30 Juli 2010
Jumat siang itu aku ditelpon oleh Rini dari Solo, yang menabarkan bahwa adik iparnya Diana sedang sakit. Badanya bengkak-bengkak dan kelihatan wajahnya leih tua. Maudi dan Diana kontrak rumah di Pengging dan membuka warung yang cukup laris.
Anehnya, setiap kali Diana ke belakang mencuci piring atau yang lainnya, dia melihat ada yang selalu mendampingi, Dia bisa melihat yang tidak kelihatan tersebut adalah kakek dan nenek. Akhirnya Diana mengundang pendeta untuk mendoakan di rumah kontrakan yang dianggap angker.
Setelah didoakan pendeta, Diana tidak melihat si kakek lagi, tetapi si nenek masih kelihatan mendampingi. Setelah kejadian itu Diana mengalami sakit dan takut, maka pulang ke Boyolali, sedangkan suaminya Maudi pulang ke Banaran.
Jumat malam aku ke rumah pak Pudjono, menanyakan keadaan rumah kontrakan yang di Penging dan keadaan Diana. Dalam penglihatan pak Pudjono, memang ada nenek dan kakek yang sedang duduk di lincak atau amben bambu. Pakaiannya seperti orang ningrat Jawa.
Akhirnya terjadilah komunikasi dengan yang tidak kelihatan tersebut.
Sewaktu kami tanya, mereka mengaku bernama Mbah Baud dan mbah Sutini. Roh yang sudah tua di kampung Pengging.
Dalam obrolan mbah Baud.berkata :”Anakku telu lanang kabeh. Uwis mati kabeh. Aku ora ngganggu, aku mung arep melu, ngingu iwen (binatang berkaki dua).” Pak Pudjono melihat simbul menthok yang sedang berenang di kolam.
Ketika kami bertanya sewaktu ada pendeta datang , mbah Baud ada dimana, dijawab :”Rikala ana pendhita, aku ming semingkir. Diana kurang turu. Becike kon mangan sayur lompong.”
Kira-kira zaman kapan mbah Baud hidup, dijawab :”Aku wis maewu-ewu tahun zaman dhisik. Aku ora seneng karo kowe, amarga ngundang aku ana kene. Pokoke kowe rene dhisik, rezekine akeh. Pokoke aku ngewangi becik, ora gawe pejah, Sing ora betah (maksudnya yang kontrak rumah) amarga padha gila karo aku. Dikira dirasani ora krungu. Zamanku, kuwi zaman horeg (?). Mung siji loro sing gelem manggon kene. Zamanne jaman mbah Dipa, jaman Ngalengka, jaman sengkolo bumi.Nenek moyangku saka Giri Tirta, Giri Dahana, Giri Laya, Kuwi tlatah kidul Suren. Suren Watu Adeg Merapi. Suren diganti dhaerah Mbengkung..”
:”Aku dikira culika, mangka aku ora. Aku dikira panas, kamangka adhem. Aku dikira durjana, padahal resik.”
Pada zaman itu, yang disembah siapa, dijawab :”Sing disembah Ki Durpa Wasesa.” Kami berkomentar bahwa Ki Durpa Wasesa baru saja menemui kami dalam bentuk simbul gajah pendek. Dia diutus oleh Tuhan yesus.
mBah Baud berkata :”Aku aja dipadhakake karo kuwi. Zaman semana, rupane ora ana, prakteke ana. Mumpuni ning ora ketok. Embuh, aku durung tau weruh, pokoke menangan, tur ijen ora duwe sedlur. Lanangan dhewe, ora duwe bojo. Yakuwi jenenge sesembahanku zaman semana.”
Kami bertanya bagaimana Tuhan Yesus menurut mbah Baud, dan dijawab :”Wilir, tegese wiwitane ilir, wiwitane ana, wiwitane urip, wiwitane gathuk.”
Kami bertanya bahwa katanya penunggu gunung Merapi itu mbah Wulung, apakah kenal, dijawab :”mBah Wulung, mbah Tunggul, Mbah Srana, mbah Kidi, isih tuwa aku. Aku wis ana, dheweke durung teka. Aku mung dhahnyang, tegese gantine unyeng-unyeng.”
Kami kembali bagaimana dengan Maudi dan Diana yang tinggal dirumah kontrakan tersebut, dijawab :”Ora apa-apa. Suk emben tak tunggune.” Apakah mbah Baud mempunyai kesenangan makanan atau minuman, dijawab :” Senenganku keong dibakar. Yen ana ya digawkeake dhisik, ya lagi dodol..”
Kami bertanya apakah kenal dengan Ki Mayangkara, dijawab :”Ki Mayangkara, yen aku ngarani Ki Watu Ireng.Lha lungguhe neng watu ireng. Sakjane dhuwur dheweke tinimbang aku. Aku uwong, dheweke dudu. Dheweke Ki Jalma Wasesa, Ki Jalma Untara,. Untara kuwi gemblung, gebleg, duksina.”
Kami menawarkan apakah kami bisa membantu untuk disempurnakan, tidak dijawab. Kami bertanya lagi apakah tidak ingin masuk ke dalam surga, dijawab :”Pokoke kowe mrene dhisik, mengko tak kandhani, Aku ora tau cekel buku.”
Karena kami anggap cukup, maka obrolan kami akhiri. Kemudian selang beberapa waktu, aku pamitan pulang, karena mas Kardjo dan Priono sudah berangkat ke Bandung. Pak Pudjono merasa kebetulan, kalau bisa malah mengajak berkumpul di rumah Pasiimpun, sambil ngobrol.
Tempat ini untuk berbagi pengalaman, mungkin cenderung yang lebih rohani.Pengalaman tersebut belum tentu bisa diterima oleh orang lain, namun itulah yang namanya pengalaman pribadi. Tidak harus sama dengan orang lain.
Selasa, 10 Agustus 2010
Pengalaman 1 Agustus 2010
01 Agustus 2010
Sejak hari Sabtu aku rasanya sibuk sekali, yang membuatku kena flu, karena tiap malam begadang mendampingi pak Pudjono yang juga flu. Sabtu pagi saudaraku dari Solo, mas Kardjo datang bersama Priyono dan anaknya Khrisna menengok aku yang dikira sakit. Padahal sakitku sendiri sudah bulan Mei.
Pak Sumeri dan pak Pudjono berkumpul di rumah menemui mas Kardjo dan keluarga. Disusul pak Yohanes yang mengajak mendoakan orang sakit di Cicaheum. Ada nenek-nenek yang baru dibaptis dan sudah sakit tu.a minta didoakan. Siang itu kami berenam mengunjungi yang sakit.
Sore harinya aku diminta renungan dalam doa syukur keluarga baru di komplek GMP. Pulang dari doa, terus mengantar pak Pudjono yang nunggu di rumah, ke rumah pak Mardayat yang ada perlu bagi anak dan menantu. Terpaksalah mas Kardjo sebentar-sebentar aku tinggal, padahal sudah menyediakan waktu berkunjung..
Minggu pagi mas Kardjo dan keluarga pulang ke Solo naik kereta apai diantar oleh bapak ibu Haji Bedjo dan isteri.. Hidungku semakin bocor karena flu dan kepala agak puyeng. Pukul 09.30 aku bersama isteri pergi ke gereja. Aku duduk di belakang agar tidak menularkan flu kepada orang lain. Rasanya aku lebih sering hang, nggliyeng setengah tidur walaupun ingin mengikuti Ekaristi dengan baik.
Aku tidak tahu bahwa pak Pudjono juga ikut misa kudus pada jam yang sama. Dia agak kaget sewaktu memasuki upacara persembahan, dia melihat bahwa aku berdiri di sebelah kanan pastor Bekatmo yang memimpin misa. Katanya aku berjubah kuning, seperti yang pernah diberikan Tuhan Yesus kepadaku . Dikatakan bahwa aku mendampingi pastor sampai misa selesai Padahal pada saat tersebut aku sedang setengah tidak sadar, walaupun mengikuti misa.
Pulang dari gereja, akupun tidak bertemu dengan pak Pudjono, yang sore harinya langsung pulang ke Yogyakarta. Pada Senin malam di Yogya ada peringatan 40 hari wafatnya Lik Mudji, pamannya pak Pudjono. Aku tahu cerita di atas seaktu telepon pak Pudjono yang sudah sampai di Yogya.
Terima kasih Tuhan, betapa Engkau begitu mengasihiku, walaupun aku ikut perjamuan kudus dengan badan yang setengah sakit dan setengah tidur. Engkau malah mengijinkan aku mendampinhgi pastor Katmo di Altar. Amin.
Apakah ini yang disebut ngrogoh sukma? Karena sewaktu aku jelaskan kepada pak Pudjono bahwa aku setengah tidur, dia malah mengiyakan, begitulah kejadiannya.
Sejak hari Sabtu aku rasanya sibuk sekali, yang membuatku kena flu, karena tiap malam begadang mendampingi pak Pudjono yang juga flu. Sabtu pagi saudaraku dari Solo, mas Kardjo datang bersama Priyono dan anaknya Khrisna menengok aku yang dikira sakit. Padahal sakitku sendiri sudah bulan Mei.
Pak Sumeri dan pak Pudjono berkumpul di rumah menemui mas Kardjo dan keluarga. Disusul pak Yohanes yang mengajak mendoakan orang sakit di Cicaheum. Ada nenek-nenek yang baru dibaptis dan sudah sakit tu.a minta didoakan. Siang itu kami berenam mengunjungi yang sakit.
Sore harinya aku diminta renungan dalam doa syukur keluarga baru di komplek GMP. Pulang dari doa, terus mengantar pak Pudjono yang nunggu di rumah, ke rumah pak Mardayat yang ada perlu bagi anak dan menantu. Terpaksalah mas Kardjo sebentar-sebentar aku tinggal, padahal sudah menyediakan waktu berkunjung..
Minggu pagi mas Kardjo dan keluarga pulang ke Solo naik kereta apai diantar oleh bapak ibu Haji Bedjo dan isteri.. Hidungku semakin bocor karena flu dan kepala agak puyeng. Pukul 09.30 aku bersama isteri pergi ke gereja. Aku duduk di belakang agar tidak menularkan flu kepada orang lain. Rasanya aku lebih sering hang, nggliyeng setengah tidur walaupun ingin mengikuti Ekaristi dengan baik.
Aku tidak tahu bahwa pak Pudjono juga ikut misa kudus pada jam yang sama. Dia agak kaget sewaktu memasuki upacara persembahan, dia melihat bahwa aku berdiri di sebelah kanan pastor Bekatmo yang memimpin misa. Katanya aku berjubah kuning, seperti yang pernah diberikan Tuhan Yesus kepadaku . Dikatakan bahwa aku mendampingi pastor sampai misa selesai Padahal pada saat tersebut aku sedang setengah tidak sadar, walaupun mengikuti misa.
Pulang dari gereja, akupun tidak bertemu dengan pak Pudjono, yang sore harinya langsung pulang ke Yogyakarta. Pada Senin malam di Yogya ada peringatan 40 hari wafatnya Lik Mudji, pamannya pak Pudjono. Aku tahu cerita di atas seaktu telepon pak Pudjono yang sudah sampai di Yogya.
Terima kasih Tuhan, betapa Engkau begitu mengasihiku, walaupun aku ikut perjamuan kudus dengan badan yang setengah sakit dan setengah tidur. Engkau malah mengijinkan aku mendampinhgi pastor Katmo di Altar. Amin.
Apakah ini yang disebut ngrogoh sukma? Karena sewaktu aku jelaskan kepada pak Pudjono bahwa aku setengah tidur, dia malah mengiyakan, begitulah kejadiannya.
Jumat, 30 Juli 2010
Pengalaman 29 Juli 2010
29 Juli 2010
Kamis malam Jumat kami berkumpul di rumah pak Mardayat. Aku, pak Pudjono, pak Yohanes, bapak ibu Siahaan, pak Sumeri, pak Hartono dan pak Sugeng dan tuan rumah. Kami ngobrol seperti biasa, sambil menunggu teman-teman.
Sekitar pukul 21.50 kami berdoa bersama menyiapkan diri apabila yang kudus berkenan mendampingi kami. Yang terlihat oleh pak Pudjono adalah simbul peniti, dan kemudian peniti tersebut berputar. Sepertinya terlihat tulisan namun kecil sekali dan tidak terbaca.
Pak Hartono seperti melihat bola berwarna hijau, yang bergerak menyebar ke arah barat sebelah utara, semua terlihat hijau. Padahal di arah lain seperti biasa. Demikian juga pak Siahaan melihat hal yang sama. Pak Pudjono melihat yang hijau tersebut adalah seperti daun kelapa.
Kemudian warna hijau tersibut menghilang, diganti seluruh ruangan seperti berkabut tipis. Setelah beberapa saat, kabut tersebut sepertinya naik ke atas dan menghilang. Pak Pudjono bertanya tentang simbul kelompok Durpa untuk malam itu. Simbul yang kelihatan adalah buah pete. Sewaktu bertanya apa maksudnya, ada jawaban :”Cupet ulate.” Kami bertanya apa yang dimaksud, dijawab :”Durung gaduk.”
Kemudian pak Pudjono melihat simbul seperti gulungan kain putih yang cukup besar. Kemudian yang terlihat satu tusuk sate yang masih mentah, tusuknya terbuat dari lidi. Kami ngobrol tentang penglihatan tersebut karena belum ada jawaban. Hijau sepertinya berkaitan dengan kesejukan, kedamaian. Menurutku warna hijau belum pernah menjumpai, jangan-jangan malah berkaitan dengan yang negatif. Kemudian jawaban yang terdengar :”Gunemmu bisa dirasakake.”
Kami bertanya mengapa berubah menjadi kabut dan ada jawaban : “Isih ragu.”
Kami berdoa kembali semoga Roh Kudus berkenan hadir menyertai kami. Yang terlihat sepertinya simbul wayang Puntadewa. Menurut mas Sugeng Puntadewa adalah tokoh pewayangan yang sangat sakti namun selalu mengalah. Merelakan segalanya dengan ikhlas. Pak Pudjono mendengar suara yang terpotong-potong
:” …….. kanggo uwong akeh
:”Amrih kamulyan Dalem
:”Amrih lestantun
:” Gedhe ganjarane.”
“Puntadewa kuwi crita pewayangan. Yen kowe isih crita pendhem. Tegese isih crita ing awing-awang, isih crita duk semana, crita kang durung dadi. Crita kang isih kok ampet, durung wani diudharake. Gampangane, isih kurang wani.”
“Roh Kudus durung mlebet, sing mlebu lagi roh mangan, roh prajan, roh kadonyan.”
Kemudian pak pudjono melihat simbul manuk panahan yang soliter, dan kami tanya apa maksudnya. Jawaban yang didengar :”Kowe isih berpikir kamulyan Dalem secara duniawi. Neng kono ngemu teges isih kudu menang, isih kudu njago, isih kudu nekakake swara-swara. Becike miturut anggepmu, yen kamulyan Dalem kuwi kudu menang.”
Kami berkomentar apa yang dimaksud dengan ajaran tersebut. Kemudian terdengar suara :” Mulya kuwi ora kudu kalah, ora kudu babak belur.”
Menanggapi pertanyaan pak Hartono, pak Pudjono kemudian bertanya kepada Tuhan, bagaimana menuju jalan ke pintu surga, bagi kami masing-masing.
Untuk pak Pudjono : ”Kudu bisa bersyukur dalam segala hal, dalane uwis ana. Aja berpikir sing ora-ora.”
Untuk aku :”Dalane uwis padhang, ning isih jireh. Tegese durung wani mlaku dhewe yen ora ana rembug.”
Untuk pak Siahaan :”Kiwakna pagaweyan tangan kiwa lan tengen, kudu wani mbanda tangane ana mburi.”
Untuk pak Yohanes :”Kudu wani nyembah. Sakjane durung bisa.”
Untuk pak Hartono :”Kudu wani sumeleh, yen bisa, didum. Donyae ana kono, kudu dibagekake.”
Untuk pak Sugeng :”Donyane isih mungkur, mula mbalika lan ndang cekelen asta Dalem Gusti. Nek tak saranke, mengko ndhak mrina.”
Untuk pak Mardayat :”Donya akherat uwis ana, gari mlaku. Muga-muga ora kesandhung.”
Untuk pak Sumeri :”Ora usah dhisik.” (Mengapa :”Bengi iki durung nyuwun.”)
Untuk bu Siahaan :”Kurang andhap asor. Masih pelayanan di atas. Tuhan masih diatur.”
Untuk bu Mardayat :”Ora usah wae.”
:”Kabeh omongan kuwi saka Gustimu. Mulane aja kowe protes menyang pak Pudjono sing nglantarake. Uwis tutup.”
Jika kami lulus bisa melaksanakan perintah-Nya, terlihat simbul lilin menyala yang lidah apinya masih bergoyang kesana kemari. Suara yang terdengar :”Lumayan.”
Pertanyaan pak Sugeng dalam syahadat para rasul tentang Tuhan mengadili orang yang hidup dan yang mati, dijawab :”Gustimu mengadili orang hidup, tegese Aku milih kowe. Ning kowe isih lunga wae, isih mloya-mlayu wae. Mengadili orang mati tegese kowe ndherek Gusti munggah swarga. Intine kaya ngono, titik.”
Kemudian kami ngobrol sharing tentang segala macam hal, termasuk kesaksian yang dialami masing-masing. Kemudian kami berdoa penutup karena waktu sudah menunjukkan pukul 02.30. Setelah itu kami pamit pulang.
Kamis malam Jumat kami berkumpul di rumah pak Mardayat. Aku, pak Pudjono, pak Yohanes, bapak ibu Siahaan, pak Sumeri, pak Hartono dan pak Sugeng dan tuan rumah. Kami ngobrol seperti biasa, sambil menunggu teman-teman.
Sekitar pukul 21.50 kami berdoa bersama menyiapkan diri apabila yang kudus berkenan mendampingi kami. Yang terlihat oleh pak Pudjono adalah simbul peniti, dan kemudian peniti tersebut berputar. Sepertinya terlihat tulisan namun kecil sekali dan tidak terbaca.
Pak Hartono seperti melihat bola berwarna hijau, yang bergerak menyebar ke arah barat sebelah utara, semua terlihat hijau. Padahal di arah lain seperti biasa. Demikian juga pak Siahaan melihat hal yang sama. Pak Pudjono melihat yang hijau tersebut adalah seperti daun kelapa.
Kemudian warna hijau tersibut menghilang, diganti seluruh ruangan seperti berkabut tipis. Setelah beberapa saat, kabut tersebut sepertinya naik ke atas dan menghilang. Pak Pudjono bertanya tentang simbul kelompok Durpa untuk malam itu. Simbul yang kelihatan adalah buah pete. Sewaktu bertanya apa maksudnya, ada jawaban :”Cupet ulate.” Kami bertanya apa yang dimaksud, dijawab :”Durung gaduk.”
Kemudian pak Pudjono melihat simbul seperti gulungan kain putih yang cukup besar. Kemudian yang terlihat satu tusuk sate yang masih mentah, tusuknya terbuat dari lidi. Kami ngobrol tentang penglihatan tersebut karena belum ada jawaban. Hijau sepertinya berkaitan dengan kesejukan, kedamaian. Menurutku warna hijau belum pernah menjumpai, jangan-jangan malah berkaitan dengan yang negatif. Kemudian jawaban yang terdengar :”Gunemmu bisa dirasakake.”
Kami bertanya mengapa berubah menjadi kabut dan ada jawaban : “Isih ragu.”
Kami berdoa kembali semoga Roh Kudus berkenan hadir menyertai kami. Yang terlihat sepertinya simbul wayang Puntadewa. Menurut mas Sugeng Puntadewa adalah tokoh pewayangan yang sangat sakti namun selalu mengalah. Merelakan segalanya dengan ikhlas. Pak Pudjono mendengar suara yang terpotong-potong
:” …….. kanggo uwong akeh
:”Amrih kamulyan Dalem
:”Amrih lestantun
:” Gedhe ganjarane.”
“Puntadewa kuwi crita pewayangan. Yen kowe isih crita pendhem. Tegese isih crita ing awing-awang, isih crita duk semana, crita kang durung dadi. Crita kang isih kok ampet, durung wani diudharake. Gampangane, isih kurang wani.”
“Roh Kudus durung mlebet, sing mlebu lagi roh mangan, roh prajan, roh kadonyan.”
Kemudian pak pudjono melihat simbul manuk panahan yang soliter, dan kami tanya apa maksudnya. Jawaban yang didengar :”Kowe isih berpikir kamulyan Dalem secara duniawi. Neng kono ngemu teges isih kudu menang, isih kudu njago, isih kudu nekakake swara-swara. Becike miturut anggepmu, yen kamulyan Dalem kuwi kudu menang.”
Kami berkomentar apa yang dimaksud dengan ajaran tersebut. Kemudian terdengar suara :” Mulya kuwi ora kudu kalah, ora kudu babak belur.”
Menanggapi pertanyaan pak Hartono, pak Pudjono kemudian bertanya kepada Tuhan, bagaimana menuju jalan ke pintu surga, bagi kami masing-masing.
Untuk pak Pudjono : ”Kudu bisa bersyukur dalam segala hal, dalane uwis ana. Aja berpikir sing ora-ora.”
Untuk aku :”Dalane uwis padhang, ning isih jireh. Tegese durung wani mlaku dhewe yen ora ana rembug.”
Untuk pak Siahaan :”Kiwakna pagaweyan tangan kiwa lan tengen, kudu wani mbanda tangane ana mburi.”
Untuk pak Yohanes :”Kudu wani nyembah. Sakjane durung bisa.”
Untuk pak Hartono :”Kudu wani sumeleh, yen bisa, didum. Donyae ana kono, kudu dibagekake.”
Untuk pak Sugeng :”Donyane isih mungkur, mula mbalika lan ndang cekelen asta Dalem Gusti. Nek tak saranke, mengko ndhak mrina.”
Untuk pak Mardayat :”Donya akherat uwis ana, gari mlaku. Muga-muga ora kesandhung.”
Untuk pak Sumeri :”Ora usah dhisik.” (Mengapa :”Bengi iki durung nyuwun.”)
Untuk bu Siahaan :”Kurang andhap asor. Masih pelayanan di atas. Tuhan masih diatur.”
Untuk bu Mardayat :”Ora usah wae.”
:”Kabeh omongan kuwi saka Gustimu. Mulane aja kowe protes menyang pak Pudjono sing nglantarake. Uwis tutup.”
Jika kami lulus bisa melaksanakan perintah-Nya, terlihat simbul lilin menyala yang lidah apinya masih bergoyang kesana kemari. Suara yang terdengar :”Lumayan.”
Pertanyaan pak Sugeng dalam syahadat para rasul tentang Tuhan mengadili orang yang hidup dan yang mati, dijawab :”Gustimu mengadili orang hidup, tegese Aku milih kowe. Ning kowe isih lunga wae, isih mloya-mlayu wae. Mengadili orang mati tegese kowe ndherek Gusti munggah swarga. Intine kaya ngono, titik.”
Kemudian kami ngobrol sharing tentang segala macam hal, termasuk kesaksian yang dialami masing-masing. Kemudian kami berdoa penutup karena waktu sudah menunjukkan pukul 02.30. Setelah itu kami pamit pulang.
Senin, 26 Juli 2010
Pengalaman 26 Juli 2010
26 Juli 2010
Senin sore sekitar jam 19.00 turun hujan cukup lebat walau sebentar. Aku janjian dengan pak Mardayat untuk kumpul bersama dengan para saudara Durpa sekitar pukul 20.00. Malam itu yang hadir adalah pak Pudjono, bapak ibu Siahaan, pak Abraham, pak Slamet, pak Wahyanto, pak Yohanes, mas Agus Budianto dan mas Agus Sudarno. Kami bersebelas, namun mbah kakung tidak selalu ikut karena kesehatannya.
Kami ngobrol kesana kemari sambil menunggu para saudara berkumpul. Dari awal pak Pudjono melihat simbul yang selama ini dianggap kurang baik, atau berhubungan dengan kematian. Yang terlihat pertama adalah lampu petromax.
Kemudian aku mengajak semua untuk berdoa bersama, semoga yang kudus berkenan memberikan sesuatu yang berguna bagi kami. Yang terlihat simbul teplok kemudian debok (pohon pisang). Selang beberapa waktu terdengar suara agar pak Abraham berdiri dan menunjuk seorang di antara kami sebagai pembuka obrolan malam itu. Pak Slamet yang ditunjuk, kemudian membuka Kitab Suci begitu saja, yang didapat Injil Lukas 18:31-34. Kami saling berkomentar sesuai pemahaman saat itu.
Yang terlihat oleh pak Pudjono adalah seperti tarub untuk perayaan yang dihiasi untaian kertas warna warni. Kemudian terlihat simbul sendok teh, setelah itu terlihat sibori yang ada tutupnya dialasi kain putih. Menurut pak Slamet, kita diajar bahwa kematian tidak harus membuat kita sedih berkepanjangan.
Suara yang terdengar oleh pak Pudjono :”Kanggone uwong urip ora.”
Dalam kenyataan pada umumnya kita akan bersedih jika ditinggalkan oleh orang-orang terdekat. Semua saling berkomentar dan berpendapat untuk mengamini.
Kemudian pak Hartono bercerita kesaksian sewaktu pergi ke Sangkalputung Klaten, patung Pieta terlihat seperti bergerak dan mendesah. Karena penasaran, pada hari lain pak Hartono mengajak isteri dan pak Sugeng pergi ke Klaten bertiga dan mengunjungi patung Pieta. Mereka bertiga mengalami penglihatan yang sama, bagaimana tangan Tuhan Yesus bergerak-gerak seperti kesakitan. Bagaimana Bunda Maria nafasnya mendesah membawa beban tubuh Tuhan Yesus.
Berkisar pukul 22.15 pak Pudjono mengajak untuk merefleksikan gambar bayangan yang ada di pak Hartono hadir di tengah-tengah kami. Yang terlihat oleh pak Pudjono adalah simbul Pieta, Bunda Maria membopong Tuhan Yesus, kepala-Nya terletak di tangan kanan Bunda Maria. Pak Hartono diminta menyampaikan keinginan kalau memang ada uneg-uneg.
Yang terdengar kemudian, sepertinya Bunda Maria berkata :”Ujubna apa, aturna. …… Kowe meneng, rungokna. …… Gulawenthahen, kowe rak bisa.”
Yang terlihat oleh pak Pudjono kemudian sepertinya pak Hartono diberi kalung liontin baiduri bulan yang lebih transparan. Kemudian sepertinya Bunda Maria menyerahkan tubuh Tuhan Yesus untuk dibopong pak Hartono. Harapannya bukan hanya dibopong disangga tetapi malah lebih dekat lagi, dirangkul ditempelkan ke dada bahkan diciumi. Sepertinya pak Hartono belum siap dan belum berani menerima anugerah besar tersebut.
Kemudian pak Hartono diminta berdiri menempel di tembok. Yang terlihat sepertinya kepala pak Hartono dikucuri air dari kendi. Kemudian kendi tersebut diletakkan di atas meja. Kami saling berkomentar, mengapa kendi sekarang di meja dan untuk apa?
Aku mengajak berdoa kembali untuk mengucap syukur, sekalian doa makan malam karena telah disediakan oleh mbah kakung. Sambil makan kami ngobrol kesana kemari.
Berkisar pukul 22.30 pak Pudjono melihat simbul lilin menyala yang sudah memendek sekitar 2/3 panjangnya. Kemudian terdengar suara :”Ngendikane simbul Gusti Yesus.”
Kami berdoa kembali mengucap syukur, dan kemudian kami diberi gambaran perumpaan tentang kami masing-masing untuk malam itu.
Gambaran pak Wahyanto seperti andhong kereta kuda dan seorang anak kecil duduk di belakang.
Gambaran pak Slamet seperti gunungan wayang kulit.
Gambaran pak Yohanes seperti menanam pohon pisang yang sudah berbuah tetapi buahnya kecil-kecil agak kisut.
Gambaran bu Siahaan seperti kain puti dijemur lalu dibersihkan dengan seblak rotan
Gambaran pak Pudjono seperti terlihat telapak kaki yang cukup besar
Gambaran pak Abraham seperti kertas memo yan ditulisi
Gambaran untukku seperti mendorong grobag, cikar
Gambaan mas Agus Sudarno seperti pompa
Gambaran mas Agus Budiyanto seperti sedang mengikat setumpuk pakaian
Gambaran pak Siahaan seperti gunung yang ada terowongan airnya mengalir ke bawah,
dan ada ikan yang naik ke atas masuk ke dalam terowongan air.
Gambaran pak Hartono seperti gelas ukur.
Biarlah masing-masing merenungkan arti gambaran yang telah diberikan tersebut
Kemudian pak Pudjono melihat simbul mutiara di atas di tengah-tengah kami. Selama ini yang kami alami apabila dalam adorasi melihat seperti kunang-kunang, kami yakini itulah simbul Roh Kudus. Apabila menempel di atas kepala seseorang, sepertinya berubah menjadi lidah api kecil seperti api lilin kecil
Pak Pudjono memohon agar Roh Kudus berkenan masuk ke dalam hati kami masing-masing melalui doa yang dipimpin pak Slamet. Setelah berdoa, pak Pudjono memohon agar diberikan gambaran apa yang harus kami lakukan ataupun simbul karya pelayanan kami.
Aku tidak sempat mencatat dan agak lupa semua gambaran tersebut. Bagiku sendiri diberi gambaran seperti membawa sejenis nampan persembahan yang berisi sesuatu dan ada payung.
Tanpa payung kemungkinan besar bisa kehujanan ataupun kepanasan. Yang jelas semuanya baik untuk pelayanan dalam kehidupan ini, walaupun kadang kala tugas tersebut terasa berat. Seperti yang aku ingat bahwa pak Slamet dengan gunungnya harus menjadi pembawa damai, melerai dan mendamaikan dua orang yang sedang membawa pentungan akan bekelahi.
Memasuki tanggal 27 Juli 2010 pagi oleh pak Pudjono terlihat seseorang yang mamakai caping yang masih baru. Kemudian terlihat seperti anak angsa, setelah itu terlihat tangga (andha).
Simbul Durpa pada saat itu spertinya kami sedang naik permainan ombak banyu yang berputar. Suara yang terdengar :”Sok-sok mrinding, sok-sok miris, ning wani. Ya ombak umbuling kahanan. Ning intine kowe tetep nunggang..”
Sewaktu pak Wahyanto bercerita tentang pengalaman dengan mertua yang berhubungan dengan caping, aku bertanya kembali siapa yang bercaping sebelumnya. Jawaban yang terdengar oleh pak Pudjono :”Ki Ujung Pamungkas. Tegese uwis lingsir.”
Kami berdoa penutup yang dipimpin pak Hartono kemudian pamitan pulang berkisar pukul 01.00 lebih.
Senin sore sekitar jam 19.00 turun hujan cukup lebat walau sebentar. Aku janjian dengan pak Mardayat untuk kumpul bersama dengan para saudara Durpa sekitar pukul 20.00. Malam itu yang hadir adalah pak Pudjono, bapak ibu Siahaan, pak Abraham, pak Slamet, pak Wahyanto, pak Yohanes, mas Agus Budianto dan mas Agus Sudarno. Kami bersebelas, namun mbah kakung tidak selalu ikut karena kesehatannya.
Kami ngobrol kesana kemari sambil menunggu para saudara berkumpul. Dari awal pak Pudjono melihat simbul yang selama ini dianggap kurang baik, atau berhubungan dengan kematian. Yang terlihat pertama adalah lampu petromax.
Kemudian aku mengajak semua untuk berdoa bersama, semoga yang kudus berkenan memberikan sesuatu yang berguna bagi kami. Yang terlihat simbul teplok kemudian debok (pohon pisang). Selang beberapa waktu terdengar suara agar pak Abraham berdiri dan menunjuk seorang di antara kami sebagai pembuka obrolan malam itu. Pak Slamet yang ditunjuk, kemudian membuka Kitab Suci begitu saja, yang didapat Injil Lukas 18:31-34. Kami saling berkomentar sesuai pemahaman saat itu.
Yang terlihat oleh pak Pudjono adalah seperti tarub untuk perayaan yang dihiasi untaian kertas warna warni. Kemudian terlihat simbul sendok teh, setelah itu terlihat sibori yang ada tutupnya dialasi kain putih. Menurut pak Slamet, kita diajar bahwa kematian tidak harus membuat kita sedih berkepanjangan.
Suara yang terdengar oleh pak Pudjono :”Kanggone uwong urip ora.”
Dalam kenyataan pada umumnya kita akan bersedih jika ditinggalkan oleh orang-orang terdekat. Semua saling berkomentar dan berpendapat untuk mengamini.
Kemudian pak Hartono bercerita kesaksian sewaktu pergi ke Sangkalputung Klaten, patung Pieta terlihat seperti bergerak dan mendesah. Karena penasaran, pada hari lain pak Hartono mengajak isteri dan pak Sugeng pergi ke Klaten bertiga dan mengunjungi patung Pieta. Mereka bertiga mengalami penglihatan yang sama, bagaimana tangan Tuhan Yesus bergerak-gerak seperti kesakitan. Bagaimana Bunda Maria nafasnya mendesah membawa beban tubuh Tuhan Yesus.
Berkisar pukul 22.15 pak Pudjono mengajak untuk merefleksikan gambar bayangan yang ada di pak Hartono hadir di tengah-tengah kami. Yang terlihat oleh pak Pudjono adalah simbul Pieta, Bunda Maria membopong Tuhan Yesus, kepala-Nya terletak di tangan kanan Bunda Maria. Pak Hartono diminta menyampaikan keinginan kalau memang ada uneg-uneg.
Yang terdengar kemudian, sepertinya Bunda Maria berkata :”Ujubna apa, aturna. …… Kowe meneng, rungokna. …… Gulawenthahen, kowe rak bisa.”
Yang terlihat oleh pak Pudjono kemudian sepertinya pak Hartono diberi kalung liontin baiduri bulan yang lebih transparan. Kemudian sepertinya Bunda Maria menyerahkan tubuh Tuhan Yesus untuk dibopong pak Hartono. Harapannya bukan hanya dibopong disangga tetapi malah lebih dekat lagi, dirangkul ditempelkan ke dada bahkan diciumi. Sepertinya pak Hartono belum siap dan belum berani menerima anugerah besar tersebut.
Kemudian pak Hartono diminta berdiri menempel di tembok. Yang terlihat sepertinya kepala pak Hartono dikucuri air dari kendi. Kemudian kendi tersebut diletakkan di atas meja. Kami saling berkomentar, mengapa kendi sekarang di meja dan untuk apa?
Aku mengajak berdoa kembali untuk mengucap syukur, sekalian doa makan malam karena telah disediakan oleh mbah kakung. Sambil makan kami ngobrol kesana kemari.
Berkisar pukul 22.30 pak Pudjono melihat simbul lilin menyala yang sudah memendek sekitar 2/3 panjangnya. Kemudian terdengar suara :”Ngendikane simbul Gusti Yesus.”
Kami berdoa kembali mengucap syukur, dan kemudian kami diberi gambaran perumpaan tentang kami masing-masing untuk malam itu.
Gambaran pak Wahyanto seperti andhong kereta kuda dan seorang anak kecil duduk di belakang.
Gambaran pak Slamet seperti gunungan wayang kulit.
Gambaran pak Yohanes seperti menanam pohon pisang yang sudah berbuah tetapi buahnya kecil-kecil agak kisut.
Gambaran bu Siahaan seperti kain puti dijemur lalu dibersihkan dengan seblak rotan
Gambaran pak Pudjono seperti terlihat telapak kaki yang cukup besar
Gambaran pak Abraham seperti kertas memo yan ditulisi
Gambaran untukku seperti mendorong grobag, cikar
Gambaan mas Agus Sudarno seperti pompa
Gambaran mas Agus Budiyanto seperti sedang mengikat setumpuk pakaian
Gambaran pak Siahaan seperti gunung yang ada terowongan airnya mengalir ke bawah,
dan ada ikan yang naik ke atas masuk ke dalam terowongan air.
Gambaran pak Hartono seperti gelas ukur.
Biarlah masing-masing merenungkan arti gambaran yang telah diberikan tersebut
Kemudian pak Pudjono melihat simbul mutiara di atas di tengah-tengah kami. Selama ini yang kami alami apabila dalam adorasi melihat seperti kunang-kunang, kami yakini itulah simbul Roh Kudus. Apabila menempel di atas kepala seseorang, sepertinya berubah menjadi lidah api kecil seperti api lilin kecil
Pak Pudjono memohon agar Roh Kudus berkenan masuk ke dalam hati kami masing-masing melalui doa yang dipimpin pak Slamet. Setelah berdoa, pak Pudjono memohon agar diberikan gambaran apa yang harus kami lakukan ataupun simbul karya pelayanan kami.
Aku tidak sempat mencatat dan agak lupa semua gambaran tersebut. Bagiku sendiri diberi gambaran seperti membawa sejenis nampan persembahan yang berisi sesuatu dan ada payung.
Tanpa payung kemungkinan besar bisa kehujanan ataupun kepanasan. Yang jelas semuanya baik untuk pelayanan dalam kehidupan ini, walaupun kadang kala tugas tersebut terasa berat. Seperti yang aku ingat bahwa pak Slamet dengan gunungnya harus menjadi pembawa damai, melerai dan mendamaikan dua orang yang sedang membawa pentungan akan bekelahi.
Memasuki tanggal 27 Juli 2010 pagi oleh pak Pudjono terlihat seseorang yang mamakai caping yang masih baru. Kemudian terlihat seperti anak angsa, setelah itu terlihat tangga (andha).
Simbul Durpa pada saat itu spertinya kami sedang naik permainan ombak banyu yang berputar. Suara yang terdengar :”Sok-sok mrinding, sok-sok miris, ning wani. Ya ombak umbuling kahanan. Ning intine kowe tetep nunggang..”
Sewaktu pak Wahyanto bercerita tentang pengalaman dengan mertua yang berhubungan dengan caping, aku bertanya kembali siapa yang bercaping sebelumnya. Jawaban yang terdengar oleh pak Pudjono :”Ki Ujung Pamungkas. Tegese uwis lingsir.”
Kami berdoa penutup yang dipimpin pak Hartono kemudian pamitan pulang berkisar pukul 01.00 lebih.
Minggu, 25 Juli 2010
Pengalaman 25 Juli 2010
25 Juli 2010
Minggu itu aku agak capai karena bersih-bersih halaman rumah dan ingin istirahat siang. Berkisar pukul 15.00 ada telepon masuk, ingin bertemu pak Pudjono dan sudah dalam perjalanan. Kemudian ada telepon lagi dari mas Agus di Karanggayam Gombong ingin bicara dengan pak Pudjono juga. Maka aku segera pergi ke rumah pak Pudjono sambil berpikir harus ikut berbuat apa bagi anak Marcelino yang kejang-kejang. Paling gampang memohon kepada Tuhan Yesus untuk penyembuhan anak tersebut.
Sewaktu sampai di rumah pak Pudjono, dia berkata bahwa tadi sudah ada tulisan yang kelihatan :”Church select god + (simbol salib) slumber (?) God.”
Kami bertanya apa yang dimaksud dengan slumber (schlumberg?) tersebut, dan ada jawaban :”Urut.”
Kemudian datang rombongan tujuh orang yang membawa Marcelino yang kena sakit kejang-kejang. Aku dan pak Pudjono berdoa masing-masing. Kemudian pak Pudjono menyedot dengan meraba tubuh Marcel. Kemudian diulang dengan memakai sarana telor mentah. Aku bertanya apa yang kelihatan dan dijawab bahwa seperti kumbang. Maka aku bertanya kepada keluarga apakah memelihara anjing atau binatang lainnya. Dijawab memang memelihara anjing dan burung. Dari sisi yang tidak kelihatan, biarlah pak Pudjono yang menggarap. Aku hanya menyarankan dari sisi kesehatan, apabila diperiksa secara medis agar ditanyakan kemungkinan terkena virus ataupun bakteri dari binatang peliharaan.
Kemudian pak Mardayat menelpon bahwa keluarga pak Suyono juga ingin bertemu sore hari itu. Kami menyanggupi bertemu di rumah pak Mardayat setelah pukul 18.00.
Setelah segalanya dianggap cukup, maka kami tutup dengan doa permohonan kepada Tuhan maupun para kudus demi kesembuhan Marcelino yang masih berumur enam tahun.
Di rumah pak Mardayat kami bertemu dengan bapak ibu Suyono yang minta tolong untuk keluarganya, agar seperti sediakala. Dalam penglihatan pak Pudjono, yang terlihat tulisan lagi :
Guide of judge
Holy …… holy life
SON house gave
Sewaktu ibu Suyono meminta keluarga tersebut harus diapakan, yang terdengar adalah suara :”Umbaren. Mengko yen bosen rak mulih.” Aku mencoba melihat dari Kitab Suci yang memberikan perumpamaan “Anak yang hilang”
Kemudian terlihat tulisan lagi : Churly (?) …….. or life side.
Setelah mencoba menterjemahkan kata-kata tersebut sesuai kemampuan kami, maka kami berdoa bersama. Pak Sumeri melalui SMS minta bantuan doa untuk anaknya, dan yang terlihat adalah telur mentah.
Pukul 21.00 kami berdua pergi ke rumah pak Linus yang sudah menelpon pak Mardayat. Mereka berdua sedang sakit yang mungkin karena perubahan cuaca, sehingga pegal dan kaku semua. Keluarga Marcel kirim SMS bahwa anak tersebut sepertinya akan kejang, dan aku jawab agar pusarnya dibedaki campuran garam dan jeruk purut. Dari obrolan bahwa sering ada suara di lantai atas, aku meminta pak Pudjono dan pak Linus untuk melihatnya. Yang terlihat oleh pak Pudjono, ada seseorang yang tinggal di lantai atas bernama pak Astra yang berasal dari kalimantan. Menurut cerita pak Linus orang tersebut adalah pemilik tanah dan rumah sebelum dijual kepada pak Linus, yang sudah meninggal beberapa tahun lalu.
Yang kami lakukan adalah berdoa berempat bagi arwah pak H. Astra. Kemudian terdengar suara pak Astra :’ Ya, aku tak lunga mangkat. Ning mengko dhisik tak njupuk sarung dhisik.”
Kemudian oleh pak Pudjono terlihat sepertinya pak H. Astra pergi ke arah barat memakai sarung. Kami mengucapkan selamat jalan.
Berkisar pukul 23.00 kami pamit pulang dan aku mengantar pak Pudjono ke rumahnya. Aku sendiri terus pulang dan menerima SMS dari pak Sumeri minta tolong untuk anak dan saudaranya. Aku jawab bahwa aku sudah sampai di rumah, dan besok saja jawabannya.
Minggu itu aku agak capai karena bersih-bersih halaman rumah dan ingin istirahat siang. Berkisar pukul 15.00 ada telepon masuk, ingin bertemu pak Pudjono dan sudah dalam perjalanan. Kemudian ada telepon lagi dari mas Agus di Karanggayam Gombong ingin bicara dengan pak Pudjono juga. Maka aku segera pergi ke rumah pak Pudjono sambil berpikir harus ikut berbuat apa bagi anak Marcelino yang kejang-kejang. Paling gampang memohon kepada Tuhan Yesus untuk penyembuhan anak tersebut.
Sewaktu sampai di rumah pak Pudjono, dia berkata bahwa tadi sudah ada tulisan yang kelihatan :”Church select god + (simbol salib) slumber (?) God.”
Kami bertanya apa yang dimaksud dengan slumber (schlumberg?) tersebut, dan ada jawaban :”Urut.”
Kemudian datang rombongan tujuh orang yang membawa Marcelino yang kena sakit kejang-kejang. Aku dan pak Pudjono berdoa masing-masing. Kemudian pak Pudjono menyedot dengan meraba tubuh Marcel. Kemudian diulang dengan memakai sarana telor mentah. Aku bertanya apa yang kelihatan dan dijawab bahwa seperti kumbang. Maka aku bertanya kepada keluarga apakah memelihara anjing atau binatang lainnya. Dijawab memang memelihara anjing dan burung. Dari sisi yang tidak kelihatan, biarlah pak Pudjono yang menggarap. Aku hanya menyarankan dari sisi kesehatan, apabila diperiksa secara medis agar ditanyakan kemungkinan terkena virus ataupun bakteri dari binatang peliharaan.
Kemudian pak Mardayat menelpon bahwa keluarga pak Suyono juga ingin bertemu sore hari itu. Kami menyanggupi bertemu di rumah pak Mardayat setelah pukul 18.00.
Setelah segalanya dianggap cukup, maka kami tutup dengan doa permohonan kepada Tuhan maupun para kudus demi kesembuhan Marcelino yang masih berumur enam tahun.
Di rumah pak Mardayat kami bertemu dengan bapak ibu Suyono yang minta tolong untuk keluarganya, agar seperti sediakala. Dalam penglihatan pak Pudjono, yang terlihat tulisan lagi :
Guide of judge
Holy …… holy life
SON house gave
Sewaktu ibu Suyono meminta keluarga tersebut harus diapakan, yang terdengar adalah suara :”Umbaren. Mengko yen bosen rak mulih.” Aku mencoba melihat dari Kitab Suci yang memberikan perumpamaan “Anak yang hilang”
Kemudian terlihat tulisan lagi : Churly (?) …….. or life side.
Setelah mencoba menterjemahkan kata-kata tersebut sesuai kemampuan kami, maka kami berdoa bersama. Pak Sumeri melalui SMS minta bantuan doa untuk anaknya, dan yang terlihat adalah telur mentah.
Pukul 21.00 kami berdua pergi ke rumah pak Linus yang sudah menelpon pak Mardayat. Mereka berdua sedang sakit yang mungkin karena perubahan cuaca, sehingga pegal dan kaku semua. Keluarga Marcel kirim SMS bahwa anak tersebut sepertinya akan kejang, dan aku jawab agar pusarnya dibedaki campuran garam dan jeruk purut. Dari obrolan bahwa sering ada suara di lantai atas, aku meminta pak Pudjono dan pak Linus untuk melihatnya. Yang terlihat oleh pak Pudjono, ada seseorang yang tinggal di lantai atas bernama pak Astra yang berasal dari kalimantan. Menurut cerita pak Linus orang tersebut adalah pemilik tanah dan rumah sebelum dijual kepada pak Linus, yang sudah meninggal beberapa tahun lalu.
Yang kami lakukan adalah berdoa berempat bagi arwah pak H. Astra. Kemudian terdengar suara pak Astra :’ Ya, aku tak lunga mangkat. Ning mengko dhisik tak njupuk sarung dhisik.”
Kemudian oleh pak Pudjono terlihat sepertinya pak H. Astra pergi ke arah barat memakai sarung. Kami mengucapkan selamat jalan.
Berkisar pukul 23.00 kami pamit pulang dan aku mengantar pak Pudjono ke rumahnya. Aku sendiri terus pulang dan menerima SMS dari pak Sumeri minta tolong untuk anak dan saudaranya. Aku jawab bahwa aku sudah sampai di rumah, dan besok saja jawabannya.
Langganan:
Postingan (Atom)