, aku turun di terminal Cicaheum, naik ojeg dan sampai di rumah dengan selamat. Terima kasih Tuhan atas penyertaanMu. amin.
Langganan:
Postingan (Atom)