4 Agustus 2011
Hari Kamis sore aku menjemput pak Pudjono yang baru datang dari Yogyakarta. Rumahnya menyala namun kosong, maka aku menunggu beberapa saat. Kemudian aku mampir ke rumah pak Siahaan, dan ternyata pak Pudjono sudah ada di sana. Kami ngobrol beberapa saat dan membicaraakan Leo yang menunggu pengumuman hasil test untuk masuk ke STPDN. Aku katakan bahwa yang paling penting adalah mempersiapkan diri menghadapi hasil yang paling jelek.
kemudian aku bertanya ke pak Pudjono bahwa di Bandung sedang muncul issue tentang bukit Lalakon di Soreang. Ada sekelompok orang yang mengatakan bahwa bukit Lalakon itu seperti piramida, yang lebih besar dari yang di Mesir. Pak Pudjono mencoba menerawang dan ada jawaban yang kurang lebih :”Bukit Lalakon kuwi jenenge gunung Trapsilo kanggo semedi. Kuwi gunung sing alami, dudu gaweane manungsa. Bongkahane kae jenenge bongkahan Hadar.” Kami tidak tahu apa arti hadar disini, apakah dari bahasa Sunda atau bahasa lain.
Kemudian kami bertiga berangkat ke rumah pak Mardayat untuk berkumpul dengan yang lain. Yang datang pak Abraham, pak Sumeri, bapak ibu Yohanes Asngadi, pak Yohanes BP, pak Bangun, mas Sugeng, mas Agus Budianto dan pak Slamet.
Kami ngobrol ngalor ngidul, dan berkisar pukul 21.00 aku memimpin doa pembuka, mengucap syukur. Semoga yang kudus dari sana berkenan hadir menemani kami.
Simbol yang terlihat adalah bulus, kemudian spt tulisan “on,” meja untuk menerima tamu dalam suasana lesehan. Setelah itu ada simbol mahkota raja, payung, dan sumur. Tidak ada suara apapun yang menyertai simbul-simbul tersebut. Kemudian terlihat simbul jago warna hitam.
Beberapa saat kemudian pak Pudjono mengatakan bahwa terlihat seseorang yang masih muda berjubah, kepala memakai sejenis sorban ubel-ubelan, membawa tongkat yang diletakkan di pundak. Sewaktu kami tanyakan, ada jawaban :”aku Bapa Maha Guru. Jenengku Bapa Sinar Kamulyan. Sinar kamulyan kanggo Durpa. Mulya-mulyane urip, isih mulya wong kang permana.”
Aku malahan yang diminta untuk menjabarkan makna kata-kata tersebut kepada yang lain. Dalam batinku, nama tersebut sepertinya lebih cenderung bahwa yang berkata adalah Tuhan Yesus sendiri.
Kemudian terlihat simbul gagang telepon dan ada suara :”Gusti saiki rawuh, sembahen nganggo caramu dhewe-dhewe, lan dongaa dhewe-dhewe.”
Setelah itu pak Pudjono mendengar suara :”Praptaning Gusti ora kanggo kowe kabeh, ananging mung kanggo Darmono. Darmono, mula endang ngadega, wulangen.”
Aku kaget setengah mati, karena aku sedang berdoa mengaku dosa yang mengakui sebagai anak yang bandel. Aku mengakui bahwa nyatanya masih sering berlari kemana-mana, dan malah menjauh dari kehendakNya.
Aku berdoa mohon bantuannya, agar Tuhan sendiri yang berkata melalui aku. Rasanya aku mengulang ajaran yang baru saja kami terima, bahwa dalam hidup ini harus selalu eling dan waspada, setiti ngati-ati menghadapi kehidupan. Hal ini sepertinya berkaitan dengan bahasa Alkitab, agar kita cerdik seperti ular namun tulus seperti merpati. Yang jelas aku tidak bisa mengingat semuanya, apa yang aku katakan.
Kemudian pak Sumeri mendapat perintah :”Marak a.” dan pak Semeri berdoa dengan berlutut.
Tuhan hadir pasti membawa karunia bagi kami semua, yaitu sinar kamulyan. Malam itu kami tanyakan kira-kira karunia apa bagi kami masing-masing.
Pak Slamet yang terlihat buku tebal seperti alkitab
Pak Pudjono yang terlihat neker/ kelereng berwarna transparan
Pak Abraham yang terlihat bibir
Aku yang terlihat tangan menjulur, yang memberkati
Pak Yohanes BP yang terlihat seperti memandikan (nggrujugi) orang
Pak Yohanes Asngadi yang terlihat seperti meteran panjang
Bu Asngadi yang terlihat mawar putih
Pak Bangun yang terlihat adalah akal atau pikiran
Mas Sugeng suara “becike ora dhisik.”
Pak Siahaan yang terlihat juga buku
Pak Sumeri yang terlihat juga buku tertutup namun terbalik
Mas Agus Budianto buku Perjanjian Baru namun masih tertutup
Pak Mardayat yang terlihat sampur atau selendang warna kuning
Sekali lagi aku diminta untuk menjabarkan sinar kamulyan tadi secara garis besarnya, biarlah masing-masing mencoba merenungkannya, yang bisa disesuaikan dengan hati masing-masing.
Kemudian kami istirahat sambil ngobrol, karena nyonya rumah menyediakan mie rebus buat kami semua.
Berkisar pukul 22.45 pak Pudjono melihat ada orang yang bersila sedang memegang seperti bola berwarna transparan. Kemudian bola tersebut dilemparkan kepada kami masing-masing dan orang bersila tersebut menghilang. Bola transparan yang masih kosong tersebut kira-kira akan diisi apa oleh kita masing-masing.
Pak Pudjono mencoba melihat dari setiap bola yang ada di kami. Pak Pudjono sendiri melihat bahwa dalam bolanya terlihat seperti tangan yang bersalaman.
Pak Slamet bola tersebut masih dilihat- lihat dan ditiup-tiup, bola masih kosong
Pak Abraham bola diangkat diatas kepala dan berisi seperti rumah adat
Aku katanya bola berisi banyak sekali sampai penuh dan bermacam-macam
Pak Yohanes BP bola dimasukkan ke dalam perut di balik baju
Pak Yohanes Asngadi bola dicium-cium, malah mau dibelah tetapi tidak jadi
Bu Asngadi bola dibawa tidur dan dilela-lela/ ditimang. isinya seperti jelly
Pak Bangun bola malah disodorkan kepada orang lain yang cenderung memaksa
Mas Sugeng masih muter-muter, belum tertarik kepada bola tersebut
Pak Siahaan bola diletakkan di bawah ketiak
Pak Sumeri dengan heran bola diteliti dan dikatak-katik
Mas Agus Budianto bola diletakkan di atas meja
Pak Mardayat bola dipotong dibagi dua dan sedang dilihat apa isinya.
Kembali aku diminta untuk mencoba menjelaskan makna dari gambaran tersebut dan biarlah masing-masing juga mencoba menterjemahkannya.
Kemudian kami ngobrol kembali dan berkomentar. Pak Bangun bercerita panjang lebar tentang pengalaman mendalami segala macam kitab suci dan kaitannya.
Berkisar pukul 01.00 hari Jumat pagi, pertemuan ditutp dengan doa bersama, mengucap syukur atas segala pengajaran pendek, yang sebenarnya bermakna dalam sekali.
Tempat ini untuk berbagi pengalaman, mungkin cenderung yang lebih rohani.Pengalaman tersebut belum tentu bisa diterima oleh orang lain, namun itulah yang namanya pengalaman pribadi. Tidak harus sama dengan orang lain.
Minggu, 07 Agustus 2011
Selasa, 07 Juni 2011
Ziarah Durpo 26 - 27 Mei 2011
Perjalanan Ziarah Durpo
26 - 27 Mei 2011
26 Mei 2011
Hari Kamis pagi-pagi sekali kami berkumpul di rumah pak Mardayat. Kami berencana untuk melakukan ziarah ke Rangkasbitung; aku, pak Sumeri, pak Pudjono, pak Abraham, pak Yohanes BP dan mas Agus Budianto. Ternyata pak Mardayat tidak bisa berangkat, dan beliau kami minta untuk memimpin doa sebelum keberangkatan. Beliau malah menyiapkan lontong untuk makan sarapan di perjalanan.
Perjalanan ke Rangkasbitung cukup lumayan melelahkan, berangkat pukul 06.30 dan sampai di kampung Narimbang sekitar 12.30. Tujuan kami berziarah ke gua Maria Kanada yang berada di belakang Akademi Perawat di kampung Narimbang.
Setelah makan siang di warung sekolah, kami berjalan menuju ke gua dan bertemu pak Saimin dan istri yang sedang membersihkan lantai dan halaman gua maupun kapel untuk persiapan misa kudus. Kami baru mengetahui bahwa setiap malam Jumat Kliwon selalu diadakan ibadat jalan salib yang dilkanjutkan dengan perayaan Ekaristi, yang dimulai pada pukul 22.00. Hal tersebut kami anggap kebetulan, atau sebenarnya malah tuntunan Tuhan sendiri. Pada awalnya kami merencanakan akan berangkat pada hari Rabu, namun karena sesuatu hal mundur sehari. Pemikiran kami, pada malam Jumat Kliwon biasanya kami berkumpul di rumah pak Mardayat. (Rencanamu rencanamu, rencanaKu rencanaKu)
Aku berdoa di depan gua sebentar, kemudian pindah ke samping kiri di sebelah patung Bunda Maria. Sewaktu berdoa dengan mata tertutup, rasanya seperti berubah menuju kegelapan yang menyelimuti, namun kemudian berubah menjadi terang kembali. Pak Abraham malah merasakan dan melihat ada sinar seperti kilat. Pak Pudjono malah merasakan suasana yang begitu tenang dan mantap. Sedangkan pak Yohanes malah merasakan aroma bau bunga, biasanya simbul bahwa ada orang yang meninggal .
Kemudian kami kembali ke tempat istirahat model rumah panggung yang terbuka berlantai bambu (galar) di depan gua. Sambil istirahat kami mandi dan pesan minuman ke pak Saimin. Kemudian datang seseorang dan memperkenalkan diri sebagai pak Saban. Tidak tahunya beliau masih ada hubungan saudara dengan pak Saan almarhum, salah satu anggota Durpo. Beliau yang menjelaskan bahwa gua Kanada adalah singkatan dari gua Maria yang berada di KAmpung NArimbang DAlam, dibangun sekitar tahun 1986.
Pak Saban jebolan seminari dan bercerita banyak pengalaman, bagaimana melakukan ibadat jalam salib tengah malam selama 40 hari tanpa henti. Hari ke 40 dilakukan jalan salib di gua Maria Sawer Rahmat di Cigugur bersama teman-teman. Bagaimana beliau “melihat" keluarga kudus Nazaret dalam penampakan rohani. Kemudian pak Saban menelpon teman-temannya.
Sewaktu kami masih mengobrol, pak Pudjono berkata bahwa dia melihat “bulus.” Aku menangkap bahwa selama ini bulus menjadi simbul bagi kami, bahwa Bunda Maria berkenan hadir (bulus = ibu kang mulus). Pak Pudjono bertanya apakah nama gua di tempat ini. Yang didengar pak Pudjono kurang lebih :”Guwo kene kang diarani gua Nur. Tegese cahyo kang adi. Ana kene muncul cahyo adi putih. Gunane kanggo mbrantas kamurkan sing ono awakmu dhewe. Iso kanggo ngalahake api kemarahan dadi api suci. Wujude sinar kudus, api kudus. Saiki durung wektune, mengko jam 23....koyo ...cemlorot, warno putih koyo awakmu. Wis semene wae.”
Berkisar pukul 20.30 pak Pudjono melihat simbul selendang sutera berwarna putih. Selama ini kami ketahui bahwa itu simbul Bunda Maria sebagai bunda pengantara. Kami mengucap syukur dan berterima kasih.
Aku tidak tahu pada waktu pak Pudjono bercerita tentang ki Fadjar Baru yang sekarang sedang berkarya di Amerika, Timur Tengah, India dan China. Ada yang bertanya mengapa koq tidak ke Indonesia, suara yang didengar mengatakan :”Indonesia goblog, ora gelem berubah.”
Obrolan terhenti, karena sudah banyak umat yang berdatangan untuk melaksanakan ritual rutin. Selain kelompok kami, ada juga yang dari Jakarta, Serang dan sekitarnya.
Berkisar pukul 22.00 kami semua melaksanakan ibadat Jalan Salib, yang berlangsung hampir dua jam. Karena baru selesai turun hujan, maka jalan yang kami lalui cukup licin dan cukup gelap. Tetapi malam itu bintang-bintang bertaburan di langit. Di pemberhentian ke 6 - 7 yang terlihat simbul lampu teplok. Pak Yohanes menerima panggilan telepon bahwa ada yang meninggal.
Tengah malam setelah selesai jalan salib dilanjutkan dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh romo paroki Rangkasbitung. Semua umat menerima Tubuh dan Darah Kristus, yang bagi kami menjadi suatu karunia yang luar biasa.
Selama misa kudus pak Pudjono melihat simbul di dekat altar, seseorang yang kurus dan telanjang bulat. Sewaktu ditanya siapa, suara yang terdengar adalah :”Yokuwi awakmu dhewe.” Kata-kata tersebut bagi kami bermakna yang begitu dalam, bahwa di hadapan Tuhan kita harus telanjang, karena memang tidak ada yang bisa ditutup-tutupi. Hampir seperti yang aku katakan sewaktu masih ngobrol di petang hari, bahwa diberkatilah mereka yang miskin di hadapan Allah, bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa.
Aku ngobrol dengan mas Agus, peziarah dari Serang sampai sekitar pukul dua pagi. Dia bercerita bertemu dengan Tuhan Yesus dan mengadakan perjanjian, sewaktu anaknya sakit dan hampir tidak tertolong lagi. Demi janjinya, dia siap menerima keadaan hidup pas-pasan walau tadinya kaya raya.
27 Mei 2011
Hari Jumat pagi kami bangun dan berdoa secara pribadi di depan gua Maria Nur. Dari Rangkasbitung kami melanjutkan perjalanan pulang lewat Bogor dan mampir ke Cikanyere. Karena banyak jalan rusak dan macet, kami baru sampai ke Cikanyere setelah lewat tengah hari. Suasana di Cikanyere cukup sepi karena hari biasa, kecuali sekelompok orang yang sedang melaksanakan retreat.
Sewaktu kami akan memulai jalan salib, sepertinya terlihat simbul bulan yang terang mendahului kami. Kami berdoa bersama mengucap syukur dan memulai doa permenungan jalan salib. Pak Pudjono melihat sepertinya kita semua diberi lembaran kartu yang harus diisi nama kita masing-masing.
Pada pemberhentian ke dua, pak Pudjono melihat sepertinya kita diberi kertas untuk diisi intensi kita masing-masing. Pada pemberhentian ke tiga, sepertinya semua kertas dikumpulkan, kemudian diganti dengan kartu nama yang dikalungkan dan diberi cap.
Pada pemberhentian ke lima, sepertinya terlihat simbol gelang dan cincin, suara yang terdengar disuruh memilih. Aku tidak tahu maksudnya.. Pada pemberhentian ke enam yang terlihat simbol telur dan suara yang terdengar :”Gawanen mulih.” Menuju ke pemberhentian ke tujuh, sepertinya kami diminta untuk antri satu persatu dan kami sepertinya diguyur air. Pada pemberhentian ke delapan yang terlihat simbol salak.
Sewaktu kami menuju ke pemberhentian ke duabelas, yang terlihat pak Pudjono agak aneh; lidi, bantal, tepas bambu, kendi kecil. Biasanya simbol-simbol tersebut untuk orang yang akan meninggal. Di pemberhentian ini bentuknya salib besar berwarna putih keperakan, berbeda dengan yang lainnya. Selesai kami berdoa, yang terlihat hanya simbol lilin menyala. Kami melanjutkan sampai ibadat jalan salib selesai.
Kemudian kami istirahat dan berjalan-jalan mengelilingi gereja besar yang berbentuk setengah lingkaran atau kipas terbuka. Gereja Santa Theresia. Rencananya kami akan mengikuti perayaan Ekaristi berkisar pukul 17.30. Sewaktu kami, aku, pak Sumeri dan pak Pudjono sedang istirahat dan ngobrol di samping gereja, terlihat simbol bulus berjalan melewati kami. Kami bertiga setengah berlutut berdoa dan bertanya. Suara yang terdengar :”Apike mulih wae, ora usah melu Misa.” Aku agak kaget dan bertanya siapa dan mengapa. Suara yang terdengar :”Pokoke mulih wae.” Pak Pudjono melihat simbol tempat tidur yang di dorong seperti di rumah sakit. Pikiran kami agak kaget, sepertinya aka nada apa-apa.
Akhirnya kami memutuskan pulang ke Bandung dan mampir dahulu ke rumah pak Mardayat. Kami meminta beliau untuk mempimpin doa syukur telah sampai dengan selamat. Tiba-tiba handphone pak Yohanes berdering dan mengabarkan ada pasien yang meninggal. Selesai berdoa pak Yohanes mendahului pulang. Kami masih mengobrol sejenak bercerita tentang perjalanan kami.
Selama Pak Pudjono di Bandung
31 Mei 2011
Hari-hari sebelumnya sewaktu aku dan pak Sumeri ke rumah pak Pudjono, suasana sepi walaupun banyak simbol yang terlihat. Simbolnya dalam benak kami berkaitan dengan kematian. Yang terlihat selalu antara teplok, anglo, pisang satu biji, kelapa dibelah.
Hari Selasa siang aku dan pak Sumeri ke rumah pak Pudjono dan ngobrol bersama. Kami bertanya mengapa simbolnya koq berkaitan dengan kematian. Kira-kira siapa, apakah kami mengenalnya. Biasanya memang kita kenal. Yang jelas pak Yohanes sudah mengurusi du orang yang sudah meninggal.
Berkisar pukul 16.00 pak Pudjono melihat simbol orang gemuk namun tidak kelihatan kepalanya. Pada awalnya berdiri, kemudian duduk bersila seperti bersemedi. Sewaktu kami tanya siapa koq aneh tanpa kepala, ada suara jawaban :”Pisowanan iku kudu ngene iki, pikirane ora ana. Mula ora nganggo sirah. Yen ngadeg tegese kowe isih nggoleki, durung patemon. Yen wis patemon kowe lungguh utawa jengkeng. Pisowanan alias ngadhep alias dumunung. Dumenung kuwi ana. Gunane kanggo nyadhong dhawuh, kanggo karaharjan, kanggo atur teka-teki. Kudune atur pisungsung dhisik, kanggo samubarang wae biso. Ndhek mau wis diwiwiti rosario; kanggo, oleh, pantes. Ora usah koq karang, koq eling-eling, spontan wae. Kanggo ngempelke ujub, kanggo ngempelke atur, Gusti wis pirsa.”
Kemudian yang terlihat seperti anak-anak agak gemuk berkulit kuning. Jangan-jangan berkaitan dengan permohonan pak Sumeri. Suara yang terdengar :”Nek ana tetingalan mengkene, isenana panuwunan gegadhang. Sebab bocah kuwi isih resik, isih mulus. Mula sesuwuna ben dadi, ben gangsar, ben lancar. Alfonsus (anaknya Andrianus Green Hill) klebu kategori iki.”
Setelah berhenti sejenak, terlihat simbol bulus. Pikiranku melayang ke Bunda Maria. Suara yang terdengar :”Gunane kanggo dongakake wong kang perang, kang padha padudon, kanggo nyirep prakara, kanggo nyirep ….. . Becike kanggo nglerenake. Nek ing kono ora ana unsur padudon, ora bisa.”
Beberapa saat kemudian terlihat simbol bunga pagi sore, katanya bunga fajar baru, dan suara yang terdengar :”Dadi kowe kudu bisa mbedakake kembang iki karo mawar. Ana titik terang, ana gegayuhan tercapai, ana pinuwunan kabul. Iki jenenge Kembang Sejati. Iki sifate tandha kanggo perseorangan. Yen ana simbol iki, menang.”
Kemudian terdengar suara yang melanjutkan ajaran awal :”Bubar atur pisungsung lan panuwunan, ditutup nganggo donga dawa, donga komplit (Bapa kami, Salam Maria, Kemuliaan, Terpujilah, berkat); paseban rampung.”
Beberapa saat kemudian yang terlihat seperti orang tua, telinganya besar njepiping, latar belakangnya berwarna putih. Suara yang terdengar :”Aku bapakmu dhewe-dhewe, utawa wong tuamu dhewe-dhewe. Eyangmu dhewe-dhewe. Aku ora duwe jeneng; kabeh lempeng kabeh pener. Jenenge Roh Asli. Papan dununge ana dhuwur. Pokoke Bapa Suci XXXXXXXXX. Ndang tutupen Aku selak kondur. .....Ngono wae koq gela.”
Kemudian kami berdoa penutup bersama-sama. dan kami mau bubaran.
Tiba-tiba terlihat manusia namun wajahnya hampir seperti kera walaupun giginya model manusia. Dia berjalan dari atas turun ke tempat kami dan berdiri di depan pintu. Sewaktu kami tanya siapa, dia menjawab:”Aku Kangjeng Babi Putih. Aku arep melu mulih karo pak Darmono. Aku arep njaluk suwuk, anakku ora bisa mlaku. Aku manggon ana Mangunan Rawakele; Mangunan Bojong, Tengere pedhut. Intine anakku ora iso mlaku, njaluk tamba. Sesuk wonge gen ketemu dhewe, lakonana.”
Aku agak kaget dan bingung karena biasanya yang jadi perantara pak Pudjono atau pak Sumeri. Suara yang terdengar :”Pak Darmono, kena apa kowe durung manteb karo tanganmu sing ana berkate?” Aku mengiyakan dan akan percaya sepenuhnya akan berkat Tuhan, biarlah Dia yang berkarya dan aku hanya saranaNya saja.
1 Juni 2011
Aku, pak Mardayat, pak Sumeri, mas Agus Budianto berkumpul di rumah pak Siahaan pada malam hari. Kami ngobrol macam-macam dan keinginan keluarga pak Siahaan ingin menanyakan bagaimana kemungkinannya Leo yang akan test psikologi untuk masuk ke IPDN, Demikian juga keponakannya yang test UMPTN.
Berkisar mendekati jam sembilan malam kami berdoa bersama-sama. Simbol yang terlihat pak Pudjono sebiji kacang tanah berisi dua biji. Sore harinya pak Pudjono melihat simbol seperti buah bligo atau markisah jawa beberapa biji diletakkan di atas tampah bambu.. Kelihatannya berkaitan dengan jumlah kedatangan kami di rumah pak Siahaan.
Kemudian terlihat simbol keris gayaman yang pegangannya berwarna putih. Setelah keris ditarik keluar, bentuknya wilahan tanpa luk, kemudian dimasukkan kembali.
Penglihatan lainnya sepertinya masih berkaitan dengan kematian. Berkisar pukul sebelas malam kami pamitan pulang. Agus Budianto sudah lebih dahulu pulang. Tidak tahu mengapa pak Pudjono. pak Sumeri dan Agus Budianto sudah ngantuk sekali. Aku mengantarkan pak Mardayat pulang.
2 Juni 2011
Malam hari aku berdua dengan pak Pudjono ngobrol di rumahnya. Seperti kemarin, simbol yang terlihat pisang sesisir memakai tali, anglo dan botol berisi minyak. Kemudian anak kambing bertenga panjang. Teplok, malah ayam putih yang sudah mati.
Setelah itu malah gunung berapi, bata satu biji; baju putih masih baru digantungan hanger.
Tidak ada suara apapun yang terdengar, yang bisa memberi penjelasan tentang tanda-tanda tersebut.
4 Juni 2011
Hari Sabtu aku ditelpon pak Sumeri, ditunggu di rumah pak Pudjono. Sejak hari Jumat aku sekeluarga mengikuti novena misa kudus setiap sore, menyongsong kedatangan Roh Kudus di hari Pentakosta. Aku menjemput pak Yohanes dan sekalian membawa nasi dan lauk untuk makan bersama. Pak Sumeri juga sudah membawa dari rumah.
Berkisar pukul 12.00 pak Sumeri berdoa rosario sambil bersila di bawah, aku dan pak Pudjono duduk di kursi. Di depan pak Sumeri terlihat seperti kotak persembahan. Pak Pudjono memberi tahu bahwa terlihat seperti Bunda Maria berbentuk kecil di depan pak Sumeri. Kemudian seperti terlihat seorang perempuan berpakaian seperti kimono bersabuk lebar. Dia mengaku bernama Dewi Oei dari Thailand. Suara yang terdengar :”Oei tegese putri cantik, Bunda sing rawuh saka kana; aku sing negesi (sepertinya Bunda Maria “menyatu ke tubuh Dewi Oei). Aku sing ngawaki..”
Sepertinya pak Sumeri diberi selendang putih, bertulisan seperti huruf Jawa :”Padha para samya nuGRAHA, lumebet ing alam baka.” Simbolnya bulan sabit kecil. Agak aneh karena graham memakai huruf besar.
“Aku Bracea of grade. tegese aku tangan kang diagem. Aku sakbenere ana Asia Timur. Wakile Bunda Maria ora mung aku; akeh kang ditunjuk. Dina iki aku.”
“Cobanen wae kanggo gelut marang persepsi, marang penganggepe wong kang menentang ilmumu (=ora percaya). Gampangane lidhahku kang njulur ngucap.”
“Alfonsus dipakani cecak, mengko rak mari, dangan, zirich(?)”
Pak Pudjono bertanya tentang Obat kanggo wong sing angel meteng, Gambaran yang terlihat agak aneh, kemaluannya dimasuki belut hidup. Hal tersebut berlaku bagi laki-laki dan perempuannya.
Dewi Oei :”Becike padha mangan dhisik, mengko ditutugake maneh.” Aku mengajak Dewi Oei makan bersama namun dijawab bahwa sudah membawa sendiri roti berwarna putih. Kami ngobrol bersama macam-macam sambil menghisap rokok, kecuali pak Sumeri.
Selama ngobrol malah terlihat seorang perempuan sedang habis mandi kramas. Ada jawaban dari arti kotak persembahan yang bermakna bahwa sebelum bersetubuh jangan engkel-engkelan dulu. Kelihatannya memang simbol untuk anak dan menantu pak Sumeri yang belum punya anak sendiri.
Pak Yohanes pamitan lebih dahulu setelah menerima telpon. Kami tidak tahu apakah ada yang meinggal lagi atau keperluan lain.
Pak Pudjono bertanya tentang simbol cahaya yang bermacam-macam.
“Mak pyur…., kaya kemukus , tegese sukma ilang;
“Putih lurus, tegese kudus;
“Cahya abang tegese nistha;
“Wong ketok ireng, golekana ana Alkitab;
“Cahya biru mlaku tegese pindahing jalmo saka kodrat dadi hegar:
“Sinar biru mandheg tegese umume kanggo wong bebal, wong sing ora bisa owah, ora bisa interaksi; biasane manggon ana wong pangreh. Gegambarane wong sing kepanjingan sunar cemlorot, sinar gegambaran kedadean, kuwi mung tandha.”
Aku bertanya tentang Santo Yusuf yang begitu sedikit tertulis dalam Alkitab. Dewi Oei menjawab:”Santo Yusuf kuwi tegese Yoel. Tegese sabda, arane saka kana. Asale saka dhuwur sing kuasa. Yoel ana kene tegese suci, samubarang resik. “Sih kadarman Dalem” Terjadi karena kerahiman Allah, kemurahan Allah. Dadi saka krsane kang kuwasa. Secara kepemimpinan dheweke iku Mikhael. Secara rohani Yoel - pribadine.”
Aku bertanya tentang umur, kapan meninggal dan sebagainya.
Dewi Oei:”Wektu kawin jarene umur 43. Sing jelas wis romo, wis bapa, ya wis yuswa. Keterangane tegesna dhewe.”
“Bunda Maria ketemu malaikat angkane 16 (ditulis miring ke kiri, aneh), tegese kencur, Kenya.”
Aku bertanya lagi tentang Santo Yusuf yang jadi pelindung Durpo, karena merasa belum jelas. Dewi Oei :”Mengko nek aku ngomong, kowe dipoyoki.” Aku jawab tidak apa-apa karena kami mencari kebenaran cerita atau dongeng.
Jawaban Dewi Oei :”Tanggal 3 (telu) Maret disebut grahana mati. Santo Yusuf kuwi sedane telu Maret, ora ana liyane. Tahune 73 (pitu telu). Pasarane Turi majeg. Dinane dina wiwitan, pasaran ke telu (menurutku Pon; ada gambaran makna orang membawa obor seperti dalam olag raga) Saiki Santo Yusuf lagi ana Timur Tengah, ngewangi wong demo. Ngewangi wong dagang asor, wong terlantar, wong kecumpen.”
Kami mencoba menghitung namun malah bingung sendiri, maka kami tanyakan kembali karena merasa tidak cocok. Jawaban Dewi Oei :”Pathok-pathokane Masehi. Biasane sing kok takokake umure, dudu tahune. Jatahe pitu telu seda, pitu enem mekrad. Ngenteni sewu dinane. Sara barat ya ana. Gusti Yesus mekrad swarga, Santo Yusuf isih urip. Ora let suwe ora ana, seda; marani bapa-bapa soleh, bapa-bapa wahid. Marani sing isih isa ditulungi, diapiri amrih dalan padhang. Lajeng minggah wonten papan pangentosan, nengga jemputan - panggilan; rawuhe Gusti Yesus. Banjur diajak sesarengan minggah. Thok.”
“Ana donya Santo Yusuf diarani bapa bangsa putih, bapa oei, bapa suci. Ana ing swarga diarani Bapa Gurdha, tegese bapa guru suci sagala bangsa, bapa guru suci segala umat manusia.”
“Santo Yusuf dados panguasaning nyepeng pintu swarga, berhak ngenep lan mbuka, nutup lan mbukak. Nyepeng pintu abadi.”
Pak Sumeri bertanya apakah bukan Santo Petrus yang memegang kunci dan dijawab Dewi Oei :”Santo Petrus kuwi tuladha kuncine munggah swarga. Tuladha prakaryan ben munggah swarga. Dadi tegese kunci, kabecikan lan tuladha. Santo Petrus mung nyepeng Kunci Sejati, sejatine urip, sejatine dalan.”
Berkisar pukul 15.00 pak Sumeri berdoa sendiri karena sudah kebiasaan rutin. Pak Pudjono memberi tahu bahwa ada patung Bunda Maria berpakaian biru, kecil di hadapan pak Sumeri. ?Yang terlihat ada tulisan atau suara :”Sion amandem (?)..Sion of woman wonderful classic. Jawane Ibu kang mulus tanpa cacat.”
Pak Pudjono bertanya pakah Bunda Maria akan memberikan pengajaran baru bagi kami semua, namun jawabannya agak aneh :”Badanku lagi lungkrah, lagi kesel, kakehan ujub.”
Tiba-tiba pak Pudjono melihat Tuhan Yesus di salib, kepalaNya tertutup kain putih baru bermahkota duri. Kakinya agak tertekuk ke atas dan badanNya melekung ke arah kami. Kami bertiga berlutut bersila dan berdoa. Pak Pudjono malah menangis tersedu-sedu saking terharunya. Kami hanya bisa mengucap syukur dan berterima kasih walaupun hanya sebantar bertemu dengan Tuhan Yesus. Kami bertanya apakah ada pengajaran dan dijawab :”Gusti ora paring dhawuh, mung wartakna.”
Kami bertiga berdoa panjang sebagai penutup, karena sebentar lagi kami akan ke gereja untuk mengikuti novena misa kudus menyongsong kahadiran Roh Kudus.
5 Juni 2011
Hari Minggu selesai perayaan Ekaristi sore hari, pak Sumeri mengajakku ke rumah pak Pudjono. Aku iyakan setelah mengantar istri pulang ke rumah.
Berkisar pukul delapan malam simbol yang terlihat adalah gong besar, kemudian potongan bambu model untuk tempat jimpitan yang di letakkan di tembok. Setelah itu terlihat seperti kitab suci tetapi tidak tebal dan tidak terdengar suara apapun. Kemudian terlihat kembang pacing yang bentuk hampir seperti buah rosella merah.
Bebeapa saat kemudian terlihat buah mahoni dan ada suara :”Mahoni kuwi umuk.”
Sesaat kemudian terlihat seperti poci kecil ada tutupnya, cenderung seperti cupu. Suara yang terdengar :” Cupu kuwi uga umuk …..kuluk, ….. ningrat, ….. ambassador, ….. kill.” Kemudian gambaran bendera berkibar dan terdengar suara pujian :”Glory….glory …Halleluya…”
Kami ngobrol dan aku berpendapat bahwa kalau dimaknai secara positif buah mahoni yang putih dan pahit itu bisa menjadi obat, yang selanjutnya secara bertahap malah bisa meningkat menjadi kuluk, diwisuda kemudian meningkat menjadi keluarga kerajaan menjadi ningrat. Pada saatnya malah menjadi duta atau utusan yang harus bisa membunuh ego kita masing-masing, demi melayani Tuhan. Pada saatnya akan ada pekik orak memuji dan memuliakan Allah.
Beberapa saat kemudian terlihat simbol telur putih di atas cawan. Suara yang terdengar :”Bibit kawit muncul.” Namun kemudian berubah menjadi sandal perempuan . Pak Pudjono bertanya :”Kangge sinten Gusti?” Jawabannya :”Kanggo wong akeh.”
Terlihat seperti orang bersila tetapi tidak jelas, kemudian hilang.
Terlihat telapak tangan kanan dan terdengar suara :”Wacanen , suratan takdhir, suratan hidup, kamulyan, kabegjan.”
Kemudian tangan tersebut pindah ke dada dan terdengar suara :”Madhep, manteb, ucul saka bebaya, lelakon, kewirangan, kedhungsang-dhungsang, termasuk kemlaratan.”
Kemudian terlihat orang bersila dengan kedua tangan di atas dengkul terbuka ke atas, suara yang terdengar :”Sumeleh.”
Dari bersila kemudian bangun dan menyembah dan terdengar suara :”Menyat, lingsir, kabul. Wis kabul ujarmu.”
Sesaat kemudian terlihat seperti perempuan telanjang memakai kalung berbandul permata bening, bersila. Tidak ada suara apa-apa. Malah di depan pak Sumeri seperti ada cepuk berisi perhiasan.
Pukul 21.40 terlihat seperti kupat luwar besar, dibuka dan diisi sesuatu (seperti kupat tolak bala) kemudian digantung. Suara yang terdengar :”Ben slamet.”
Kemudian terlihat sajen tumpeng ukuran kecil.
Pukul 21.50 kami berdoa bersama. Yang terlihat ada sebuat jam bundar yang menunjukkan waktu berkisar 7.20-7.30, kemudian berubah namun tidak jelas.
Di depan pak Sumeri terlihat orang memakai sarung warna merah, kemudian berubah menjadi orang yang kurus, tetapi tidak ada suara apapun.
Beberapa saat kemudian terlihat seseorang sedang merokok hampir separo. Aku bergurau terima kasih ada yang menemani merokok kecuali pak Sumeri. Kemudia ada suara :”Tak cecekke ndhak dilokake. Aku Kiai Slamet, arep nylametake keluargamu. Aku saka Parakan dieng.”
Pak Pudjono bertanya apakah kenal dengan Ki Mayangkoro dan dijawab :”Dheweke dahnyange gunung, aku mung wewengkon ngisor. Ben wong-wong ora kemrungsung pengin mulih wae. Wis tak tetegi, tak cegati.” Dieng terlihat merah membara, namun malah ada suara :”Sing abang kuwi arahe kidul kulon saka kene.”
Berkisar 22.10 terlihat dua ekor sapi beradu tanduk, bijig-bijigan.
Pak Sumeri bertanya tentang doa yang selama dia laksanakan apakah sudah benar atau bahkan keliru. Suara yang terdengar :”Rosariomu ditutugake dhisik, lagi panyuwunan siji mbaka siji. Tak baleni maneh rosariomu dibubarake dhisik, lagi panyuwunan. Nek ana pakempalan nuruta wae. Lha yen dhewe, ya ngene iki. Yen ora gelem berubah, jenenge kowe arep merubah sifat doa.”
Pak Sumeri maupun pak Pudjono bertanya apakah perlu memberi tahu warganya dan dijawab :”Apike ora wae, mengko ndhak janggal. Apike tirokna dhisik, kowe mengko ndonga dhewe. Lingkungan Girimas cocok karo karepmu.”
Pak Pudjono curhat bagaimana orang kaya ada ulang tahun saja merayakan dengan misa kudus, sedangkan yang melarat malah cukup sembahyangan walaupun untuk arwah yang sudah meninggal. Merasa tidak sanggup untuk memberikan stipendium yang pantas. Aku jelaskan bahwa stipendium sesuai dengan kemampuan, kalau perlu ditanggung oleh lingkungan. Suara yang terdengar :”Apike kabeh kudu disranani.”
Berkisar 22.45 terlihat simbol genthong besar dan suara yang terdengar :”Isine genthong sumbangan.”
Kemudian kami berdoa bersama sebagai penutup, Hari Senin pak Pudjono setelah mengambil pensiun, akan pulang ke Yogyakarta. Kami bersalaman dan titip salam untuk seluruh keluarga di Yogya.
Hari Seninnya aku mendapat kabar bahwa ada dua teman separoki, ex prodiakon dan dokter gigi meninggal dunia, keduanya diistirahatkan di RS. st. Boromeus Bandung. Sore harinya aku melawat kesana.
26 - 27 Mei 2011
26 Mei 2011
Hari Kamis pagi-pagi sekali kami berkumpul di rumah pak Mardayat. Kami berencana untuk melakukan ziarah ke Rangkasbitung; aku, pak Sumeri, pak Pudjono, pak Abraham, pak Yohanes BP dan mas Agus Budianto. Ternyata pak Mardayat tidak bisa berangkat, dan beliau kami minta untuk memimpin doa sebelum keberangkatan. Beliau malah menyiapkan lontong untuk makan sarapan di perjalanan.
Perjalanan ke Rangkasbitung cukup lumayan melelahkan, berangkat pukul 06.30 dan sampai di kampung Narimbang sekitar 12.30. Tujuan kami berziarah ke gua Maria Kanada yang berada di belakang Akademi Perawat di kampung Narimbang.
Setelah makan siang di warung sekolah, kami berjalan menuju ke gua dan bertemu pak Saimin dan istri yang sedang membersihkan lantai dan halaman gua maupun kapel untuk persiapan misa kudus. Kami baru mengetahui bahwa setiap malam Jumat Kliwon selalu diadakan ibadat jalan salib yang dilkanjutkan dengan perayaan Ekaristi, yang dimulai pada pukul 22.00. Hal tersebut kami anggap kebetulan, atau sebenarnya malah tuntunan Tuhan sendiri. Pada awalnya kami merencanakan akan berangkat pada hari Rabu, namun karena sesuatu hal mundur sehari. Pemikiran kami, pada malam Jumat Kliwon biasanya kami berkumpul di rumah pak Mardayat. (Rencanamu rencanamu, rencanaKu rencanaKu)
Aku berdoa di depan gua sebentar, kemudian pindah ke samping kiri di sebelah patung Bunda Maria. Sewaktu berdoa dengan mata tertutup, rasanya seperti berubah menuju kegelapan yang menyelimuti, namun kemudian berubah menjadi terang kembali. Pak Abraham malah merasakan dan melihat ada sinar seperti kilat. Pak Pudjono malah merasakan suasana yang begitu tenang dan mantap. Sedangkan pak Yohanes malah merasakan aroma bau bunga, biasanya simbul bahwa ada orang yang meninggal .
Kemudian kami kembali ke tempat istirahat model rumah panggung yang terbuka berlantai bambu (galar) di depan gua. Sambil istirahat kami mandi dan pesan minuman ke pak Saimin. Kemudian datang seseorang dan memperkenalkan diri sebagai pak Saban. Tidak tahunya beliau masih ada hubungan saudara dengan pak Saan almarhum, salah satu anggota Durpo. Beliau yang menjelaskan bahwa gua Kanada adalah singkatan dari gua Maria yang berada di KAmpung NArimbang DAlam, dibangun sekitar tahun 1986.
Pak Saban jebolan seminari dan bercerita banyak pengalaman, bagaimana melakukan ibadat jalam salib tengah malam selama 40 hari tanpa henti. Hari ke 40 dilakukan jalan salib di gua Maria Sawer Rahmat di Cigugur bersama teman-teman. Bagaimana beliau “melihat" keluarga kudus Nazaret dalam penampakan rohani. Kemudian pak Saban menelpon teman-temannya.
Sewaktu kami masih mengobrol, pak Pudjono berkata bahwa dia melihat “bulus.” Aku menangkap bahwa selama ini bulus menjadi simbul bagi kami, bahwa Bunda Maria berkenan hadir (bulus = ibu kang mulus). Pak Pudjono bertanya apakah nama gua di tempat ini. Yang didengar pak Pudjono kurang lebih :”Guwo kene kang diarani gua Nur. Tegese cahyo kang adi. Ana kene muncul cahyo adi putih. Gunane kanggo mbrantas kamurkan sing ono awakmu dhewe. Iso kanggo ngalahake api kemarahan dadi api suci. Wujude sinar kudus, api kudus. Saiki durung wektune, mengko jam 23....koyo ...cemlorot, warno putih koyo awakmu. Wis semene wae.”
Berkisar pukul 20.30 pak Pudjono melihat simbul selendang sutera berwarna putih. Selama ini kami ketahui bahwa itu simbul Bunda Maria sebagai bunda pengantara. Kami mengucap syukur dan berterima kasih.
Aku tidak tahu pada waktu pak Pudjono bercerita tentang ki Fadjar Baru yang sekarang sedang berkarya di Amerika, Timur Tengah, India dan China. Ada yang bertanya mengapa koq tidak ke Indonesia, suara yang didengar mengatakan :”Indonesia goblog, ora gelem berubah.”
Obrolan terhenti, karena sudah banyak umat yang berdatangan untuk melaksanakan ritual rutin. Selain kelompok kami, ada juga yang dari Jakarta, Serang dan sekitarnya.
Berkisar pukul 22.00 kami semua melaksanakan ibadat Jalan Salib, yang berlangsung hampir dua jam. Karena baru selesai turun hujan, maka jalan yang kami lalui cukup licin dan cukup gelap. Tetapi malam itu bintang-bintang bertaburan di langit. Di pemberhentian ke 6 - 7 yang terlihat simbul lampu teplok. Pak Yohanes menerima panggilan telepon bahwa ada yang meninggal.
Tengah malam setelah selesai jalan salib dilanjutkan dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh romo paroki Rangkasbitung. Semua umat menerima Tubuh dan Darah Kristus, yang bagi kami menjadi suatu karunia yang luar biasa.
Selama misa kudus pak Pudjono melihat simbul di dekat altar, seseorang yang kurus dan telanjang bulat. Sewaktu ditanya siapa, suara yang terdengar adalah :”Yokuwi awakmu dhewe.” Kata-kata tersebut bagi kami bermakna yang begitu dalam, bahwa di hadapan Tuhan kita harus telanjang, karena memang tidak ada yang bisa ditutup-tutupi. Hampir seperti yang aku katakan sewaktu masih ngobrol di petang hari, bahwa diberkatilah mereka yang miskin di hadapan Allah, bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa.
Aku ngobrol dengan mas Agus, peziarah dari Serang sampai sekitar pukul dua pagi. Dia bercerita bertemu dengan Tuhan Yesus dan mengadakan perjanjian, sewaktu anaknya sakit dan hampir tidak tertolong lagi. Demi janjinya, dia siap menerima keadaan hidup pas-pasan walau tadinya kaya raya.
27 Mei 2011
Hari Jumat pagi kami bangun dan berdoa secara pribadi di depan gua Maria Nur. Dari Rangkasbitung kami melanjutkan perjalanan pulang lewat Bogor dan mampir ke Cikanyere. Karena banyak jalan rusak dan macet, kami baru sampai ke Cikanyere setelah lewat tengah hari. Suasana di Cikanyere cukup sepi karena hari biasa, kecuali sekelompok orang yang sedang melaksanakan retreat.
Sewaktu kami akan memulai jalan salib, sepertinya terlihat simbul bulan yang terang mendahului kami. Kami berdoa bersama mengucap syukur dan memulai doa permenungan jalan salib. Pak Pudjono melihat sepertinya kita semua diberi lembaran kartu yang harus diisi nama kita masing-masing.
Pada pemberhentian ke dua, pak Pudjono melihat sepertinya kita diberi kertas untuk diisi intensi kita masing-masing. Pada pemberhentian ke tiga, sepertinya semua kertas dikumpulkan, kemudian diganti dengan kartu nama yang dikalungkan dan diberi cap.
Pada pemberhentian ke lima, sepertinya terlihat simbol gelang dan cincin, suara yang terdengar disuruh memilih. Aku tidak tahu maksudnya.. Pada pemberhentian ke enam yang terlihat simbol telur dan suara yang terdengar :”Gawanen mulih.” Menuju ke pemberhentian ke tujuh, sepertinya kami diminta untuk antri satu persatu dan kami sepertinya diguyur air. Pada pemberhentian ke delapan yang terlihat simbol salak.
Sewaktu kami menuju ke pemberhentian ke duabelas, yang terlihat pak Pudjono agak aneh; lidi, bantal, tepas bambu, kendi kecil. Biasanya simbol-simbol tersebut untuk orang yang akan meninggal. Di pemberhentian ini bentuknya salib besar berwarna putih keperakan, berbeda dengan yang lainnya. Selesai kami berdoa, yang terlihat hanya simbol lilin menyala. Kami melanjutkan sampai ibadat jalan salib selesai.
Kemudian kami istirahat dan berjalan-jalan mengelilingi gereja besar yang berbentuk setengah lingkaran atau kipas terbuka. Gereja Santa Theresia. Rencananya kami akan mengikuti perayaan Ekaristi berkisar pukul 17.30. Sewaktu kami, aku, pak Sumeri dan pak Pudjono sedang istirahat dan ngobrol di samping gereja, terlihat simbol bulus berjalan melewati kami. Kami bertiga setengah berlutut berdoa dan bertanya. Suara yang terdengar :”Apike mulih wae, ora usah melu Misa.” Aku agak kaget dan bertanya siapa dan mengapa. Suara yang terdengar :”Pokoke mulih wae.” Pak Pudjono melihat simbol tempat tidur yang di dorong seperti di rumah sakit. Pikiran kami agak kaget, sepertinya aka nada apa-apa.
Akhirnya kami memutuskan pulang ke Bandung dan mampir dahulu ke rumah pak Mardayat. Kami meminta beliau untuk mempimpin doa syukur telah sampai dengan selamat. Tiba-tiba handphone pak Yohanes berdering dan mengabarkan ada pasien yang meninggal. Selesai berdoa pak Yohanes mendahului pulang. Kami masih mengobrol sejenak bercerita tentang perjalanan kami.
Selama Pak Pudjono di Bandung
31 Mei 2011
Hari-hari sebelumnya sewaktu aku dan pak Sumeri ke rumah pak Pudjono, suasana sepi walaupun banyak simbol yang terlihat. Simbolnya dalam benak kami berkaitan dengan kematian. Yang terlihat selalu antara teplok, anglo, pisang satu biji, kelapa dibelah.
Hari Selasa siang aku dan pak Sumeri ke rumah pak Pudjono dan ngobrol bersama. Kami bertanya mengapa simbolnya koq berkaitan dengan kematian. Kira-kira siapa, apakah kami mengenalnya. Biasanya memang kita kenal. Yang jelas pak Yohanes sudah mengurusi du orang yang sudah meninggal.
Berkisar pukul 16.00 pak Pudjono melihat simbol orang gemuk namun tidak kelihatan kepalanya. Pada awalnya berdiri, kemudian duduk bersila seperti bersemedi. Sewaktu kami tanya siapa koq aneh tanpa kepala, ada suara jawaban :”Pisowanan iku kudu ngene iki, pikirane ora ana. Mula ora nganggo sirah. Yen ngadeg tegese kowe isih nggoleki, durung patemon. Yen wis patemon kowe lungguh utawa jengkeng. Pisowanan alias ngadhep alias dumunung. Dumenung kuwi ana. Gunane kanggo nyadhong dhawuh, kanggo karaharjan, kanggo atur teka-teki. Kudune atur pisungsung dhisik, kanggo samubarang wae biso. Ndhek mau wis diwiwiti rosario; kanggo, oleh, pantes. Ora usah koq karang, koq eling-eling, spontan wae. Kanggo ngempelke ujub, kanggo ngempelke atur, Gusti wis pirsa.”
Kemudian yang terlihat seperti anak-anak agak gemuk berkulit kuning. Jangan-jangan berkaitan dengan permohonan pak Sumeri. Suara yang terdengar :”Nek ana tetingalan mengkene, isenana panuwunan gegadhang. Sebab bocah kuwi isih resik, isih mulus. Mula sesuwuna ben dadi, ben gangsar, ben lancar. Alfonsus (anaknya Andrianus Green Hill) klebu kategori iki.”
Setelah berhenti sejenak, terlihat simbol bulus. Pikiranku melayang ke Bunda Maria. Suara yang terdengar :”Gunane kanggo dongakake wong kang perang, kang padha padudon, kanggo nyirep prakara, kanggo nyirep ….. . Becike kanggo nglerenake. Nek ing kono ora ana unsur padudon, ora bisa.”
Beberapa saat kemudian terlihat simbol bunga pagi sore, katanya bunga fajar baru, dan suara yang terdengar :”Dadi kowe kudu bisa mbedakake kembang iki karo mawar. Ana titik terang, ana gegayuhan tercapai, ana pinuwunan kabul. Iki jenenge Kembang Sejati. Iki sifate tandha kanggo perseorangan. Yen ana simbol iki, menang.”
Kemudian terdengar suara yang melanjutkan ajaran awal :”Bubar atur pisungsung lan panuwunan, ditutup nganggo donga dawa, donga komplit (Bapa kami, Salam Maria, Kemuliaan, Terpujilah, berkat); paseban rampung.”
Beberapa saat kemudian yang terlihat seperti orang tua, telinganya besar njepiping, latar belakangnya berwarna putih. Suara yang terdengar :”Aku bapakmu dhewe-dhewe, utawa wong tuamu dhewe-dhewe. Eyangmu dhewe-dhewe. Aku ora duwe jeneng; kabeh lempeng kabeh pener. Jenenge Roh Asli. Papan dununge ana dhuwur. Pokoke Bapa Suci XXXXXXXXX. Ndang tutupen Aku selak kondur. .....Ngono wae koq gela.”
Kemudian kami berdoa penutup bersama-sama. dan kami mau bubaran.
Tiba-tiba terlihat manusia namun wajahnya hampir seperti kera walaupun giginya model manusia. Dia berjalan dari atas turun ke tempat kami dan berdiri di depan pintu. Sewaktu kami tanya siapa, dia menjawab:”Aku Kangjeng Babi Putih. Aku arep melu mulih karo pak Darmono. Aku arep njaluk suwuk, anakku ora bisa mlaku. Aku manggon ana Mangunan Rawakele; Mangunan Bojong, Tengere pedhut. Intine anakku ora iso mlaku, njaluk tamba. Sesuk wonge gen ketemu dhewe, lakonana.”
Aku agak kaget dan bingung karena biasanya yang jadi perantara pak Pudjono atau pak Sumeri. Suara yang terdengar :”Pak Darmono, kena apa kowe durung manteb karo tanganmu sing ana berkate?” Aku mengiyakan dan akan percaya sepenuhnya akan berkat Tuhan, biarlah Dia yang berkarya dan aku hanya saranaNya saja.
1 Juni 2011
Aku, pak Mardayat, pak Sumeri, mas Agus Budianto berkumpul di rumah pak Siahaan pada malam hari. Kami ngobrol macam-macam dan keinginan keluarga pak Siahaan ingin menanyakan bagaimana kemungkinannya Leo yang akan test psikologi untuk masuk ke IPDN, Demikian juga keponakannya yang test UMPTN.
Berkisar mendekati jam sembilan malam kami berdoa bersama-sama. Simbol yang terlihat pak Pudjono sebiji kacang tanah berisi dua biji. Sore harinya pak Pudjono melihat simbol seperti buah bligo atau markisah jawa beberapa biji diletakkan di atas tampah bambu.. Kelihatannya berkaitan dengan jumlah kedatangan kami di rumah pak Siahaan.
Kemudian terlihat simbol keris gayaman yang pegangannya berwarna putih. Setelah keris ditarik keluar, bentuknya wilahan tanpa luk, kemudian dimasukkan kembali.
Penglihatan lainnya sepertinya masih berkaitan dengan kematian. Berkisar pukul sebelas malam kami pamitan pulang. Agus Budianto sudah lebih dahulu pulang. Tidak tahu mengapa pak Pudjono. pak Sumeri dan Agus Budianto sudah ngantuk sekali. Aku mengantarkan pak Mardayat pulang.
2 Juni 2011
Malam hari aku berdua dengan pak Pudjono ngobrol di rumahnya. Seperti kemarin, simbol yang terlihat pisang sesisir memakai tali, anglo dan botol berisi minyak. Kemudian anak kambing bertenga panjang. Teplok, malah ayam putih yang sudah mati.
Setelah itu malah gunung berapi, bata satu biji; baju putih masih baru digantungan hanger.
Tidak ada suara apapun yang terdengar, yang bisa memberi penjelasan tentang tanda-tanda tersebut.
4 Juni 2011
Hari Sabtu aku ditelpon pak Sumeri, ditunggu di rumah pak Pudjono. Sejak hari Jumat aku sekeluarga mengikuti novena misa kudus setiap sore, menyongsong kedatangan Roh Kudus di hari Pentakosta. Aku menjemput pak Yohanes dan sekalian membawa nasi dan lauk untuk makan bersama. Pak Sumeri juga sudah membawa dari rumah.
Berkisar pukul 12.00 pak Sumeri berdoa rosario sambil bersila di bawah, aku dan pak Pudjono duduk di kursi. Di depan pak Sumeri terlihat seperti kotak persembahan. Pak Pudjono memberi tahu bahwa terlihat seperti Bunda Maria berbentuk kecil di depan pak Sumeri. Kemudian seperti terlihat seorang perempuan berpakaian seperti kimono bersabuk lebar. Dia mengaku bernama Dewi Oei dari Thailand. Suara yang terdengar :”Oei tegese putri cantik, Bunda sing rawuh saka kana; aku sing negesi (sepertinya Bunda Maria “menyatu ke tubuh Dewi Oei). Aku sing ngawaki..”
Sepertinya pak Sumeri diberi selendang putih, bertulisan seperti huruf Jawa :”Padha para samya nuGRAHA, lumebet ing alam baka.” Simbolnya bulan sabit kecil. Agak aneh karena graham memakai huruf besar.
“Aku Bracea of grade. tegese aku tangan kang diagem. Aku sakbenere ana Asia Timur. Wakile Bunda Maria ora mung aku; akeh kang ditunjuk. Dina iki aku.”
“Cobanen wae kanggo gelut marang persepsi, marang penganggepe wong kang menentang ilmumu (=ora percaya). Gampangane lidhahku kang njulur ngucap.”
“Alfonsus dipakani cecak, mengko rak mari, dangan, zirich(?)”
Pak Pudjono bertanya tentang Obat kanggo wong sing angel meteng, Gambaran yang terlihat agak aneh, kemaluannya dimasuki belut hidup. Hal tersebut berlaku bagi laki-laki dan perempuannya.
Dewi Oei :”Becike padha mangan dhisik, mengko ditutugake maneh.” Aku mengajak Dewi Oei makan bersama namun dijawab bahwa sudah membawa sendiri roti berwarna putih. Kami ngobrol bersama macam-macam sambil menghisap rokok, kecuali pak Sumeri.
Selama ngobrol malah terlihat seorang perempuan sedang habis mandi kramas. Ada jawaban dari arti kotak persembahan yang bermakna bahwa sebelum bersetubuh jangan engkel-engkelan dulu. Kelihatannya memang simbol untuk anak dan menantu pak Sumeri yang belum punya anak sendiri.
Pak Yohanes pamitan lebih dahulu setelah menerima telpon. Kami tidak tahu apakah ada yang meinggal lagi atau keperluan lain.
Pak Pudjono bertanya tentang simbol cahaya yang bermacam-macam.
“Mak pyur…., kaya kemukus , tegese sukma ilang;
“Putih lurus, tegese kudus;
“Cahya abang tegese nistha;
“Wong ketok ireng, golekana ana Alkitab;
“Cahya biru mlaku tegese pindahing jalmo saka kodrat dadi hegar:
“Sinar biru mandheg tegese umume kanggo wong bebal, wong sing ora bisa owah, ora bisa interaksi; biasane manggon ana wong pangreh. Gegambarane wong sing kepanjingan sunar cemlorot, sinar gegambaran kedadean, kuwi mung tandha.”
Aku bertanya tentang Santo Yusuf yang begitu sedikit tertulis dalam Alkitab. Dewi Oei menjawab:”Santo Yusuf kuwi tegese Yoel. Tegese sabda, arane saka kana. Asale saka dhuwur sing kuasa. Yoel ana kene tegese suci, samubarang resik. “Sih kadarman Dalem” Terjadi karena kerahiman Allah, kemurahan Allah. Dadi saka krsane kang kuwasa. Secara kepemimpinan dheweke iku Mikhael. Secara rohani Yoel - pribadine.”
Aku bertanya tentang umur, kapan meninggal dan sebagainya.
Dewi Oei:”Wektu kawin jarene umur 43. Sing jelas wis romo, wis bapa, ya wis yuswa. Keterangane tegesna dhewe.”
“Bunda Maria ketemu malaikat angkane 16 (ditulis miring ke kiri, aneh), tegese kencur, Kenya.”
Aku bertanya lagi tentang Santo Yusuf yang jadi pelindung Durpo, karena merasa belum jelas. Dewi Oei :”Mengko nek aku ngomong, kowe dipoyoki.” Aku jawab tidak apa-apa karena kami mencari kebenaran cerita atau dongeng.
Jawaban Dewi Oei :”Tanggal 3 (telu) Maret disebut grahana mati. Santo Yusuf kuwi sedane telu Maret, ora ana liyane. Tahune 73 (pitu telu). Pasarane Turi majeg. Dinane dina wiwitan, pasaran ke telu (menurutku Pon; ada gambaran makna orang membawa obor seperti dalam olag raga) Saiki Santo Yusuf lagi ana Timur Tengah, ngewangi wong demo. Ngewangi wong dagang asor, wong terlantar, wong kecumpen.”
Kami mencoba menghitung namun malah bingung sendiri, maka kami tanyakan kembali karena merasa tidak cocok. Jawaban Dewi Oei :”Pathok-pathokane Masehi. Biasane sing kok takokake umure, dudu tahune. Jatahe pitu telu seda, pitu enem mekrad. Ngenteni sewu dinane. Sara barat ya ana. Gusti Yesus mekrad swarga, Santo Yusuf isih urip. Ora let suwe ora ana, seda; marani bapa-bapa soleh, bapa-bapa wahid. Marani sing isih isa ditulungi, diapiri amrih dalan padhang. Lajeng minggah wonten papan pangentosan, nengga jemputan - panggilan; rawuhe Gusti Yesus. Banjur diajak sesarengan minggah. Thok.”
“Ana donya Santo Yusuf diarani bapa bangsa putih, bapa oei, bapa suci. Ana ing swarga diarani Bapa Gurdha, tegese bapa guru suci sagala bangsa, bapa guru suci segala umat manusia.”
“Santo Yusuf dados panguasaning nyepeng pintu swarga, berhak ngenep lan mbuka, nutup lan mbukak. Nyepeng pintu abadi.”
Pak Sumeri bertanya apakah bukan Santo Petrus yang memegang kunci dan dijawab Dewi Oei :”Santo Petrus kuwi tuladha kuncine munggah swarga. Tuladha prakaryan ben munggah swarga. Dadi tegese kunci, kabecikan lan tuladha. Santo Petrus mung nyepeng Kunci Sejati, sejatine urip, sejatine dalan.”
Berkisar pukul 15.00 pak Sumeri berdoa sendiri karena sudah kebiasaan rutin. Pak Pudjono memberi tahu bahwa ada patung Bunda Maria berpakaian biru, kecil di hadapan pak Sumeri. ?Yang terlihat ada tulisan atau suara :”Sion amandem (?)..Sion of woman wonderful classic. Jawane Ibu kang mulus tanpa cacat.”
Pak Pudjono bertanya pakah Bunda Maria akan memberikan pengajaran baru bagi kami semua, namun jawabannya agak aneh :”Badanku lagi lungkrah, lagi kesel, kakehan ujub.”
Tiba-tiba pak Pudjono melihat Tuhan Yesus di salib, kepalaNya tertutup kain putih baru bermahkota duri. Kakinya agak tertekuk ke atas dan badanNya melekung ke arah kami. Kami bertiga berlutut bersila dan berdoa. Pak Pudjono malah menangis tersedu-sedu saking terharunya. Kami hanya bisa mengucap syukur dan berterima kasih walaupun hanya sebantar bertemu dengan Tuhan Yesus. Kami bertanya apakah ada pengajaran dan dijawab :”Gusti ora paring dhawuh, mung wartakna.”
Kami bertiga berdoa panjang sebagai penutup, karena sebentar lagi kami akan ke gereja untuk mengikuti novena misa kudus menyongsong kahadiran Roh Kudus.
5 Juni 2011
Hari Minggu selesai perayaan Ekaristi sore hari, pak Sumeri mengajakku ke rumah pak Pudjono. Aku iyakan setelah mengantar istri pulang ke rumah.
Berkisar pukul delapan malam simbol yang terlihat adalah gong besar, kemudian potongan bambu model untuk tempat jimpitan yang di letakkan di tembok. Setelah itu terlihat seperti kitab suci tetapi tidak tebal dan tidak terdengar suara apapun. Kemudian terlihat kembang pacing yang bentuk hampir seperti buah rosella merah.
Bebeapa saat kemudian terlihat buah mahoni dan ada suara :”Mahoni kuwi umuk.”
Sesaat kemudian terlihat seperti poci kecil ada tutupnya, cenderung seperti cupu. Suara yang terdengar :” Cupu kuwi uga umuk …..kuluk, ….. ningrat, ….. ambassador, ….. kill.” Kemudian gambaran bendera berkibar dan terdengar suara pujian :”Glory….glory …Halleluya…”
Kami ngobrol dan aku berpendapat bahwa kalau dimaknai secara positif buah mahoni yang putih dan pahit itu bisa menjadi obat, yang selanjutnya secara bertahap malah bisa meningkat menjadi kuluk, diwisuda kemudian meningkat menjadi keluarga kerajaan menjadi ningrat. Pada saatnya malah menjadi duta atau utusan yang harus bisa membunuh ego kita masing-masing, demi melayani Tuhan. Pada saatnya akan ada pekik orak memuji dan memuliakan Allah.
Beberapa saat kemudian terlihat simbol telur putih di atas cawan. Suara yang terdengar :”Bibit kawit muncul.” Namun kemudian berubah menjadi sandal perempuan . Pak Pudjono bertanya :”Kangge sinten Gusti?” Jawabannya :”Kanggo wong akeh.”
Terlihat seperti orang bersila tetapi tidak jelas, kemudian hilang.
Terlihat telapak tangan kanan dan terdengar suara :”Wacanen , suratan takdhir, suratan hidup, kamulyan, kabegjan.”
Kemudian tangan tersebut pindah ke dada dan terdengar suara :”Madhep, manteb, ucul saka bebaya, lelakon, kewirangan, kedhungsang-dhungsang, termasuk kemlaratan.”
Kemudian terlihat orang bersila dengan kedua tangan di atas dengkul terbuka ke atas, suara yang terdengar :”Sumeleh.”
Dari bersila kemudian bangun dan menyembah dan terdengar suara :”Menyat, lingsir, kabul. Wis kabul ujarmu.”
Sesaat kemudian terlihat seperti perempuan telanjang memakai kalung berbandul permata bening, bersila. Tidak ada suara apa-apa. Malah di depan pak Sumeri seperti ada cepuk berisi perhiasan.
Pukul 21.40 terlihat seperti kupat luwar besar, dibuka dan diisi sesuatu (seperti kupat tolak bala) kemudian digantung. Suara yang terdengar :”Ben slamet.”
Kemudian terlihat sajen tumpeng ukuran kecil.
Pukul 21.50 kami berdoa bersama. Yang terlihat ada sebuat jam bundar yang menunjukkan waktu berkisar 7.20-7.30, kemudian berubah namun tidak jelas.
Di depan pak Sumeri terlihat orang memakai sarung warna merah, kemudian berubah menjadi orang yang kurus, tetapi tidak ada suara apapun.
Beberapa saat kemudian terlihat seseorang sedang merokok hampir separo. Aku bergurau terima kasih ada yang menemani merokok kecuali pak Sumeri. Kemudia ada suara :”Tak cecekke ndhak dilokake. Aku Kiai Slamet, arep nylametake keluargamu. Aku saka Parakan dieng.”
Pak Pudjono bertanya apakah kenal dengan Ki Mayangkoro dan dijawab :”Dheweke dahnyange gunung, aku mung wewengkon ngisor. Ben wong-wong ora kemrungsung pengin mulih wae. Wis tak tetegi, tak cegati.” Dieng terlihat merah membara, namun malah ada suara :”Sing abang kuwi arahe kidul kulon saka kene.”
Berkisar 22.10 terlihat dua ekor sapi beradu tanduk, bijig-bijigan.
Pak Sumeri bertanya tentang doa yang selama dia laksanakan apakah sudah benar atau bahkan keliru. Suara yang terdengar :”Rosariomu ditutugake dhisik, lagi panyuwunan siji mbaka siji. Tak baleni maneh rosariomu dibubarake dhisik, lagi panyuwunan. Nek ana pakempalan nuruta wae. Lha yen dhewe, ya ngene iki. Yen ora gelem berubah, jenenge kowe arep merubah sifat doa.”
Pak Sumeri maupun pak Pudjono bertanya apakah perlu memberi tahu warganya dan dijawab :”Apike ora wae, mengko ndhak janggal. Apike tirokna dhisik, kowe mengko ndonga dhewe. Lingkungan Girimas cocok karo karepmu.”
Pak Pudjono curhat bagaimana orang kaya ada ulang tahun saja merayakan dengan misa kudus, sedangkan yang melarat malah cukup sembahyangan walaupun untuk arwah yang sudah meninggal. Merasa tidak sanggup untuk memberikan stipendium yang pantas. Aku jelaskan bahwa stipendium sesuai dengan kemampuan, kalau perlu ditanggung oleh lingkungan. Suara yang terdengar :”Apike kabeh kudu disranani.”
Berkisar 22.45 terlihat simbol genthong besar dan suara yang terdengar :”Isine genthong sumbangan.”
Kemudian kami berdoa bersama sebagai penutup, Hari Senin pak Pudjono setelah mengambil pensiun, akan pulang ke Yogyakarta. Kami bersalaman dan titip salam untuk seluruh keluarga di Yogya.
Hari Seninnya aku mendapat kabar bahwa ada dua teman separoki, ex prodiakon dan dokter gigi meninggal dunia, keduanya diistirahatkan di RS. st. Boromeus Bandung. Sore harinya aku melawat kesana.
Rabu, 08 Desember 2010
Durpa ke Jateng dan Jatim
Perjalanan Durpa ke Jawa Tengah dan Jawa Timur 2010
24 -30 November 2010
24 November 2010
Hari Rabu pagi-pagi sekali aku sudah ditelpon pak Sumeri. Sebagian kelompok Durpa akan berangkat ke Yogyakarta, yang terdiri dari aku, pak Sumeri, pak Yohanes, mas Agus Budianto, pak Sugeng dan pak Hartono. Yang pegang sopir mas Sugeng yang memang pandai mengendalikan mobil.
Sebelum tengah hari, kami sudah sampai di Wangon dan mencoba mencari gua Maria di daerah Wangon. Kenyataannya kami belum menemukannya, malah ditunjukkan oleh orang sekitar sana dengan peta. Peta tersebut ternyata malah mengarahkan kami ke gua Maria di Kaliori. Kebetulan sedang ada penguburan warga Katolik di kuburan Kaliori. Kebetulan mas Agus, mas Sugeng dan mas hartono belum pernah ke Kaliori. Maka kami melakukan permenungan perjalanan salib, dengan cara masing-masing.
Dalam perhentian X ketika Tuhan Yesus ditelanjangi, sewaktu aku meninggalkannya, sepertinya mulut patung Tuhan Yesus terbuka dan minta bantuan. Aku mendekat kembali dan menempelkan telinga ke dekat wajah patung Tuhan Yesus. Aku tidak mendengar apa-apa. Dalam perenunganku, Tuhan Yesus ditelanjangi, dihina dan dipermalukan habis-habisan. Dalam hatiku bertanya, apakah Tuhan Yesus meminta agar aku jangan ikut-ikutan mempermalukan Dia?
Berkisar pukul sembilan belas lebih, rombongan kami sampai di rumah pak Pudjono. Kami ngobrol sebentar dan makan malam, kemudian banyak yang istirahat tidur. Tinggal kami bertiga, aku, pak Pudjono dan pak Hartono. Pak Hartono bertanya tentang katuranggan simbul kupu-kupu hitam, dan kami saling berkomentar karena sudah lupa.
Kemudian pak Pudjono bertanya kepada yang kudus, tentang aura kami. Aura pak Pudjono berwarna putih tetapi masih berkabut. Suara yang terdengar :”Isih ana barang sing kowe durung ikhlas. Pokoke sumeleha dhisik. Mikire mbesok.”
Pak Pudjono bertanya tentang katuranggan jago hitam, jawaban yang didengar :”Ya dicekel dikurung, diingu, dianggo ngabotoh. Mulakna dudu wiring kuning itawa wido sikile kuning. Beda tegese, beda anggon-anggone. Dudu jago adon ning jago..”
Auraku berwarna putih transparan, tetapi masih ada kabutnya.
Aura mas Hartono berwarna putih tetapi masih ada kuningnya. Sewaktu bertanya tentang kupu-kupu hitam, dijawab kalau masih ada pamrih. Kemudian terlihat simbul kupu-kupu, di sebelahnya ada burung pengisap madu paruh panjang berwarna biru. Kami berkomentar dan kemudian ada suara :”Kupu-kupu putih wis wani los, wani gundhul, wani babak bundhas. Kupu-kupu kuning isih kurang persaja, isih diunggulke, isih golek alem. Kupu-kupu ireng tegese isih wedi kleru, isih kedhungsang-dhungsang. Lha yen dasi kupu-kupu putih tegese disisi sandhang pangan papan uwis langkep. Ilangna milike, rak malah sugih. Anggepen barang sing durung kecekel, durung bali, durung ketemu rampung.”
Pak Sumeri bangun dari tidur dan bergabung dengan kami. Setelah tengah malam, simbul Durpa yang terlihat adalah jamur yang sedang mekar. Suara yang terdengar :’Ya lagi berkembang, lagi sugih bala, puncaking karsa.”
Setelah beberapa saat, mas Hartono melihat roh yang keluar dari tubuhku, berbentuk orang berjubah putih yang disampirkan. Rambutnya tidak terlalu lebat dan berjenggot tidak panjang. Setelah beberapa saat kemudian berubah menjadi lebih tua membawa tongkat dan kunci yang diacungkan. (Santo Petrus)
Suara yang terdengar pak Pudjono :”Coba deloken, saiki rak wis berubah ta. Sing didelok mau kae isih Simon. Tegese isih menggembala, mengembara, golek pengikut, golek wong kang gelem melu. Gampangane golek kanca, jenenge durung murid. Yen wis sowan Gusti Yesus, jenenge murid, pengikut alias Amalia. Petrus kang saiki jenenge Bapa Pengawal, Bapa Pangayom, Bapa Baladara. Tegese melindungi kowe kabeh ben tatag, ben ora monga-mangu, ben tekan lampahe, becik suasane, luhur bebudene, gamblang piandele, tekan samubarange. Cekake Petrus kang madhep manteb, rosa, kuat penggalihe. Sampun.”
Apakah akan mendampingi perjalanan kami? Dijawab :”Ya kuwi, wis dadi kewajibane.”
Kemudian ada simbul dua buah jamur mekar yang payungnya disatukan, diatas dan dibawah seperti hanya dibatasi dengan kaca. Suara yang terdengar :”Tegese sak pemikiran, sak urapan, sak kedadean, sak paningal, ananging beda kahanan, beda asal panggonan. Kowe ana ngisor Aku ana dhuwur. Becike, secara pemikiran padha, kowe ana kono Aku ana kana. Mengko rak ketemu. Wis, bahasen dhisik.”
Aku bertanya mengapa santo Petrus muncul dari diriku? :”Jare dhalange kowe.”
Kemudian pak Pudjono melihat simbul jago dan babon, sedangkan mas Hartono melihat simbul salib. Suara yang terdengar :”Kuwi sing kanggo dudu salibe. Nggon palang kuwi ana gambare apa?” Pak Pudjono melihat seperti bulatan putih yang kemudian berubah gambar Tuhan Yesus dan gambar hati merah darah. Apakah simbul tersebut menandakan bahwa Tuhan Yesus hadir? Pak Pudjono sepertinya diperintahkan untuk mengambil air bening di gelas, berdiri dan dipersembahkan ke atas. Setelah diberkati, aku diminta untuk minum sebagian, kemudian pak Sumeri, pak Hartono dan dihabiskan oleh pak Pudjono.
:”Gusti rawuh ora suwe, sing penting piyandelmu, kekarepanmu, panggulawenthahmu neng sapa wae. Tutur aturmu, pasowananmu, mongkoging atimu lan panjalukmu, panuwunmu lancar lan kabul.”
Kemudian Tuhan Yesus memberkati kami dan kami jawab :Amin.
Berkisar pukul empat pagi kami istirahat.
25 November 2010
Hari Kamis pagi rombongan Durpa pergi ke lereng gunung Merapi, menengok para saudara yang tertimpa bencana. Kami mengunjungi keluarga mas Hartono yang sebelumnya jadi tempat pengungsian, walaupun akhirnya semuanya harus mengungsi. Setelah makan siang, kami melanjutkan perjalanan ke gereja Somahitan ingin bertemu romo Yatno. Kebetulan romo sedang istirahat dan pas hujan lebat. Banyak orang sedang membersihkan gereja, karena hari Minggunya aka dipakai untuk misa perdana pasca mengungsi. Perjalanan kami lanjutkan ke rumah pak Suyatno yang kebetulan sudah kembali dari pengungsian,. Rumah pak Sumadi masih masuk dalam lingkaran awas ring satu, sehingga kami tidak bisa kesana. Kami langsung ke rumah pak Kasmin yang sedang sakit. Ibu Kasmin bercerita bagaimana suasana pada saat itu sewaktu harus mengungsi, dengan tanggungan membawa pak Kasmin yang begitu besar dan berat. Aku mengajak para saudara untuk berdoa bersama bagi pak Kasmin
Kemudian kami kembali ke rumah mas Hartono untuk istirahat dan menginap. Kami ngobrol dengan pengungsi di sebelah rumah, yang dipakai untuk tempat evakuasi terdekat dengan Merapi. Semua orang sudah istirahat dan aku ngobrol dengan mas Hartono berdua. Kemudian pak Pudjono bangun dan menyusul kami untuk ngobrol bertiga. Kemudian menyusul pak Sumeri bergabung belakangan.
Waktu sudah melewati tengah malam, mas Hartono bertanya tentang penunggu gunung Merapi itu sebenarnya siapa. Jika bisa mbok jangan ada lagi bencana. Pak Pudjono mencoba berkomunikasi secara rohani, kemudian dari atas gunung seperti ada orang yang berjalan mendekati kami, berdiri di jalan. Sewaktu ditanya siapa namanya, dia mengaku bernama Ki Modjosongo. Sepengetahuan kami Modjosongo adalah nama daerah yang berada di Solo. Suara yang terdengar :”Modjosongo tegese padha karo Solo.” Yang terlihat ada gambaran seorang prajurit kraton. Ada penjelasan bahwa sebelum Ki Modjosongo yang menjaga bernama Ki Pandanarang dan masih dibawah penguasa gunung Lawu. Agar tidak terkena dampak bencana, maka ada syarat yang diminta, yaitu menanam pohon sukun. Mungkin menjadi kewajiban mas Hartono untuk mengkomunikasikan kepada para saudara dan tetangga di lereng Merapi.
Kemudian mas Hartono ingin mengetahui siapakah cikal bakal desa Tanggung dimana orang tua mas Hartono tinggal. Jawaban yang didengar pak Pudjono adalah Ki Demang Panulang, daerah selatan Watu Adeg, cedhak Jamblangan. Keturunan Demang Panulang adalah mbah Kerto, mbah Wiyono, mbah Dadi. :”Nggon kono ana keris Ki Bambang Panulang.”
Kami bertanya apakah bisa diambil, dan jawabnya :”Ben neng konoi wae. Jamblangan mengidul nggone wong sugih, nggone wong cekel gawe.”
Kami bertanya apakah mbah Martowiyono pendiri paguyuban Ngudi Utomo masih trah disitu? Jawabnya :”Ya, salah sijine kuwi.”
Kemudian kami ngobrol pengalaman sewaktu mengunjungi pak Kasmin, sepertinya ada roh yang menemani beliau. Pak Pudjono bertanya siapakah mereka dan ada jawaban :”Roh mau kang diutus romo Mangun. Sing nganggo beskap putih yakuwi Ki Demang Panulang. Sing nganggo beskap ireng, jenenge mbah Dadi. Romo Mangun dianggep romone wong tlatah kene.”
Kami bertanya bagaimana kaitannya dengan romo Mangun, dan ada jawaban :”Kowe sak brayat wong katolik. Yen dudu romo Mangun, ndhak diarani ora ilok. Mbah Demang Panulang lan mbah Dadi kuwi wong apik. Yen crita njemput, kuwi dudu urusanku; mung kepengin nemoni kowe. Kuwi urusane Gusti. Gusti kuwi sebutan Penguasa umum, sapa wae oleh ngarani. Sing kok kersakake rak Gusti Yesus. Yen Aku, Gusti wae. Gampangane disebut wae Romo kang Mahakuasa, gen padha. Pangerten kuwi luwih gamblang yen disebut Romo kang Mahakuasa.”
Bercerita tentang harta karun amanah, ada suara menjawab :”Kuwi mung pangentha-entha, ora bakal mijil. Kuwi mung guyone para penggedhe, ora perlu digali. Mengko bantuan rak teka dhewe.”
:”Panulang tegese gedhung kang dhuwur, kang kokoh.” Yang terlihat pak Pudjono seperti candi atau gunungan batu dengan pintu satu.
Bercerita dan bertanya tentang penguasa Merapi, penguasa laut dan kerajaan Mataram, suara jawaban yang terdengar :”Telung kraton, telung panguwasa beda. Gampangane ana penguasa laut, penguasa dharatan, penguasa hinggil. Ora ana crita kraton kok dihancurkan.”
Bagaimana dengan pengalaman bu Paimin? Dijawab :”Wong kedadean alam wis mengkono kok digathuk-gathukake. Kuwi mung pangentha-enthane wong saiki.”
Bagaimana dengan photo lahar merapi yang seperti salib? Diajwab :”Dudu, kuwi gambaran ladrang. Kristus kuwi raja, keris kuwi lanang, cekelane raja. Ladrang kuwi padha karo lanang, wani getih. Gayaman kuwi andhap asor, kurang wani muncul, mung isih ana greget, durung wani ngetokake.”
Kemudian seperti ada gambaran kera besar bercambang membawa buku, :”Kera bagus. Ya dongakna sedulurmu sing lara; sing liya gen ngegongi, sing ngamini. Aku tetep sing mau kae, Bapa Demang Panulang.”
Kemudian kami berdoa dan sepertinya mbah Panulang berubah menjadi wajah kera yang tadi, dan ada suara :”Aku mung wujud abdi.” Di belakang mbah Panulang sepertinya banyak orang yang juga ikut berdoa bersama kami.
Kami bertanya apakah mbah Demang Panulang sudah di surga? Jawabnya :”Aku ana papan kamulyan, mung, aku sing nyekel papan kene. Kaya ndhek kowe weruh bocah cilik ana Sukardja. Dadi aku ana kahanan kamulyan. Aku ora bisa njenengke uwong-uwong kuwi mau. Durung dikersakake ndherek karo Gusti. Mula bengi iki becik banget. Ateges kowe bisa nyowanake, ngaturake sukma-sukmane wong kuwi mau, kang dipimpin Ki Demang Panulang, diwiridi dening pak Sumeri, dimohonkan pak Sumeri dkk marang cekelanmu, keyakinanmu, lewat donga iki bakal slamet lan lancar. Gampangane tekan, ndherek mulya. Ananging Gusti Yesus rak durung rawuh ta? Mula jenenge wiridan, lagi penyuwunan.
Yen Gusti Yesus rawuh, kuwi jenenge pangeram-eram. Gusti rawuh jumeneng nata, jumeneng panglimbang-limbang, jumeneng Ratu Adil, jumeneng Bapa kang memba rupa …”God Year …. God Year …” Wis ngono wae.”
Bagaimana dengan orang banyak tadi selanjutnya ? Suara yang terdengar :”Pokoke komplit, sing krungu, sing weruh, nek kowe semedi. Aku arep kondur.”
Kemudian sepertinya orang banyak yang bersila ikut berdoa tadi berubah menjadi kuburan. Kemudian seperti ada simbul dua buah bunga warna merah bentuknya seperti bunga kecubung.
Hari sudah pagi dan aku belum sempat tidur. Semoga yang aku tulis tidak ada yang keliru.
26 November 2010
Jumat pagi itu aku diminta mas Hartono untuk ngobrol dengan mas Herry adiknya, tentang kehidupan keluarga. Mungkin bukan hanya aku, tetapi pak Sumeri dan pak Pudjono juga.
Kemudian kami pamitan untuk melanjutkan perjalanan ke Kediri. Dalam perjalanan ternyata tidak langsung ke Kediri tetapi mampir ke rumah teman sekerja pak Sumeri di Kalasan. Sepertinya sudah ada komunikasi sebelumnya tanpa memberitahu kami semua. Kami semua tidak masalah apabila harus menginap di Kalasan, berkumpul dengan pak Anton dan grupnya ngobrol berbagai hal.
Malam hari kami berkumpul bersama pak Anton, mas Agus dan mas Liliek yang terlibat sebagai sukarelawan Merapi. Acara yang tanpa persiapan ini malah langsung dibuka oleh pak Pudjono dengan mengajak doa bersama. Bagi rombongan Durpa yang sudah biasa tidak menjadi halangan, tetapi bagi kelompok Kalasan sepertinya agak kaget dan bingung.
Berkisar jam 21.30 pak Pudjono mengajak berdoa bersama, kemudian yang dilihat sepertinya simbul mata. Kemudian simbul seperti Tuhan Yesus, anglo untuk padupan. Suara yang tedengar :”Tuhan Yesus sing ana ngarep kuwi durung …… Gusti sing durung disalibkan.” Kemudian ada simbul salib kuning tanpa korpus, setelahnya ditengah salib ada warna kuning bulat.
Pak Anton dan yang lain mulai berkomentar, dan simbul simbul seblumnya berubah menjadi simbul keris.. Pak Sumeri dan pak Pudjono melihat simbul bulus dengan leher panjang. Kemudian ada simbul bulan, yang selama ini kami artikan sebagai simbul Bunda Maria sendiri.
Bunda Maria sepertinya menegur pak Pudjono dengan kata-kata :”Dongamu kurang lancar, becike kowe meneng.”
Pak Pudjono meminta sesuatu kepada Bunda Maria untuk kami yang sedang berkumpul ini. Sepertinya kami semua diberi sesuatu, kecuali dua orang. Biarlah itu semua menjadi rahasia pribadi masing-masing.
Bunda Maria :”Iki wis wancine, padha aturna panyuwunmu dhewe-dhewe.” Kemudian kami berdoa masing-masing secara bergantian.. Kelihatannya semua dikomentari oleh Bunda Maria, dan kepadaku dikatakan :”Mutiara sing kok tampa kuwi dumen, aja kok genggem dhewe.”
Kemudian terlihat oleh pak Pudjono seperti payung besar yang melingkupi kami semua. Setelah itu seperti ada kereta yang rodanya kurang satu.. Kemudian ada simbul tambir.
Mas Liliek diminta berdiri untuk memecut kami. Terlihat ada keris gayaman yang diberikan kepada mas Liliek, dimasukkan ke selendang yang telah diikatkan di pinggang, ditempatkan di depan.
Kemudian terlihat simbul-simbul yang saling bergantian : domino dengan angka 6:1 cowek tanah sempritan pisau (suara:diasah nganggo rosario esuk) lilin menyala di tengah-tengah kami -- kendhil lemah (suara: Kuwi isine rereged, pak Anton, kuwi tendhangen) lilin menyala di atas kain putih (suara : Wis; urusane wong wedok wis cukup)
Kami ngobrol dan berkomentar, tiba-tiba pak Pudjono berkata bahwa ada simbul salib.
Bunda Maria :”Bundha arep kondur, gen Gusti sing rawuh.”
Kemudian terlihat seperti bola berwarna putih berputar-putar, di dalamnya terlihat salib dan warna kebiruan. Pak Pudjono meminta aku berdiri untuk memberkati kami semua. Semuanya diminta berdiri. Aku diberi cidhuk berisi air dan aku angkat ke atas dengan doa. Kemudian aku menciprati semua orang yang ada. Suara yang terdengar :”Wis cukup, padha lungguha.”
Kemudian terlihat salib. Terdengar suara untuk pak Pudjono :”Kowe kuwi kesusu wae.”
27 November 2010
Kemudian terlihat gambar Tuhan Yesus sebatas dada, setelah itu tiba-tiba terlihat kaos kaki berwarna putih, dipakaikan kepada seseorang. Mas Liliek terngat kalau ada warganya yang baru saja minginggal. Dikenal sebagai pak Petrus. Kemudian kami berdoa yang dipimpin oleh mas Liliek untuk rohnya pak Petrus.
Tuhan Yesus :”Wiwit mau Aku kok durung krungu kidung ta?” Aku mencoba untuk melantunkan lagu. Terdengar suara :”Lha kidung pambuka rak durung.” Mas Hartonoi mencoba untuk melantunkan kidung. :”Ya wis.Ya ngono kuwi. Kowe mau ndonga kanggo sapa? … Ya wis, wis tak tampa.”
Kemudian mas Agus diminta berdoa dan mentransfer cahaya lilin paskah. Ada suara :”Sedhoten.” Setelah itu lilin sudah kembali ke atas.
Kami ngobrol dan berkomentar panjang lebar. Pak Pudjono kemudian mengatakan bahwa ia melihat gambaran transparan seperti orang bersila tangannya seperti berdoa. Gambaran tersebut berada di atas saya duduk. Suara yang didengar pak Pudjono :”Aku Gusti Allahmu, Aku sembahen.”
Pak Sumeri diminta berdiri dan disuruh untuk mencela kekurangan kami satu persatu.
Kemudian Tuhan Yesus berada di tengah-tengah kami.
Mulailah terjadi komentar panjang lebar tentang keberadaan Allah yang bisa dilihat dari kelompok Kalasan. Pertemuan agak kacau sedikit, walau tidak masalah.
Pak Pudjono melihat sinar kecil seperti kunang-kunang, dan mendengar suara :”Yen iki Roh Kudus.”
Aku perhatikan mas Agus Budianto mulai tidur, disusul pak Pudjono dan pak Sumeri yang keluar untuk berdoa rosario seperti biasanya. Pak Yohanes juga keluar. Kami tetap ngobrol dan kemudian mas Hartono dan mas Sugeng juga ikut tidur. Yang ngobrol tinggal aku, pak Anton, mas Agus dan mas Liliek.
Karena sudah pagi, mas Agus pamit duluan pulang ke rumahnya. Mas hartono bangun dan ikut kumpul kembali bersama pak Pudjono. Kemudian pak Pudjono keluar untuk berdoa lagi. Sewatu mas Liliek akan pamitan, sepertinya dia “kesurupan” gurunya, dan bertanya kepada pak Anton. Setelah itu mas Liliek pamitan juga. Waktu sudah pagi, obrolan sudah selesai.
Ternyata pak Anton masih ingin melanjutkan cerita sedikit panjang, tentang pengalaman selama di Dumai dan Pelentung (?). Dia ingin bertanya siapakah sebenarnya ibu-ibu gaib yang telah memberikan benda-benda yang selama ini masih disimpan.
Sebelum segalanya lupa saya memberitahu pak Anton tentang penglihatan dan pendengaran pak Pudjono, siapakah yang menjadi “gurunya” selama ini. Dia mengaku bernama Ki Domba yang dulu tinggal di Ngawi selatan. Boleh percaya boleh tidak. Tentang oret-oretan, yang terlihat gambar kepala yang diberi tanda silang. Kalibening cedhak candhi maksudnya blumbang cedhak omah. Blumbang dalam berbeda dengan kolam untuk ikan. Memang ada lingkungan Kalibening di Kalasan yang baru mengadakan misa arwah.
Bercerita pendengaran pak Pudjono yang mengatakan nama mbah Dimik, aku menjelaskan bahwa arti dimik adalah alat sebagai pengantara untuk menyalakan sesuatu.
Akhirnya kami pamitan semua untuk melanjutkan perjalanan ke Kediri.
Perjalanan ke Kediri sampai Sragen masih diliputi kegembiraan walau panas menyengat. Memasuki Jawa Timur kami dijemput oleh hujan yang begitu besar, walaupun sampai di Kediri malah sudah terang benderang. Kami dibawa ke rumah teman pak Sumeri yang sepertinya sudah ada janji ingin bertemu khususnya pak Pudjono. Teman tersebut adalah pak Subardja dan ibu Wiwik.
Kelihatannya ibu Wiwik ngobrol cukup panjang dengan pak Pudjono, sedangkan kami ngobrol dengan suaminya di luar. Aku sendiri masuk ke mobil untuk istirahat karena ngantuk. Perjalanan dilanjutkan ke rumah pak Sumeri untuk istirahat.
28 November 2010
Hari Minggu pagi. Rombomgan Durpa pagi-pagi sudah pergi ke gereja Pare untuk mengikuti Misa Kudus. Setelah sarapan, kemudian menjemput keluarga pak Subardja bu Wiwik bersama-sama berangkat ke Gua Maria Puhsarang. Rombongan terpecah dalam dua kelompok, aku bersama pak Pudjono, pak Sumeri, pak Yohanes dan keluarga pak Subardja berdoa masing-masing di depan patung Bunda Maria.
Kemudian kami melanjutkan dengan perenungan jalan salib bersama-sama, dan aku diminta untuk memimpin. Pada perhentian ke lima (Tuhan Yesus ditolong Simon dari Kirene), pak Pudjono melihat gambaran Puntodewo. Kemudian terlihat gambaran Semar yang menyangga Puntodewo. Suara yang terdengar kurang lebih :”Puntodewo iku orang lanang ora wedok. Sing nyonggo iku uga (Semar) ora lanang ora wedok.” Di perhentian ke enam (wajah Tuhan Yesus diusap oleh Veronika) yang terlihat tetap sama, Puntodewo disangga oleh Semar.
Pada perhentian ke delapan (Tuhan Yesus menghibur para perempuan yang menangisi-Nya), yang terlihat seperti ada simbul tambir yang berisi macam-macam, seperti kulit atau daging. Kemudian terlihat simbul kursi dan suara :”:Gek endang, wis ana sing ngenteni.” Kemudian terlihat simbul anglo kecil (tempat membakar arang). Dalam bayangan kami, anglo kecil biasanya untuk membakar kemenyan, sebagai simbul kematian.
Pada perhentian ke duabelas (Tuhan Yesus wafat di salib), pak Yohanes seperti melihat sesuatu di langit di atas salib Tuhan Yesus. Pak Pudjono mejelaskan bahwa memang terlihat gambaran Tuhan Yesus seperti sedang melayang di udara di atas salib.
Setelah selesai jalan salib, kami istirahat dan ngobrol. Pak Sumeri membuka SMS yang masuk yang mengabarkan bahwa tamunya di Bandung tidak jadi datang karena anaknya masuk rumah sakit. Aku, pak Sumeri dan pak Pudjono bergegas kembali ke perhentian ke dua belas. Aku berkata bahwa sepertinya ucapan orang yang disalibkan di sebelah kanan Tuhan Yesus berisi “rapal” atau mantra pujian dan permohonan yang membuat Tuhan Yesus berkenan. Aku tidak tahu isi SMS pak Sumeri, namun sepertinya kami ngobrol yang berkaitan dengan waktu pukul tiga sore. Saat kematian yang aku tangkap berkisar jam tiga sore, bisa kurang bisa lebih. Sewaktu aku tanyakan ke pak Sumeri, ia menerima kabar dari ibu Wiwik tentang angka tiga. Mungkin berhubungan dengan waktu, apakah 3 jam, 3 hari, 3 minggu atau yang lainnya.
Kami masih jalan-jalan di sekitar Puhsarang dan melanjutkan perjalanan untuk makan siang yang sudah lewat. Pada saat makan tersebut, pak Sumeri mendapat berita bahwa anak yang masuk rumah sakit sudah meninggal. Waktunya memang sebelum jam tiga sore, namun sudah lebih dari jam dua.
Kemudian perjalanan dilanjutkan ke rumah pak Subardja. Ibu Wiwik ingin menanyakan banyak hal yang “dilihatnya” kepada pak Pudjono secara berdua. Kami menunggu dan ngobrol dengan pak Bardja di luar. Teman teman yang lain malah istirahat di dalam mobil. Sewaktu mau pamitan, kelihatanya ibu Wiwik masih ingin bertanya lagi; maka berkumpulah kami berlima, aku, pak Sumeri dan pak Subardja., berbicara roh yang mengikuti ibu Wiwik. Akhirnya aku menawarkan doa untuk roh tersebut, agar bisa pindah ke tempat yang mulia. Di tempat tersebut pernah terjadi pembunuhan pembantu rumah tangga oleh penjahat yang masuk ke rumah. Kemudian kami menyiapkan air bening segelas dan lilin menyala, dilanjutkan doa permohonan dan doa Rosario. Sepertinya roh tersebut ikut berdoa bersama kami. Semoga Tuhan berkenan atas doa kami bagi yang kami doakan.
Setelah segalanya selesai, kami pulang ke rumah pak Sumeri untuk istirahat sejenak, karena tengah malam kami akan kembali ke Yogyakarta, mengantar mas Agus Budianto yang harus pulang ke Bandung karena harus bekerja.
29 November 2010
Kami sampai Yogyakarta berkisar pukul tujuh pagi dan setelah sarapan mengantar mas Agus Budianto ke stasiun. Rombongan kami melanjutkan kembali ke desa Tanggung di lereng Merapi untuk istirahat sejenak. Aku mengisi battery laptop yang sudah habis sambil menulis ini. Kemudian datang pak Sumadi, setelah menelpon pak Sumeri.
Sekitar jam 14.00 kami, aku, pak Sumeri, pak Sumadi, pak Pudjono, pak Yohanes, pak Hartono, pak Sugeng berangkat ke Gua Bunda Maria di Sriningsih.
Sepertinya santo Petrus menemani kami walaupun tidak menemui kami secara nyata. Pak Sumeri malah seperti melihat tumpukan wayang kulit, yang paling atas seperti Anoman.
16.30 terlihat simbul huruf I dan M menjadi satu (Maria Immaculata?)
17.00 terlihat seperti ada gardu bertangga untuk ke pintunya. Terlihat ada simbul huruf “O” Kemudian terlihat seperti burung kakaktua paruh betet, ekornya panjang, warna bulunya abu-abu kecoklatan. Kemudian terlihat piala ceper transparant seperti terbuat dari kaca.
Terlihat seperti seseorang keluar dari pintu dan membagikan hosti. Pak Pudjono dan pak Sumeri ikut menerimanya, kemudian aku menyusul. Kemudian orang tersebut masuk dan menutup pintu.
Terlihat seperti papan tulis yang memakai tiang penyangga. Tulisan yang muncul seperti running text :
1. Station higher
2. Visuality communication principle
3. Command privat numerical
4. Devide little commercial take home
5. Amen, amen, amen
Apa arti tulisan O. apakah bahasa Inggris atau Latin.
:”O kuwi tegese linuwih, agung. Kuwi basa karnaval (?)”
Terlihat huruf O tersebut berubah seperti kukusan yang runcing ujungnya.
Arti dari station higher, seperti ada lampu yang ditutupi, dikurung. Kemudian tutupnya dibuka dan lampunya malah padam, namun menyala lagi. Kemudian lampunya berubah menjadi salib yang bercahaya di tengah sambungan salib. Kemudian berubah menjadi sebuah lilin besar dan dikelilingi oleh lilin kecil yang banyak. Kemudian lilin besar menjadi besar dan tinggi, disekelilingnya banyak orang sedang bersujud. Masih berubah lagi menjadi piala ceper berisi anggur berwarna kuning encer seperti sampagne. Kemudian hanya diminum oleh seorang saja.
Sewaktu ditanya mengapa, ada suara :”Father is legal.”
Arti Visuality communication principle, terlihat tempat air suci, kemudian seperti piala atau sibori tipis cenderung seperti salib. Kemudian berubah menjadi Kitab Suci bersampul hitam, kemudian tempat dupa pakai rantai panjang (wirug). Setelahnya ada bejana berisi air untuk memberkati umat. Terlihat seperti ruangan sakristi yang ditutup. Sepertinya ada misa kudus. Terlihat seperti ada pastur yang merentangkan tangan, kemudian bersila seperti meditasi, dan menyembah. Kemudian pastur hilang dan berubah menjadi salib millennium. Berubah menjadi photo Tuhan Yesus dengan hati kudusNya; di sebelahnya ada cap. (:”Nggo nytempel tanganmu yen kowe mengakui. Ya gampangane yen kowe kuwi duweke.” terlihat sapi yang dicap pinggulnya)
Arti command privat numerical, di belakang tulisan seperti ada lukisan seperti huruf X dan ornament indah. Kemudian terlihat seperti rohaniwan bersabuk besar membawa Kitab Suci. Kemudian lampu yang pertama sepertinya dilingkari oleh banyak lingkaran berputar dan menyala bermacam-macam, kemudian berubah seperti bulan.
Arti devide little commercial take home, terlihat seperti orang banyak berdiri antri untuk menerima sesuatu; terlihat tangan kanan yang memberikan sesuatu (seperti bulatan putih) kepada yang antri. Yang antri tersebut berjubah putih yang pinggangnya ditali yang ada kantongnya di sebelah kiri. Yang diterimanya dimasukkan kedalam kantong. Dia berdiri di depan banyak orang bersila dan membagikan kepada yang bersila. Suara yang terdengan “moving… moving …moving …” Yang bersila banyak sekali, maka memerlukan waktu .Tulisan yang terlihat :”moving include A numeric Z”
(:”Sing dibagi kuwi akal utawa pengajaran yang disampaikan, yang datang dari Roh Kudus, lewat si pemberi itu tadi. Amarga Roh Kudus kuwi asale saka surga, ya bab surga. Bab papan lan mapan tentang surga, surga sebagai papan dan surga sebagai tempat tinggal. Papan kang indah amba ora ana bongkot pucuke ora ana ngisor ndhuwure; Ya papan kaya ngene iki, ananging ora ana siksa, ora ana aniaya, ora ana rubeda, ora ana kanisthan, ora ana palang tunjang lan langgeng ana ing Astane.
Apakah bisa dirasakan di dunia ini? :”Ana lan bisa.” Caranya bagaimana? :”Carane, kowe kudu bisa sak emper karo Gusti, dalam hal permasalahan, dalam hal perbuatan, dalam hal kesukaan, dalam hal nol.”
Contohnya dalam hal permasalahan. :”Barang ana kang ora ana dadekna ora ana nol. Utang lan piutang padha tegese, nol. Sing abot urip lan mati, malah dadi = mati, nol. Guru lan murid = bodho, nol. Ora ana wong lanang ora ana wong wedok, ora ketok wong lanang ora ketok wong wedok = bujel.”
Contoh dalam hal perbuatan. :”Perbuatan mengkhayal. Perbuatan mengkhayal sing ora bakal kedaden lumarabna wae = lali = nol. Iki jenenge tentang khayal dhisik. Perbuatan nyata kang gampang ditiru; contone gawe padhang, ikhlas, sabaran, tumata, enjoy. Perbuatan yang agak abstrak, contone berbuat kasih, berbuat donor, berbuat mirang wani rugi, wani entek entekan, wani nombok, wani cilaka, wani gering, wani nggo tumbal, wani bablas (gambaran tanah). Conto sing gampang, ora males ora nyangkal, ora merangi, ora ngidoni (mencemooh), Lan sak piturute. Cekake mengkene:Nek kowe isa lahir batin lan pikiran dadi nol, ora duwe apa-apa, bisa materi, drajat, pangkat lan sak piturute, tenang, sunyi, indah, sirep, gamblang, ketemu swargane.” Bila tidak sak emper dengan Gusti, tetapi dalam segala hal kecukupan :”Kuwi begundhale setan. Wong kang kok sebutke mau dadi susuhing keblat nolak Gusti Yesus.” Jika sudah mlarat tetapi mengeluh terus :”Mlarat ateges nelangsa, mlarat ateges nrima, mlarat ateges nyatria, mlarat ateges ora ana, mlarat ateges wani ndhadha, kuwi klebu sak emper Gusti.”
:”Kewalikane, mlarat ning nunjang palang, kemrungsung, sok nggrahita, nyumpahi, kuwi klebu melawan. Ya kabeh iki maui pengertian, pengajaran. Kabeh kuwi dudu mung pandelengan.”
Apakah akal budi model pak Xxxxxx?:”Kae wingi iku pengajaran sing kuwalik, pengajaran sing mbedhah angger-angger utawa nerak bener. Ajaran kang lumaku bapa durjana.”
:”Santhet kuwi energi saka uwong dilewatke benda, utawa lewat sesuatu, nempel uwong. Kuwi kanggone kowe lali keblat. Kuwi dudu musrik ning mung kelangan kiblat. Musrik kuwi mengharapkan sesuatu dari keampuhan benda supaya bisa merubah ke arah positif.”
Kesaktian, kadigdayan, menyembah sesuatu dianggap sama dengan menyembah Hosti .. :”Kowe sebagai umat Katolik menganggap benda benda rohani sing duwe kekuatan magic utawa kemampuan khusus, super, elegan, kuwi jenenge Sabda Dalem kang mijil, Sabda Dalem kang ditamakake, Sabda Dalem kang dimusadakake. Barange dhewe ora ampuh, Sabdane sing ampuh; Pengakuane Sabda sing ampuh. Selaras karo Sabda Dalem, dudu musrik. Bedane ana Sabda, nek musrik kemampuan barange.”
Sak emper dalam hal kesukaan? :”Umume kesukaan sing ateges kenikmatan = lali. Lali urip. Lali nikmat, lali urip, kosong.”
Mas Hartono bertanya bahwa prihatin dalam ziarah ini ujubnya ingin nywargakake anak bojo, bener atau tidak? :”Padha kersane Gusti”
Bagaimana jika lebih luas untuk banyak orang? :”Oleh lan padha. Umume saranane sing beda. Kanggo umum tantangane abot, godhane akeh, seling surube muncul, ora kapercayan. Gampangane durung mesthi wong percaya. Karepmu apik malah dianggep musuh.”
Bagaimana dengan keinginan nywargake orang banyak tetapi malah anak istri kapiran? :”Mung kurang tumata. Ngomah ditata dhisik banjur nyelaraske keinginan, kemauan anak bojoku luwih dhisik. Banjur liyane.”
Nywargake anak bojo? :”Isa ninggalke kebutuhanmu dhewe, kanggo kepentingane anak bojo. Becike kowe melua, dadi siji karo anak bojo; tinggalen urusane omahmu dhewe.”
:”Bojo kuwi pangimpening awakmu sing padha karo kowe. Yen beda, kuwi jenenge mung jodho.”
Beda keyakinan :”Yen koyo ngono ananging dalam kehidupan mengalami kebersamaan, senang, bahagia, ayem tentrem lan sakpiturute, sing kaya diimpekake, kuwi jenenge bojo.”
Suami istri itu yang benar jodho atau bojo:”Bebojoan kuwi luwih dhuwur tinimbang jejodhoan. Bojo kuwi dadi siji sehati sejiwa; Nek jodho kuwi dua kekarepan satu jiwa”
“Pengangkahe menungsa yen didadekake sakramen kuwi ora gelem.”
Pertengahan malam kami istirahat. Ada yang berdoa pribadi, ada yang ngobrol pengalaman rohani.
30 November 2010
Tengah malam berkisar jam 02.00 kurang, pak Sumeri seperti melihat atau mendengar suara tentang Setyaki. Aku katakan sebagai tokoh pewayangan yang menjadi patih Dwarawati, senjatanya gada Rujakbeling; Sering disebut juga sebagai Bima Kunthing. Seorang patih yang setia dan jujur, sakti dan berani. Kemudian kami masih ngobrol tentang pengalaman rohani, sewaktu berkunjung kesini tahun yang lalu. Di perhentian ke tujuh kami semua diberi komuni oleh romo Sasra Wardoyo.
Kami lupa untuk menanyakan siapakah yang tadi sore memberi kami komuni. Aku lihat semuanya malah tidur masing-masing. Pak Sumeri berdoa rosario dan menyanyi sendirian di depan patung Bunda Maria. Akhirnya aku juga tertidur seperti yang lain sampai pagi hari.
Keesokan harinya kami turun gunung bersama seorang temen yang ketemu di atas. Dia melanjutkan perjalanan ke Klaten, sedangkan kami kembali ke lereng Merapi mengantar pak Sumadi. Kami istirahat sejenak di rumah mas Herry adik mas Hartono.
Sekitar pukul dua siang kami melanjutkan perjalanan ke rumah sakit Palang Biru di Gombong, menjenguk istri mas Agus teman pak Pudjono yang sedang sakit. Kami berdoa untuk yang bersangkutan. Kemudian pak Pudjono kami tinggalkan di rumah sakit, menemani yang berjaga.
Kami melanjutkan perjalanan pulang ke Bandung. Kurang lebih jam dua pagi tanggal 1 Desember 2010 kami sampai ke rumah masing-masing. Acara istirahat di rumah, karena sore hari kami berdua belas sudah berniat untuk berdoa dua jaman saling bergantian..
Tuhan, terima kasih atas penyertaanMu selama ini. Dari berangkat sampai kembali ke rumah kami masing-masing. Amin.
24 -30 November 2010
24 November 2010
Hari Rabu pagi-pagi sekali aku sudah ditelpon pak Sumeri. Sebagian kelompok Durpa akan berangkat ke Yogyakarta, yang terdiri dari aku, pak Sumeri, pak Yohanes, mas Agus Budianto, pak Sugeng dan pak Hartono. Yang pegang sopir mas Sugeng yang memang pandai mengendalikan mobil.
Sebelum tengah hari, kami sudah sampai di Wangon dan mencoba mencari gua Maria di daerah Wangon. Kenyataannya kami belum menemukannya, malah ditunjukkan oleh orang sekitar sana dengan peta. Peta tersebut ternyata malah mengarahkan kami ke gua Maria di Kaliori. Kebetulan sedang ada penguburan warga Katolik di kuburan Kaliori. Kebetulan mas Agus, mas Sugeng dan mas hartono belum pernah ke Kaliori. Maka kami melakukan permenungan perjalanan salib, dengan cara masing-masing.
Dalam perhentian X ketika Tuhan Yesus ditelanjangi, sewaktu aku meninggalkannya, sepertinya mulut patung Tuhan Yesus terbuka dan minta bantuan. Aku mendekat kembali dan menempelkan telinga ke dekat wajah patung Tuhan Yesus. Aku tidak mendengar apa-apa. Dalam perenunganku, Tuhan Yesus ditelanjangi, dihina dan dipermalukan habis-habisan. Dalam hatiku bertanya, apakah Tuhan Yesus meminta agar aku jangan ikut-ikutan mempermalukan Dia?
Berkisar pukul sembilan belas lebih, rombongan kami sampai di rumah pak Pudjono. Kami ngobrol sebentar dan makan malam, kemudian banyak yang istirahat tidur. Tinggal kami bertiga, aku, pak Pudjono dan pak Hartono. Pak Hartono bertanya tentang katuranggan simbul kupu-kupu hitam, dan kami saling berkomentar karena sudah lupa.
Kemudian pak Pudjono bertanya kepada yang kudus, tentang aura kami. Aura pak Pudjono berwarna putih tetapi masih berkabut. Suara yang terdengar :”Isih ana barang sing kowe durung ikhlas. Pokoke sumeleha dhisik. Mikire mbesok.”
Pak Pudjono bertanya tentang katuranggan jago hitam, jawaban yang didengar :”Ya dicekel dikurung, diingu, dianggo ngabotoh. Mulakna dudu wiring kuning itawa wido sikile kuning. Beda tegese, beda anggon-anggone. Dudu jago adon ning jago..”
Auraku berwarna putih transparan, tetapi masih ada kabutnya.
Aura mas Hartono berwarna putih tetapi masih ada kuningnya. Sewaktu bertanya tentang kupu-kupu hitam, dijawab kalau masih ada pamrih. Kemudian terlihat simbul kupu-kupu, di sebelahnya ada burung pengisap madu paruh panjang berwarna biru. Kami berkomentar dan kemudian ada suara :”Kupu-kupu putih wis wani los, wani gundhul, wani babak bundhas. Kupu-kupu kuning isih kurang persaja, isih diunggulke, isih golek alem. Kupu-kupu ireng tegese isih wedi kleru, isih kedhungsang-dhungsang. Lha yen dasi kupu-kupu putih tegese disisi sandhang pangan papan uwis langkep. Ilangna milike, rak malah sugih. Anggepen barang sing durung kecekel, durung bali, durung ketemu rampung.”
Pak Sumeri bangun dari tidur dan bergabung dengan kami. Setelah tengah malam, simbul Durpa yang terlihat adalah jamur yang sedang mekar. Suara yang terdengar :’Ya lagi berkembang, lagi sugih bala, puncaking karsa.”
Setelah beberapa saat, mas Hartono melihat roh yang keluar dari tubuhku, berbentuk orang berjubah putih yang disampirkan. Rambutnya tidak terlalu lebat dan berjenggot tidak panjang. Setelah beberapa saat kemudian berubah menjadi lebih tua membawa tongkat dan kunci yang diacungkan. (Santo Petrus)
Suara yang terdengar pak Pudjono :”Coba deloken, saiki rak wis berubah ta. Sing didelok mau kae isih Simon. Tegese isih menggembala, mengembara, golek pengikut, golek wong kang gelem melu. Gampangane golek kanca, jenenge durung murid. Yen wis sowan Gusti Yesus, jenenge murid, pengikut alias Amalia. Petrus kang saiki jenenge Bapa Pengawal, Bapa Pangayom, Bapa Baladara. Tegese melindungi kowe kabeh ben tatag, ben ora monga-mangu, ben tekan lampahe, becik suasane, luhur bebudene, gamblang piandele, tekan samubarange. Cekake Petrus kang madhep manteb, rosa, kuat penggalihe. Sampun.”
Apakah akan mendampingi perjalanan kami? Dijawab :”Ya kuwi, wis dadi kewajibane.”
Kemudian ada simbul dua buah jamur mekar yang payungnya disatukan, diatas dan dibawah seperti hanya dibatasi dengan kaca. Suara yang terdengar :”Tegese sak pemikiran, sak urapan, sak kedadean, sak paningal, ananging beda kahanan, beda asal panggonan. Kowe ana ngisor Aku ana dhuwur. Becike, secara pemikiran padha, kowe ana kono Aku ana kana. Mengko rak ketemu. Wis, bahasen dhisik.”
Aku bertanya mengapa santo Petrus muncul dari diriku? :”Jare dhalange kowe.”
Kemudian pak Pudjono melihat simbul jago dan babon, sedangkan mas Hartono melihat simbul salib. Suara yang terdengar :”Kuwi sing kanggo dudu salibe. Nggon palang kuwi ana gambare apa?” Pak Pudjono melihat seperti bulatan putih yang kemudian berubah gambar Tuhan Yesus dan gambar hati merah darah. Apakah simbul tersebut menandakan bahwa Tuhan Yesus hadir? Pak Pudjono sepertinya diperintahkan untuk mengambil air bening di gelas, berdiri dan dipersembahkan ke atas. Setelah diberkati, aku diminta untuk minum sebagian, kemudian pak Sumeri, pak Hartono dan dihabiskan oleh pak Pudjono.
:”Gusti rawuh ora suwe, sing penting piyandelmu, kekarepanmu, panggulawenthahmu neng sapa wae. Tutur aturmu, pasowananmu, mongkoging atimu lan panjalukmu, panuwunmu lancar lan kabul.”
Kemudian Tuhan Yesus memberkati kami dan kami jawab :Amin.
Berkisar pukul empat pagi kami istirahat.
25 November 2010
Hari Kamis pagi rombongan Durpa pergi ke lereng gunung Merapi, menengok para saudara yang tertimpa bencana. Kami mengunjungi keluarga mas Hartono yang sebelumnya jadi tempat pengungsian, walaupun akhirnya semuanya harus mengungsi. Setelah makan siang, kami melanjutkan perjalanan ke gereja Somahitan ingin bertemu romo Yatno. Kebetulan romo sedang istirahat dan pas hujan lebat. Banyak orang sedang membersihkan gereja, karena hari Minggunya aka dipakai untuk misa perdana pasca mengungsi. Perjalanan kami lanjutkan ke rumah pak Suyatno yang kebetulan sudah kembali dari pengungsian,. Rumah pak Sumadi masih masuk dalam lingkaran awas ring satu, sehingga kami tidak bisa kesana. Kami langsung ke rumah pak Kasmin yang sedang sakit. Ibu Kasmin bercerita bagaimana suasana pada saat itu sewaktu harus mengungsi, dengan tanggungan membawa pak Kasmin yang begitu besar dan berat. Aku mengajak para saudara untuk berdoa bersama bagi pak Kasmin
Kemudian kami kembali ke rumah mas Hartono untuk istirahat dan menginap. Kami ngobrol dengan pengungsi di sebelah rumah, yang dipakai untuk tempat evakuasi terdekat dengan Merapi. Semua orang sudah istirahat dan aku ngobrol dengan mas Hartono berdua. Kemudian pak Pudjono bangun dan menyusul kami untuk ngobrol bertiga. Kemudian menyusul pak Sumeri bergabung belakangan.
Waktu sudah melewati tengah malam, mas Hartono bertanya tentang penunggu gunung Merapi itu sebenarnya siapa. Jika bisa mbok jangan ada lagi bencana. Pak Pudjono mencoba berkomunikasi secara rohani, kemudian dari atas gunung seperti ada orang yang berjalan mendekati kami, berdiri di jalan. Sewaktu ditanya siapa namanya, dia mengaku bernama Ki Modjosongo. Sepengetahuan kami Modjosongo adalah nama daerah yang berada di Solo. Suara yang terdengar :”Modjosongo tegese padha karo Solo.” Yang terlihat ada gambaran seorang prajurit kraton. Ada penjelasan bahwa sebelum Ki Modjosongo yang menjaga bernama Ki Pandanarang dan masih dibawah penguasa gunung Lawu. Agar tidak terkena dampak bencana, maka ada syarat yang diminta, yaitu menanam pohon sukun. Mungkin menjadi kewajiban mas Hartono untuk mengkomunikasikan kepada para saudara dan tetangga di lereng Merapi.
Kemudian mas Hartono ingin mengetahui siapakah cikal bakal desa Tanggung dimana orang tua mas Hartono tinggal. Jawaban yang didengar pak Pudjono adalah Ki Demang Panulang, daerah selatan Watu Adeg, cedhak Jamblangan. Keturunan Demang Panulang adalah mbah Kerto, mbah Wiyono, mbah Dadi. :”Nggon kono ana keris Ki Bambang Panulang.”
Kami bertanya apakah bisa diambil, dan jawabnya :”Ben neng konoi wae. Jamblangan mengidul nggone wong sugih, nggone wong cekel gawe.”
Kami bertanya apakah mbah Martowiyono pendiri paguyuban Ngudi Utomo masih trah disitu? Jawabnya :”Ya, salah sijine kuwi.”
Kemudian kami ngobrol pengalaman sewaktu mengunjungi pak Kasmin, sepertinya ada roh yang menemani beliau. Pak Pudjono bertanya siapakah mereka dan ada jawaban :”Roh mau kang diutus romo Mangun. Sing nganggo beskap putih yakuwi Ki Demang Panulang. Sing nganggo beskap ireng, jenenge mbah Dadi. Romo Mangun dianggep romone wong tlatah kene.”
Kami bertanya bagaimana kaitannya dengan romo Mangun, dan ada jawaban :”Kowe sak brayat wong katolik. Yen dudu romo Mangun, ndhak diarani ora ilok. Mbah Demang Panulang lan mbah Dadi kuwi wong apik. Yen crita njemput, kuwi dudu urusanku; mung kepengin nemoni kowe. Kuwi urusane Gusti. Gusti kuwi sebutan Penguasa umum, sapa wae oleh ngarani. Sing kok kersakake rak Gusti Yesus. Yen Aku, Gusti wae. Gampangane disebut wae Romo kang Mahakuasa, gen padha. Pangerten kuwi luwih gamblang yen disebut Romo kang Mahakuasa.”
Bercerita tentang harta karun amanah, ada suara menjawab :”Kuwi mung pangentha-entha, ora bakal mijil. Kuwi mung guyone para penggedhe, ora perlu digali. Mengko bantuan rak teka dhewe.”
:”Panulang tegese gedhung kang dhuwur, kang kokoh.” Yang terlihat pak Pudjono seperti candi atau gunungan batu dengan pintu satu.
Bercerita dan bertanya tentang penguasa Merapi, penguasa laut dan kerajaan Mataram, suara jawaban yang terdengar :”Telung kraton, telung panguwasa beda. Gampangane ana penguasa laut, penguasa dharatan, penguasa hinggil. Ora ana crita kraton kok dihancurkan.”
Bagaimana dengan pengalaman bu Paimin? Dijawab :”Wong kedadean alam wis mengkono kok digathuk-gathukake. Kuwi mung pangentha-enthane wong saiki.”
Bagaimana dengan photo lahar merapi yang seperti salib? Diajwab :”Dudu, kuwi gambaran ladrang. Kristus kuwi raja, keris kuwi lanang, cekelane raja. Ladrang kuwi padha karo lanang, wani getih. Gayaman kuwi andhap asor, kurang wani muncul, mung isih ana greget, durung wani ngetokake.”
Kemudian seperti ada gambaran kera besar bercambang membawa buku, :”Kera bagus. Ya dongakna sedulurmu sing lara; sing liya gen ngegongi, sing ngamini. Aku tetep sing mau kae, Bapa Demang Panulang.”
Kemudian kami berdoa dan sepertinya mbah Panulang berubah menjadi wajah kera yang tadi, dan ada suara :”Aku mung wujud abdi.” Di belakang mbah Panulang sepertinya banyak orang yang juga ikut berdoa bersama kami.
Kami bertanya apakah mbah Demang Panulang sudah di surga? Jawabnya :”Aku ana papan kamulyan, mung, aku sing nyekel papan kene. Kaya ndhek kowe weruh bocah cilik ana Sukardja. Dadi aku ana kahanan kamulyan. Aku ora bisa njenengke uwong-uwong kuwi mau. Durung dikersakake ndherek karo Gusti. Mula bengi iki becik banget. Ateges kowe bisa nyowanake, ngaturake sukma-sukmane wong kuwi mau, kang dipimpin Ki Demang Panulang, diwiridi dening pak Sumeri, dimohonkan pak Sumeri dkk marang cekelanmu, keyakinanmu, lewat donga iki bakal slamet lan lancar. Gampangane tekan, ndherek mulya. Ananging Gusti Yesus rak durung rawuh ta? Mula jenenge wiridan, lagi penyuwunan.
Yen Gusti Yesus rawuh, kuwi jenenge pangeram-eram. Gusti rawuh jumeneng nata, jumeneng panglimbang-limbang, jumeneng Ratu Adil, jumeneng Bapa kang memba rupa …”God Year …. God Year …” Wis ngono wae.”
Bagaimana dengan orang banyak tadi selanjutnya ? Suara yang terdengar :”Pokoke komplit, sing krungu, sing weruh, nek kowe semedi. Aku arep kondur.”
Kemudian sepertinya orang banyak yang bersila ikut berdoa tadi berubah menjadi kuburan. Kemudian seperti ada simbul dua buah bunga warna merah bentuknya seperti bunga kecubung.
Hari sudah pagi dan aku belum sempat tidur. Semoga yang aku tulis tidak ada yang keliru.
26 November 2010
Jumat pagi itu aku diminta mas Hartono untuk ngobrol dengan mas Herry adiknya, tentang kehidupan keluarga. Mungkin bukan hanya aku, tetapi pak Sumeri dan pak Pudjono juga.
Kemudian kami pamitan untuk melanjutkan perjalanan ke Kediri. Dalam perjalanan ternyata tidak langsung ke Kediri tetapi mampir ke rumah teman sekerja pak Sumeri di Kalasan. Sepertinya sudah ada komunikasi sebelumnya tanpa memberitahu kami semua. Kami semua tidak masalah apabila harus menginap di Kalasan, berkumpul dengan pak Anton dan grupnya ngobrol berbagai hal.
Malam hari kami berkumpul bersama pak Anton, mas Agus dan mas Liliek yang terlibat sebagai sukarelawan Merapi. Acara yang tanpa persiapan ini malah langsung dibuka oleh pak Pudjono dengan mengajak doa bersama. Bagi rombongan Durpa yang sudah biasa tidak menjadi halangan, tetapi bagi kelompok Kalasan sepertinya agak kaget dan bingung.
Berkisar jam 21.30 pak Pudjono mengajak berdoa bersama, kemudian yang dilihat sepertinya simbul mata. Kemudian simbul seperti Tuhan Yesus, anglo untuk padupan. Suara yang tedengar :”Tuhan Yesus sing ana ngarep kuwi durung …… Gusti sing durung disalibkan.” Kemudian ada simbul salib kuning tanpa korpus, setelahnya ditengah salib ada warna kuning bulat.
Pak Anton dan yang lain mulai berkomentar, dan simbul simbul seblumnya berubah menjadi simbul keris.. Pak Sumeri dan pak Pudjono melihat simbul bulus dengan leher panjang. Kemudian ada simbul bulan, yang selama ini kami artikan sebagai simbul Bunda Maria sendiri.
Bunda Maria sepertinya menegur pak Pudjono dengan kata-kata :”Dongamu kurang lancar, becike kowe meneng.”
Pak Pudjono meminta sesuatu kepada Bunda Maria untuk kami yang sedang berkumpul ini. Sepertinya kami semua diberi sesuatu, kecuali dua orang. Biarlah itu semua menjadi rahasia pribadi masing-masing.
Bunda Maria :”Iki wis wancine, padha aturna panyuwunmu dhewe-dhewe.” Kemudian kami berdoa masing-masing secara bergantian.. Kelihatannya semua dikomentari oleh Bunda Maria, dan kepadaku dikatakan :”Mutiara sing kok tampa kuwi dumen, aja kok genggem dhewe.”
Kemudian terlihat oleh pak Pudjono seperti payung besar yang melingkupi kami semua. Setelah itu seperti ada kereta yang rodanya kurang satu.. Kemudian ada simbul tambir.
Mas Liliek diminta berdiri untuk memecut kami. Terlihat ada keris gayaman yang diberikan kepada mas Liliek, dimasukkan ke selendang yang telah diikatkan di pinggang, ditempatkan di depan.
Kemudian terlihat simbul-simbul yang saling bergantian : domino dengan angka 6:1 cowek tanah sempritan pisau (suara:diasah nganggo rosario esuk) lilin menyala di tengah-tengah kami -- kendhil lemah (suara: Kuwi isine rereged, pak Anton, kuwi tendhangen) lilin menyala di atas kain putih (suara : Wis; urusane wong wedok wis cukup)
Kami ngobrol dan berkomentar, tiba-tiba pak Pudjono berkata bahwa ada simbul salib.
Bunda Maria :”Bundha arep kondur, gen Gusti sing rawuh.”
Kemudian terlihat seperti bola berwarna putih berputar-putar, di dalamnya terlihat salib dan warna kebiruan. Pak Pudjono meminta aku berdiri untuk memberkati kami semua. Semuanya diminta berdiri. Aku diberi cidhuk berisi air dan aku angkat ke atas dengan doa. Kemudian aku menciprati semua orang yang ada. Suara yang terdengar :”Wis cukup, padha lungguha.”
Kemudian terlihat salib. Terdengar suara untuk pak Pudjono :”Kowe kuwi kesusu wae.”
27 November 2010
Kemudian terlihat gambar Tuhan Yesus sebatas dada, setelah itu tiba-tiba terlihat kaos kaki berwarna putih, dipakaikan kepada seseorang. Mas Liliek terngat kalau ada warganya yang baru saja minginggal. Dikenal sebagai pak Petrus. Kemudian kami berdoa yang dipimpin oleh mas Liliek untuk rohnya pak Petrus.
Tuhan Yesus :”Wiwit mau Aku kok durung krungu kidung ta?” Aku mencoba untuk melantunkan lagu. Terdengar suara :”Lha kidung pambuka rak durung.” Mas Hartonoi mencoba untuk melantunkan kidung. :”Ya wis.Ya ngono kuwi. Kowe mau ndonga kanggo sapa? … Ya wis, wis tak tampa.”
Kemudian mas Agus diminta berdoa dan mentransfer cahaya lilin paskah. Ada suara :”Sedhoten.” Setelah itu lilin sudah kembali ke atas.
Kami ngobrol dan berkomentar panjang lebar. Pak Pudjono kemudian mengatakan bahwa ia melihat gambaran transparan seperti orang bersila tangannya seperti berdoa. Gambaran tersebut berada di atas saya duduk. Suara yang didengar pak Pudjono :”Aku Gusti Allahmu, Aku sembahen.”
Pak Sumeri diminta berdiri dan disuruh untuk mencela kekurangan kami satu persatu.
Kemudian Tuhan Yesus berada di tengah-tengah kami.
Mulailah terjadi komentar panjang lebar tentang keberadaan Allah yang bisa dilihat dari kelompok Kalasan. Pertemuan agak kacau sedikit, walau tidak masalah.
Pak Pudjono melihat sinar kecil seperti kunang-kunang, dan mendengar suara :”Yen iki Roh Kudus.”
Aku perhatikan mas Agus Budianto mulai tidur, disusul pak Pudjono dan pak Sumeri yang keluar untuk berdoa rosario seperti biasanya. Pak Yohanes juga keluar. Kami tetap ngobrol dan kemudian mas Hartono dan mas Sugeng juga ikut tidur. Yang ngobrol tinggal aku, pak Anton, mas Agus dan mas Liliek.
Karena sudah pagi, mas Agus pamit duluan pulang ke rumahnya. Mas hartono bangun dan ikut kumpul kembali bersama pak Pudjono. Kemudian pak Pudjono keluar untuk berdoa lagi. Sewatu mas Liliek akan pamitan, sepertinya dia “kesurupan” gurunya, dan bertanya kepada pak Anton. Setelah itu mas Liliek pamitan juga. Waktu sudah pagi, obrolan sudah selesai.
Ternyata pak Anton masih ingin melanjutkan cerita sedikit panjang, tentang pengalaman selama di Dumai dan Pelentung (?). Dia ingin bertanya siapakah sebenarnya ibu-ibu gaib yang telah memberikan benda-benda yang selama ini masih disimpan.
Sebelum segalanya lupa saya memberitahu pak Anton tentang penglihatan dan pendengaran pak Pudjono, siapakah yang menjadi “gurunya” selama ini. Dia mengaku bernama Ki Domba yang dulu tinggal di Ngawi selatan. Boleh percaya boleh tidak. Tentang oret-oretan, yang terlihat gambar kepala yang diberi tanda silang. Kalibening cedhak candhi maksudnya blumbang cedhak omah. Blumbang dalam berbeda dengan kolam untuk ikan. Memang ada lingkungan Kalibening di Kalasan yang baru mengadakan misa arwah.
Bercerita pendengaran pak Pudjono yang mengatakan nama mbah Dimik, aku menjelaskan bahwa arti dimik adalah alat sebagai pengantara untuk menyalakan sesuatu.
Akhirnya kami pamitan semua untuk melanjutkan perjalanan ke Kediri.
Perjalanan ke Kediri sampai Sragen masih diliputi kegembiraan walau panas menyengat. Memasuki Jawa Timur kami dijemput oleh hujan yang begitu besar, walaupun sampai di Kediri malah sudah terang benderang. Kami dibawa ke rumah teman pak Sumeri yang sepertinya sudah ada janji ingin bertemu khususnya pak Pudjono. Teman tersebut adalah pak Subardja dan ibu Wiwik.
Kelihatannya ibu Wiwik ngobrol cukup panjang dengan pak Pudjono, sedangkan kami ngobrol dengan suaminya di luar. Aku sendiri masuk ke mobil untuk istirahat karena ngantuk. Perjalanan dilanjutkan ke rumah pak Sumeri untuk istirahat.
28 November 2010
Hari Minggu pagi. Rombomgan Durpa pagi-pagi sudah pergi ke gereja Pare untuk mengikuti Misa Kudus. Setelah sarapan, kemudian menjemput keluarga pak Subardja bu Wiwik bersama-sama berangkat ke Gua Maria Puhsarang. Rombongan terpecah dalam dua kelompok, aku bersama pak Pudjono, pak Sumeri, pak Yohanes dan keluarga pak Subardja berdoa masing-masing di depan patung Bunda Maria.
Kemudian kami melanjutkan dengan perenungan jalan salib bersama-sama, dan aku diminta untuk memimpin. Pada perhentian ke lima (Tuhan Yesus ditolong Simon dari Kirene), pak Pudjono melihat gambaran Puntodewo. Kemudian terlihat gambaran Semar yang menyangga Puntodewo. Suara yang terdengar kurang lebih :”Puntodewo iku orang lanang ora wedok. Sing nyonggo iku uga (Semar) ora lanang ora wedok.” Di perhentian ke enam (wajah Tuhan Yesus diusap oleh Veronika) yang terlihat tetap sama, Puntodewo disangga oleh Semar.
Pada perhentian ke delapan (Tuhan Yesus menghibur para perempuan yang menangisi-Nya), yang terlihat seperti ada simbul tambir yang berisi macam-macam, seperti kulit atau daging. Kemudian terlihat simbul kursi dan suara :”:Gek endang, wis ana sing ngenteni.” Kemudian terlihat simbul anglo kecil (tempat membakar arang). Dalam bayangan kami, anglo kecil biasanya untuk membakar kemenyan, sebagai simbul kematian.
Pada perhentian ke duabelas (Tuhan Yesus wafat di salib), pak Yohanes seperti melihat sesuatu di langit di atas salib Tuhan Yesus. Pak Pudjono mejelaskan bahwa memang terlihat gambaran Tuhan Yesus seperti sedang melayang di udara di atas salib.
Setelah selesai jalan salib, kami istirahat dan ngobrol. Pak Sumeri membuka SMS yang masuk yang mengabarkan bahwa tamunya di Bandung tidak jadi datang karena anaknya masuk rumah sakit. Aku, pak Sumeri dan pak Pudjono bergegas kembali ke perhentian ke dua belas. Aku berkata bahwa sepertinya ucapan orang yang disalibkan di sebelah kanan Tuhan Yesus berisi “rapal” atau mantra pujian dan permohonan yang membuat Tuhan Yesus berkenan. Aku tidak tahu isi SMS pak Sumeri, namun sepertinya kami ngobrol yang berkaitan dengan waktu pukul tiga sore. Saat kematian yang aku tangkap berkisar jam tiga sore, bisa kurang bisa lebih. Sewaktu aku tanyakan ke pak Sumeri, ia menerima kabar dari ibu Wiwik tentang angka tiga. Mungkin berhubungan dengan waktu, apakah 3 jam, 3 hari, 3 minggu atau yang lainnya.
Kami masih jalan-jalan di sekitar Puhsarang dan melanjutkan perjalanan untuk makan siang yang sudah lewat. Pada saat makan tersebut, pak Sumeri mendapat berita bahwa anak yang masuk rumah sakit sudah meninggal. Waktunya memang sebelum jam tiga sore, namun sudah lebih dari jam dua.
Kemudian perjalanan dilanjutkan ke rumah pak Subardja. Ibu Wiwik ingin menanyakan banyak hal yang “dilihatnya” kepada pak Pudjono secara berdua. Kami menunggu dan ngobrol dengan pak Bardja di luar. Teman teman yang lain malah istirahat di dalam mobil. Sewaktu mau pamitan, kelihatanya ibu Wiwik masih ingin bertanya lagi; maka berkumpulah kami berlima, aku, pak Sumeri dan pak Subardja., berbicara roh yang mengikuti ibu Wiwik. Akhirnya aku menawarkan doa untuk roh tersebut, agar bisa pindah ke tempat yang mulia. Di tempat tersebut pernah terjadi pembunuhan pembantu rumah tangga oleh penjahat yang masuk ke rumah. Kemudian kami menyiapkan air bening segelas dan lilin menyala, dilanjutkan doa permohonan dan doa Rosario. Sepertinya roh tersebut ikut berdoa bersama kami. Semoga Tuhan berkenan atas doa kami bagi yang kami doakan.
Setelah segalanya selesai, kami pulang ke rumah pak Sumeri untuk istirahat sejenak, karena tengah malam kami akan kembali ke Yogyakarta, mengantar mas Agus Budianto yang harus pulang ke Bandung karena harus bekerja.
29 November 2010
Kami sampai Yogyakarta berkisar pukul tujuh pagi dan setelah sarapan mengantar mas Agus Budianto ke stasiun. Rombongan kami melanjutkan kembali ke desa Tanggung di lereng Merapi untuk istirahat sejenak. Aku mengisi battery laptop yang sudah habis sambil menulis ini. Kemudian datang pak Sumadi, setelah menelpon pak Sumeri.
Sekitar jam 14.00 kami, aku, pak Sumeri, pak Sumadi, pak Pudjono, pak Yohanes, pak Hartono, pak Sugeng berangkat ke Gua Bunda Maria di Sriningsih.
Sepertinya santo Petrus menemani kami walaupun tidak menemui kami secara nyata. Pak Sumeri malah seperti melihat tumpukan wayang kulit, yang paling atas seperti Anoman.
16.30 terlihat simbul huruf I dan M menjadi satu (Maria Immaculata?)
17.00 terlihat seperti ada gardu bertangga untuk ke pintunya. Terlihat ada simbul huruf “O” Kemudian terlihat seperti burung kakaktua paruh betet, ekornya panjang, warna bulunya abu-abu kecoklatan. Kemudian terlihat piala ceper transparant seperti terbuat dari kaca.
Terlihat seperti seseorang keluar dari pintu dan membagikan hosti. Pak Pudjono dan pak Sumeri ikut menerimanya, kemudian aku menyusul. Kemudian orang tersebut masuk dan menutup pintu.
Terlihat seperti papan tulis yang memakai tiang penyangga. Tulisan yang muncul seperti running text :
1. Station higher
2. Visuality communication principle
3. Command privat numerical
4. Devide little commercial take home
5. Amen, amen, amen
Apa arti tulisan O. apakah bahasa Inggris atau Latin.
:”O kuwi tegese linuwih, agung. Kuwi basa karnaval (?)”
Terlihat huruf O tersebut berubah seperti kukusan yang runcing ujungnya.
Arti dari station higher, seperti ada lampu yang ditutupi, dikurung. Kemudian tutupnya dibuka dan lampunya malah padam, namun menyala lagi. Kemudian lampunya berubah menjadi salib yang bercahaya di tengah sambungan salib. Kemudian berubah menjadi sebuah lilin besar dan dikelilingi oleh lilin kecil yang banyak. Kemudian lilin besar menjadi besar dan tinggi, disekelilingnya banyak orang sedang bersujud. Masih berubah lagi menjadi piala ceper berisi anggur berwarna kuning encer seperti sampagne. Kemudian hanya diminum oleh seorang saja.
Sewaktu ditanya mengapa, ada suara :”Father is legal.”
Arti Visuality communication principle, terlihat tempat air suci, kemudian seperti piala atau sibori tipis cenderung seperti salib. Kemudian berubah menjadi Kitab Suci bersampul hitam, kemudian tempat dupa pakai rantai panjang (wirug). Setelahnya ada bejana berisi air untuk memberkati umat. Terlihat seperti ruangan sakristi yang ditutup. Sepertinya ada misa kudus. Terlihat seperti ada pastur yang merentangkan tangan, kemudian bersila seperti meditasi, dan menyembah. Kemudian pastur hilang dan berubah menjadi salib millennium. Berubah menjadi photo Tuhan Yesus dengan hati kudusNya; di sebelahnya ada cap. (:”Nggo nytempel tanganmu yen kowe mengakui. Ya gampangane yen kowe kuwi duweke.” terlihat sapi yang dicap pinggulnya)
Arti command privat numerical, di belakang tulisan seperti ada lukisan seperti huruf X dan ornament indah. Kemudian terlihat seperti rohaniwan bersabuk besar membawa Kitab Suci. Kemudian lampu yang pertama sepertinya dilingkari oleh banyak lingkaran berputar dan menyala bermacam-macam, kemudian berubah seperti bulan.
Arti devide little commercial take home, terlihat seperti orang banyak berdiri antri untuk menerima sesuatu; terlihat tangan kanan yang memberikan sesuatu (seperti bulatan putih) kepada yang antri. Yang antri tersebut berjubah putih yang pinggangnya ditali yang ada kantongnya di sebelah kiri. Yang diterimanya dimasukkan kedalam kantong. Dia berdiri di depan banyak orang bersila dan membagikan kepada yang bersila. Suara yang terdengan “moving… moving …moving …” Yang bersila banyak sekali, maka memerlukan waktu .Tulisan yang terlihat :”moving include A numeric Z”
(:”Sing dibagi kuwi akal utawa pengajaran yang disampaikan, yang datang dari Roh Kudus, lewat si pemberi itu tadi. Amarga Roh Kudus kuwi asale saka surga, ya bab surga. Bab papan lan mapan tentang surga, surga sebagai papan dan surga sebagai tempat tinggal. Papan kang indah amba ora ana bongkot pucuke ora ana ngisor ndhuwure; Ya papan kaya ngene iki, ananging ora ana siksa, ora ana aniaya, ora ana rubeda, ora ana kanisthan, ora ana palang tunjang lan langgeng ana ing Astane.
Apakah bisa dirasakan di dunia ini? :”Ana lan bisa.” Caranya bagaimana? :”Carane, kowe kudu bisa sak emper karo Gusti, dalam hal permasalahan, dalam hal perbuatan, dalam hal kesukaan, dalam hal nol.”
Contohnya dalam hal permasalahan. :”Barang ana kang ora ana dadekna ora ana nol. Utang lan piutang padha tegese, nol. Sing abot urip lan mati, malah dadi = mati, nol. Guru lan murid = bodho, nol. Ora ana wong lanang ora ana wong wedok, ora ketok wong lanang ora ketok wong wedok = bujel.”
Contoh dalam hal perbuatan. :”Perbuatan mengkhayal. Perbuatan mengkhayal sing ora bakal kedaden lumarabna wae = lali = nol. Iki jenenge tentang khayal dhisik. Perbuatan nyata kang gampang ditiru; contone gawe padhang, ikhlas, sabaran, tumata, enjoy. Perbuatan yang agak abstrak, contone berbuat kasih, berbuat donor, berbuat mirang wani rugi, wani entek entekan, wani nombok, wani cilaka, wani gering, wani nggo tumbal, wani bablas (gambaran tanah). Conto sing gampang, ora males ora nyangkal, ora merangi, ora ngidoni (mencemooh), Lan sak piturute. Cekake mengkene:Nek kowe isa lahir batin lan pikiran dadi nol, ora duwe apa-apa, bisa materi, drajat, pangkat lan sak piturute, tenang, sunyi, indah, sirep, gamblang, ketemu swargane.” Bila tidak sak emper dengan Gusti, tetapi dalam segala hal kecukupan :”Kuwi begundhale setan. Wong kang kok sebutke mau dadi susuhing keblat nolak Gusti Yesus.” Jika sudah mlarat tetapi mengeluh terus :”Mlarat ateges nelangsa, mlarat ateges nrima, mlarat ateges nyatria, mlarat ateges ora ana, mlarat ateges wani ndhadha, kuwi klebu sak emper Gusti.”
:”Kewalikane, mlarat ning nunjang palang, kemrungsung, sok nggrahita, nyumpahi, kuwi klebu melawan. Ya kabeh iki maui pengertian, pengajaran. Kabeh kuwi dudu mung pandelengan.”
Apakah akal budi model pak Xxxxxx?:”Kae wingi iku pengajaran sing kuwalik, pengajaran sing mbedhah angger-angger utawa nerak bener. Ajaran kang lumaku bapa durjana.”
:”Santhet kuwi energi saka uwong dilewatke benda, utawa lewat sesuatu, nempel uwong. Kuwi kanggone kowe lali keblat. Kuwi dudu musrik ning mung kelangan kiblat. Musrik kuwi mengharapkan sesuatu dari keampuhan benda supaya bisa merubah ke arah positif.”
Kesaktian, kadigdayan, menyembah sesuatu dianggap sama dengan menyembah Hosti .. :”Kowe sebagai umat Katolik menganggap benda benda rohani sing duwe kekuatan magic utawa kemampuan khusus, super, elegan, kuwi jenenge Sabda Dalem kang mijil, Sabda Dalem kang ditamakake, Sabda Dalem kang dimusadakake. Barange dhewe ora ampuh, Sabdane sing ampuh; Pengakuane Sabda sing ampuh. Selaras karo Sabda Dalem, dudu musrik. Bedane ana Sabda, nek musrik kemampuan barange.”
Sak emper dalam hal kesukaan? :”Umume kesukaan sing ateges kenikmatan = lali. Lali urip. Lali nikmat, lali urip, kosong.”
Mas Hartono bertanya bahwa prihatin dalam ziarah ini ujubnya ingin nywargakake anak bojo, bener atau tidak? :”Padha kersane Gusti”
Bagaimana jika lebih luas untuk banyak orang? :”Oleh lan padha. Umume saranane sing beda. Kanggo umum tantangane abot, godhane akeh, seling surube muncul, ora kapercayan. Gampangane durung mesthi wong percaya. Karepmu apik malah dianggep musuh.”
Bagaimana dengan keinginan nywargake orang banyak tetapi malah anak istri kapiran? :”Mung kurang tumata. Ngomah ditata dhisik banjur nyelaraske keinginan, kemauan anak bojoku luwih dhisik. Banjur liyane.”
Nywargake anak bojo? :”Isa ninggalke kebutuhanmu dhewe, kanggo kepentingane anak bojo. Becike kowe melua, dadi siji karo anak bojo; tinggalen urusane omahmu dhewe.”
:”Bojo kuwi pangimpening awakmu sing padha karo kowe. Yen beda, kuwi jenenge mung jodho.”
Beda keyakinan :”Yen koyo ngono ananging dalam kehidupan mengalami kebersamaan, senang, bahagia, ayem tentrem lan sakpiturute, sing kaya diimpekake, kuwi jenenge bojo.”
Suami istri itu yang benar jodho atau bojo:”Bebojoan kuwi luwih dhuwur tinimbang jejodhoan. Bojo kuwi dadi siji sehati sejiwa; Nek jodho kuwi dua kekarepan satu jiwa”
“Pengangkahe menungsa yen didadekake sakramen kuwi ora gelem.”
Pertengahan malam kami istirahat. Ada yang berdoa pribadi, ada yang ngobrol pengalaman rohani.
30 November 2010
Tengah malam berkisar jam 02.00 kurang, pak Sumeri seperti melihat atau mendengar suara tentang Setyaki. Aku katakan sebagai tokoh pewayangan yang menjadi patih Dwarawati, senjatanya gada Rujakbeling; Sering disebut juga sebagai Bima Kunthing. Seorang patih yang setia dan jujur, sakti dan berani. Kemudian kami masih ngobrol tentang pengalaman rohani, sewaktu berkunjung kesini tahun yang lalu. Di perhentian ke tujuh kami semua diberi komuni oleh romo Sasra Wardoyo.
Kami lupa untuk menanyakan siapakah yang tadi sore memberi kami komuni. Aku lihat semuanya malah tidur masing-masing. Pak Sumeri berdoa rosario dan menyanyi sendirian di depan patung Bunda Maria. Akhirnya aku juga tertidur seperti yang lain sampai pagi hari.
Keesokan harinya kami turun gunung bersama seorang temen yang ketemu di atas. Dia melanjutkan perjalanan ke Klaten, sedangkan kami kembali ke lereng Merapi mengantar pak Sumadi. Kami istirahat sejenak di rumah mas Herry adik mas Hartono.
Sekitar pukul dua siang kami melanjutkan perjalanan ke rumah sakit Palang Biru di Gombong, menjenguk istri mas Agus teman pak Pudjono yang sedang sakit. Kami berdoa untuk yang bersangkutan. Kemudian pak Pudjono kami tinggalkan di rumah sakit, menemani yang berjaga.
Kami melanjutkan perjalanan pulang ke Bandung. Kurang lebih jam dua pagi tanggal 1 Desember 2010 kami sampai ke rumah masing-masing. Acara istirahat di rumah, karena sore hari kami berdua belas sudah berniat untuk berdoa dua jaman saling bergantian..
Tuhan, terima kasih atas penyertaanMu selama ini. Dari berangkat sampai kembali ke rumah kami masing-masing. Amin.
Kamis, 04 November 2010
Pengalaman 1 November 2010
1 November 2010
Siang itu pak Sumeri memberi kabar akan ke rumah pak Pudjono yang akan pulang ke Yogyakarta sorenya. Aku menyusul dengan membawa tiga bungkus nasi Padang. Kelihatannya mereka berdua sedang berkomunikasi rohani dengan Bapa Paningal.
Berkisar pukul 13.00 ada simbul lilin besar menyala. Kemudian pak Sumeri bercerita tentang situs blog Murtadin yang agak mengagetkan. Maka saya bertanya apakah betul wahyu yg diterima Xxxxxx seperti itu. Suara yang terdengar :”Bathangen dhewe. Kuwi saka Gusti apa saka sapa?”
Kami berkomentar macam-macam, kemudian suara yang terdengar :” Kuwi turunane ular beludag.”
Aku agak heran sewaktu pindah duduk di lantai, aku hang ... tertidur cukup lama. Memang badan sedang capai, kurang tidur selama beberapa hari.
Jam 15.00 ada simbul gambar wayang raksasa besar sekali dan kelihatan dekat :”Dhanyange bumi metu.” Tidak ada terusannya.
Kami bertanya tentang orang yang baru saja meninggal, apakah tidak semua bisa menembus batas ruang dan waktu termasuk bahasa; seperti kami mendoakan orang yang berbeda agama, atau beda bahasa.
:”Wong kuwi durung bisa nampa donga kabeh. Sing digawa mung donga asline. Sing tak karepake, kuwi donga sing dingerteni wiwit cilik. Yen wong Kong Hu Chu didongakake nganggo cara KongHuChu. Wektu kuwi ya durung jumbuh. Kuwi etungane ora nganggo wektu, ning nganggo rasa..”
:”Nasibe padha. Umume wong Katolik iku wong pengertian. Sing dingerteni ya dongane dhewe. Didongakake sapa wae oleh ning ……. (hilang).”
:”Alang ujure kuwi ana cangkemku, dudu cangkeme sing donga. Mula kowe aja bimbang, ora usah sumelang. Bapa di surga wis pirsa. Air baptisan lan Komuni kuwi manjur, nylametake nyawa..”
:”Biasane yen wis mendekati 700-800 dina sakuwise mati, lagi bisa bahasa roh, bisa macem-macem, nampa pandongane wong akeh.”
Bagaimana jika untuk orang abangan?
:”Wong kang mangkono kuwi sing dideleng, sing dirakut dongane anakke utawa sedulure, sing dianggep bisa nulungi lampahe. Sebab kuwi dianggep sarana langgeng.”
:”Nek mbok Tasmini sing disenengi, sing diugemi, sing digelemi suarane pak Sumeri. Biasane cukup manthuk..”
Bagaimana doa yang terkena musibah bencana?
:”Sing dianggo tetep dongane sedulure, sebab kuwi sing dianggep jiarah. Gampangane dongamu mung ndandani. Tegese mung kabecikan, ikut bela sungkawa, ora ngrungkebi. Sing ngrungkebi sing jiarah. ……. Saat kuwi dongamu ora kanggo, sing kanggo sing masrahake.”
Apakah betul orang Kristen tempatnya di Api penyusian dan surga (maksudnya tidak akan ke neraka)?
:”Neraka ana, api penyucian ana, swarga ana. Pokoke neraka tetep ana, pacoben ana, swarga ana. Neraka, pacoben, swaga kuwi rak arahan papan panggonan sak-uwise mati. Gumantung pakaryane duk semana. Wektu urip.”
Mengapa Diana tidak bisa berkomunikasi rohani dengan mbah Baud?
:”Cekelane Diana kurang dhuwur, kurang transparan ing ati, kurang putih ana ati. Dadi kurang mau menerima,, ora gelem nampa sak kabehe, isih nganggo rasa. Gampangane ora gelem nampa, malah mbedhedheg atine..”
Bagaimana dengan model doa arwah sampai 1000 (seribu) hari?
:”Nek wong nyewu kuwi tegese kanggo ndongakake keri dhewe, dianggep sewu dina wis cukup membantu, menolong, nyengkuyung, age-age gesang langgeng, sing dimaksud slamet. Umume mung tekan sewu dina. Kuwi urusane menungsa, karepe sing isih urip. Sing ana kana, sing wus seda gumantung gandhulane sapa, ndherek sapa. Mbuh swarga, mbuh ….., apa swarga apa dahana mulat, “?”
Bagaimana dengan mendoakan setiap saat atau setiap tahun?
:”Ubarampe apa sing kok tumindakake kanthi prasaja, kanthi legawa kanggo swargi bapa biyung, mbuh wis pirang tahun kapundhut Gusti, cekak atine kang kok kirim donga, kang kok suwunke ngapura, mesthi ___ bakal manggih begja.”
Sebenarnya bagaimana dengan model seperti mbah Baud?
:”Papan Pangentosan dudu, Palerenan dudu, kelanggengan dudu. Ndherek sapa, Gustimu ora ngerti. Urip neng kono dhewe ya ora pirsa. Ya kuwi, gandhulane urip ndherek sapa.”
Apakah bisa didoakan?
:”Aja-aja neng omahmu dhewe ana sing tunggu. Nek ora njaluk, ora nemoni, ora mepet awakmu, ora perlu, ora usah.”
Terus namanya apa, Tuhannya siapa?
:”Sukma Dora Dahana ora ana. Panglipur Jiwa ora ana, pasiksan ora ana. Sangkal suwita ing Gusti ora ana. Wong kaya ngono kuwi waton tumindak leres, ora ana siksa. Jaman kuwi dianggep jaman „mbuh ora weruh” sing penting tumindake becik; Agemane ya ora ngerti, Gusti ana ngendi ya ora ngerti.”
:”Aja nyalahake Gusti Yesus. Nemoni kowe wae ora.. Kudune ngongkon kowe dhisik, wong sing isih urip. Banjur kok tuduhake dalane, kok suwunake. Boro-boro gelem, wong ana kana kepenak. Ora awan ora bengi, ora adhem ora panas.”
:”Mengko nek Kiamat, kabeh dikumpulake, sukmane ben ndhene, ben ngadhep dhewe, ben ngomong dhewe. Ya dalane ora nganggo dalan agama. Dalane dalan kanugrahan, dalane dalan welas asih. Jenenge Dalan Kendel Sepata. Tegese wis bubar, urusane tanpa syarat..”
Bagaimana yang kenal agama tetapi masih nglambrang?
:”Sing kaya ngono kuwi malah sing diarani Sukma nglambrang, ora ngerti panggonane, ora ngerti tujuane. Nanging ora kabeh mengkono. Ora njur dianggep kabeh ora tekan. Kuwi sing sok gampang kesahut, gampang kepikut. Gampangane kesaut melu roh jahat. Mesakake. Yen bisa sembadanana, nek ngerti jenenge, nek apal wonge, nek kowe lila atimu.”
Bagaimana dengan kelompok Amrozi atau model teroris seperti yang di Indonesia?
:”Kuwi rak di seberang jalan karo kowe, kok direka-reka. Wis nemu ajale mbok wis ben.”
Maksud kami kasihan, mungkin bisa didoakan
:”Memange kowe isa ngusir roh jahat, isa nglindungi dheweke saka kungkungan kejahatan? Dheweke wis dadi balane Si Jajul.”
Kami berdoa mengucap syukur, karena sudah petang dan pak Pudjono siap-siap. Saya mengantar sampai terminal.
Siang itu pak Sumeri memberi kabar akan ke rumah pak Pudjono yang akan pulang ke Yogyakarta sorenya. Aku menyusul dengan membawa tiga bungkus nasi Padang. Kelihatannya mereka berdua sedang berkomunikasi rohani dengan Bapa Paningal.
Berkisar pukul 13.00 ada simbul lilin besar menyala. Kemudian pak Sumeri bercerita tentang situs blog Murtadin yang agak mengagetkan. Maka saya bertanya apakah betul wahyu yg diterima Xxxxxx seperti itu. Suara yang terdengar :”Bathangen dhewe. Kuwi saka Gusti apa saka sapa?”
Kami berkomentar macam-macam, kemudian suara yang terdengar :” Kuwi turunane ular beludag.”
Aku agak heran sewaktu pindah duduk di lantai, aku hang ... tertidur cukup lama. Memang badan sedang capai, kurang tidur selama beberapa hari.
Jam 15.00 ada simbul gambar wayang raksasa besar sekali dan kelihatan dekat :”Dhanyange bumi metu.” Tidak ada terusannya.
Kami bertanya tentang orang yang baru saja meninggal, apakah tidak semua bisa menembus batas ruang dan waktu termasuk bahasa; seperti kami mendoakan orang yang berbeda agama, atau beda bahasa.
:”Wong kuwi durung bisa nampa donga kabeh. Sing digawa mung donga asline. Sing tak karepake, kuwi donga sing dingerteni wiwit cilik. Yen wong Kong Hu Chu didongakake nganggo cara KongHuChu. Wektu kuwi ya durung jumbuh. Kuwi etungane ora nganggo wektu, ning nganggo rasa..”
:”Nasibe padha. Umume wong Katolik iku wong pengertian. Sing dingerteni ya dongane dhewe. Didongakake sapa wae oleh ning ……. (hilang).”
:”Alang ujure kuwi ana cangkemku, dudu cangkeme sing donga. Mula kowe aja bimbang, ora usah sumelang. Bapa di surga wis pirsa. Air baptisan lan Komuni kuwi manjur, nylametake nyawa..”
:”Biasane yen wis mendekati 700-800 dina sakuwise mati, lagi bisa bahasa roh, bisa macem-macem, nampa pandongane wong akeh.”
Bagaimana jika untuk orang abangan?
:”Wong kang mangkono kuwi sing dideleng, sing dirakut dongane anakke utawa sedulure, sing dianggep bisa nulungi lampahe. Sebab kuwi dianggep sarana langgeng.”
:”Nek mbok Tasmini sing disenengi, sing diugemi, sing digelemi suarane pak Sumeri. Biasane cukup manthuk..”
Bagaimana doa yang terkena musibah bencana?
:”Sing dianggo tetep dongane sedulure, sebab kuwi sing dianggep jiarah. Gampangane dongamu mung ndandani. Tegese mung kabecikan, ikut bela sungkawa, ora ngrungkebi. Sing ngrungkebi sing jiarah. ……. Saat kuwi dongamu ora kanggo, sing kanggo sing masrahake.”
Apakah betul orang Kristen tempatnya di Api penyusian dan surga (maksudnya tidak akan ke neraka)?
:”Neraka ana, api penyucian ana, swarga ana. Pokoke neraka tetep ana, pacoben ana, swarga ana. Neraka, pacoben, swaga kuwi rak arahan papan panggonan sak-uwise mati. Gumantung pakaryane duk semana. Wektu urip.”
Mengapa Diana tidak bisa berkomunikasi rohani dengan mbah Baud?
:”Cekelane Diana kurang dhuwur, kurang transparan ing ati, kurang putih ana ati. Dadi kurang mau menerima,, ora gelem nampa sak kabehe, isih nganggo rasa. Gampangane ora gelem nampa, malah mbedhedheg atine..”
Bagaimana dengan model doa arwah sampai 1000 (seribu) hari?
:”Nek wong nyewu kuwi tegese kanggo ndongakake keri dhewe, dianggep sewu dina wis cukup membantu, menolong, nyengkuyung, age-age gesang langgeng, sing dimaksud slamet. Umume mung tekan sewu dina. Kuwi urusane menungsa, karepe sing isih urip. Sing ana kana, sing wus seda gumantung gandhulane sapa, ndherek sapa. Mbuh swarga, mbuh ….., apa swarga apa dahana mulat, “?”
Bagaimana dengan mendoakan setiap saat atau setiap tahun?
:”Ubarampe apa sing kok tumindakake kanthi prasaja, kanthi legawa kanggo swargi bapa biyung, mbuh wis pirang tahun kapundhut Gusti, cekak atine kang kok kirim donga, kang kok suwunke ngapura, mesthi ___ bakal manggih begja.”
Sebenarnya bagaimana dengan model seperti mbah Baud?
:”Papan Pangentosan dudu, Palerenan dudu, kelanggengan dudu. Ndherek sapa, Gustimu ora ngerti. Urip neng kono dhewe ya ora pirsa. Ya kuwi, gandhulane urip ndherek sapa.”
Apakah bisa didoakan?
:”Aja-aja neng omahmu dhewe ana sing tunggu. Nek ora njaluk, ora nemoni, ora mepet awakmu, ora perlu, ora usah.”
Terus namanya apa, Tuhannya siapa?
:”Sukma Dora Dahana ora ana. Panglipur Jiwa ora ana, pasiksan ora ana. Sangkal suwita ing Gusti ora ana. Wong kaya ngono kuwi waton tumindak leres, ora ana siksa. Jaman kuwi dianggep jaman „mbuh ora weruh” sing penting tumindake becik; Agemane ya ora ngerti, Gusti ana ngendi ya ora ngerti.”
:”Aja nyalahake Gusti Yesus. Nemoni kowe wae ora.. Kudune ngongkon kowe dhisik, wong sing isih urip. Banjur kok tuduhake dalane, kok suwunake. Boro-boro gelem, wong ana kana kepenak. Ora awan ora bengi, ora adhem ora panas.”
:”Mengko nek Kiamat, kabeh dikumpulake, sukmane ben ndhene, ben ngadhep dhewe, ben ngomong dhewe. Ya dalane ora nganggo dalan agama. Dalane dalan kanugrahan, dalane dalan welas asih. Jenenge Dalan Kendel Sepata. Tegese wis bubar, urusane tanpa syarat..”
Bagaimana yang kenal agama tetapi masih nglambrang?
:”Sing kaya ngono kuwi malah sing diarani Sukma nglambrang, ora ngerti panggonane, ora ngerti tujuane. Nanging ora kabeh mengkono. Ora njur dianggep kabeh ora tekan. Kuwi sing sok gampang kesahut, gampang kepikut. Gampangane kesaut melu roh jahat. Mesakake. Yen bisa sembadanana, nek ngerti jenenge, nek apal wonge, nek kowe lila atimu.”
Bagaimana dengan kelompok Amrozi atau model teroris seperti yang di Indonesia?
:”Kuwi rak di seberang jalan karo kowe, kok direka-reka. Wis nemu ajale mbok wis ben.”
Maksud kami kasihan, mungkin bisa didoakan
:”Memange kowe isa ngusir roh jahat, isa nglindungi dheweke saka kungkungan kejahatan? Dheweke wis dadi balane Si Jajul.”
Kami berdoa mengucap syukur, karena sudah petang dan pak Pudjono siap-siap. Saya mengantar sampai terminal.
Pengalaman 28 Oktober 2010
28 Oktober 2010
Kamis malam kami berkumpul di rumah pak Mardayat; aku, pak Pudjono, pak Siahaan, pak Abraham, pak Yohanes. Kemudian datang pak Sumadi, mas Agus Sudarno, pak Hartono dan pak Wahyanto.
Sebelumnya saudara pak Mardayat (pak Suwarno Kushadi) sudah konsultasi kesehatan untuk istrinya yang sakit payudara.
22.45 simbol yang kelihatan oleh pak Pudjono, gunung Merapi seperti digaru diratakan ke bawah. dan masih terlihat. Kami berdoa untuk para saudara di gunung Merapi. Kemudian kami bertanya kira-kira berhenti atau malah membesar, ada kurban atau tidak:”Ora ana liya sing ngerti sedulurmu dhewe. Nek kowe ora oleh weruh.. Yen wingi sagenggem, saiki sak tenggok.”
Apakah bisa disyarati untuk mengurangi jumlah kurban :”Syarate getih abang.” Yang terlihat simbul degan dipotong/ diparas. Selama ini menjadi simbul untuk orang mati.
Apakah ada yang menjaga gunung Merapi, tetapi tidak ada jawaban.
Simbul yang kelihatan malah simbul gunungan tetapi seperti ada lampunya.
:”sing dianggo sing mburi. Papan kamulyan Dalem arep turun, arep rawuh. Tegese cagak (yang kelihatan warna hitam) Ya pantes yen cagak kuwi ireng marga abot. Gen tetep dadi tunggul. Dadi kowe kabeh yen wis dadi panutan, kuwi abot. Aja nganti uwal, aja nganti bedhol. Dadi dudu Gusti Yesus sing rawuh ananging jiwamu dhewe-dhewe. Kajaba nyangga awakmu dhewe, nyangga kanan kering, kaya ucapanmu mau. Cagak kuwi mau kumpulaning atimu. Aja nganti goyah, ndhak ngisin-isini. Aja nganti liline mati. (sekarang cagak sudah berubah menjadi putih). Juru selamat masa kini, juru selamat ginawe ayu. Dadi kowe kudu bisa dadi juru selamat. Percuma Roh Kudus mapan, kowe aja ngguya ngguyu, ketoke rada maido.”
Menapa malih Gusti? Seratan utawi ungel2 menapa?
:”The first order, Son cum laude decide be size ”home side” guide homeless “
Sekarang yang terlihat seperti kitab tetapi tidak tebal dan masih baru.
:”Kitab cekelane para nabi gen bisa munggah swarga. Dadi duwe cekelan dhewe. isine darma mukti, darma wisuda. Kelakuanmu kudu kok tepakke ana awakmu dhewe, iso apa ora? (ada gambar cakar ayam, jago berjalan pincang) „
Simbol lainnya?
:”Gampangane anggepen wongliya kuwi ya awakmu dhewe. Nek nggawe susah wong liya, susahe dhewe. Nggawe rekasa wong liya rekasane dhewe. Nggawe ajal wong liya kena awake dhewe. Tangane wong liya anggepen tangane dhewe. Tegese yen ana wong nabok, ana wong milara, anggepen ora ana apa-apa. Gampangane ora oleh nekakke kuk, ora oleh ngewanke uwong. “
Gusti kok ajaranipun kados mekaten, wonten menapa? sepi tidak ada jawaban
:”Cekelanmu kitab warta lelampah utama. Gampangane kitab para rasul. Kuwi anggonen, rak slamet. Tugasmu genti nggenteni para rasul. Wong wis diwisuda kok isih bingung. Dadi yen dadi rasul ora perlu nek pas ngumpul. Wong Roh Kudus wis turun kok isih wedi. Ya manut kekiyatane dhewe-dhewe, manut bisane dhewe-dhewe. Ora perlu ngemu teges agung, cukup nyuwita ing Pengeran. Danganing penggalih ora saka akeh maca, akeh tuladha.”
Kelihatan buku sudah ditutup :”Saiki kowe padha ndongaa dhewe-dhewe. Kowe mesti wis duwe tugas dhewe-dhewe minurut pengangen-angenmu, ndongakke sapa wae oleh. “
Kami berdoa bersama dengan ujub masing-masing.
Kemudian terlihat nasi satu lepek (satu cawan). Tegesipun menapa Gusti?
:”Dhaharan jasmani wis cumawis, mung kari kudu kok genepi nganggo makanan rohani. Genti ana kene kowe sing nyawisake, gen kabeh melu mangan.”
Menapa menika Gusti :”Dongamu kuwi mau isih kurang panjang, kurang komplit, isih kurang akeh. Kuwi sing kudu kok cawisake. Ora tak arani bengi iki, kena liya dina. “
Menapa malih Gusti? :”Gunane melek bengi, kejaba dadi kidung, uga dadi sarana kabecikan, sarana tetulung, sarana ungkapan kasih mring pepadha; Ora apa-apa ndongakke wong sing ora ngerti, ora krungu. Kuwi becik Mesthine imbalane ya ana.”
pak Sumeri melihat seseorang seperti biksu berpakaian kuning :”Yakuwi Bapa fadjar Baru sing arep ngekeki pencerahan marang pak Sumeri. Yakuwi roh kang awujud.”
Yang terlihat Bapa Fadjar Baru menjadi satu dengan pak Sumeri dan terlihat seperti orang bersila. :”Jagadmu isih abang.” Kemdian spertinya Roh Kudus turun kepada pak Sumeri yang membuat putih, berubah seperti burung blekok. Alkitab ditangan pak sumeri dan diletakkan di dada. :”Rubahen atimu nganggo atiKu. Pak Sumeri, Sang Sabda uwis rawuh. Unjukna atur. Wis sethithik wae. Madhepa ngetan, ngadega kabeh berkatana.”
Ada simbul gigi geraham :”Paribasan wis dewasa, wis kuwat.”
Terlihat seperti tangan kanan diacungkan kedepan seperti memberkati.:”Jane kowe krasa apa ora?” Pak Sumeri menjawab bahwa kraos. :”Nek krasa ateges Gusti wis makarya”
:”Gampangane umbaren, kabeh omonganmu kanggo.”
Kemudian terlihat sepertinya pak Mardayat ngrogoh sukma berdiri di belakang mas Hartono.
Sepertinya pak Mardayat kepanjingan Bunda Maria, karena berubah seperti Bunda membawa tasbih dan bermahkota.
Bunda Maria :”Berkah ora saka aku, aku mung menyampaikan.”
Pak Mardayat diminta ngajar namun sebagai pengantara Bunda Maria.
:”Penyuwunmu marang Putraku wis ..... (nggak bisa ngejar kata-kata pak Mardayat)
Bunda Maria :”Urusan doa tetep marang Allah Bapa. Aku mung nggenepi. Kurang luwihe saka pengentha-enthamu, banjur diaturke dening Bunda marang Gustimu. Dadi isine doamu, Bunda kang nggenepi amrih dadi kinarbuka ing astane Hyang Rama. Wis semono wae, mengko ndhak aku dioyak.”
Penjelasan doa yang langsung ke Allah Bapa, dimana Tuhan Yesus:
Bunda Maria:”Letake Gusti Yesus dadi siji karo Bunda.”
:”Pokoke loro-lorone bener. Mung umume aku dikiwakke. “
Dongamu kuwi lancang, wong kowe durung tau weruh Gusti Allah. Sing ngerti aku.”
:”Aturna marang Bunda ben Bunda sing ngaturake Dongamu becike kaya mengkono. Dongamu kudu kok aturke marang Bunda utawa GustiYesus. Kuwi pokok pangerten urut-urutane.”
Penjelasan doa Bapa Kami ? :”Bundamu kuwi Bunda segala bangsa. Nek kowe donga Bapa Kami ndhak kowe kleru sing nyembah, ndhak nyembah allah lain. Inti utamane lewat Bunda karo Gusti Yesus. Doa Bapa Kami dianggo ndhak kowe nggoleki allah lain.”
:”Doamu kuwi senenge bertele-tele. Sing kanggo Bunda Maria/ Tuhan Yesus doakanlah kami, Ben uwong kuwi mari, ben uwong kuwi lancar. Keblatmu rak nyang Allah Bapa njaluk kawusanan. Ning apike sing ngaturake Bunda.”
Ampuhnya doa Bapa Kami?
:”Ampuhe yen kowe ngakoni yen Gusti Allah ana. Penyuwunmu kuwi tetep neng Gusti Yesus. Sing ngusadani, sing nuntaske Sang Hyang Rama kang ana. Sang Hyang Rama kuwi jejer, kang ana kuwi kang linuwih kang ora katon. Gampangane Sang Sabda. Dadi yen kowe nyebut Sang Hyang Rama, mungkin neng atimu ora ana Sang Sabda. “
Ana kuwi tegese ana kang ana ananing ana, dudu ana ateges suasana utawa ana ing sasana.
Bapa kami yang ada di SURGA ? :”Ana kene ngemu teges papan panyembahan, papan kang suci, manggone utawa tempate, letake, singgasanane ana ing swarga ning ora kudu swarga. Swargane gawenen dhewe. Pangerten kuwi angel kanggone kowe, gampang kanggone Bunda.”
:”Nek kowe isa ngilangke duniamu, nglalekke rekasamu, pikiran jahatmu, pikiran alamu. kowe wis bisa mbayangke yen swarga kuwi ana. Ning kowe durung bisa ngrasakke tenane swarga. gampangane kowe lagi ngerti kahanan neng swarga sing kaya pengimpen-impenmu. Swarga kuwi kahanan kang nyata, gampangane mulya.”
:”Donga kurang dawa, dongamu lagi sethithik ora murakabi wong liya. Bertele-tele, dongamu kuwi njelehi. Penjalukmu kuwi mboseni. Cukup nyebut jenenge, Bunda lan Gustimu wis pirsa. Sakjane dongamu kuwi karepe rak cepet rampung. Intine rak nyuwun mari, rak nyuwun jodo, rak nyuwun dangan. Bunda kuwi wis pirsa sebuten jenenge wae. Wis ta mengko rak mari. Doa ungkapan iman kuwi doa sing tanpa pamrih. Kuwi ateges memuji memuliakan, mengungkapkan. Doa sing pendhek kuwi doa cepat tepat. Mosok kowe kepleset ndadak nganggo doa panjang, wis tiba.”
Bagaimana doa 2 jam? :”Jane donga kuwi piye ta? Donga sing dawa padha karo donga sing cekak. Yen kowe ndonga rong jam telung jam ora papa, diisi ukarane dhewe kena, diisi pangayubagya bisa, Nyanyian kuwi pangalembana oleh.”
:”Donga kok nganggo maca. Yen dibatin mengko kowe diganggu liya-liya. Memangnya padha iso meditasi? “
Doa dinyanyikan :”Kuwi luwih apik, sebab yen kowe nyanyi pikiranmu malah sawiji. Mazmur lan litany oleh ning kudu diapalke.”
:”Dongamu kuwi sak rangkean, wiwit saka menyat saka ngomah, nganti tekan ketemu wonge, kuwi kanggo. Niyatmu saka ngomah rak kepengin nambani.”
:”Nek Bunda isih kanggo, Bunda isih ana, arep ngetutke kowe tekan ngomah.”
Kami berdoa mengucap syukur, kemudian sebagian besar pulang tinggal tuan rumah, aku. pak Yohanes, pak Pudjono, pak Sumeri dan mas Rudi.
Sebaiknya dalam doa permohonan, penyuwunan dahulu baru doa pakem.
:”Sing genep rosario kuwi 150 kanggo satu ujub, ora kena liyane numpang, ora kena liyane nunut.”
Utk pak Pudjono kurangane isih akeh durung genep.
Sing disebut satu ujub kuwi satu perkara, sak panyuwunan, mung mligi. Apike neng kene ora susah nyang-nyangan.”
Bagaimana jika kepada Tuhan Yesus dengan ujub yang banyak tanpa rosario :”Biyen-biyene donga kuwi mung siji, Bapa Kami, kena dianggo apa wae. Banjur muncul doa-doa kang akeh kanggo samubarang, nganti bisa teka jroning ati, njur dadi pengganti doa Bapa Kami thok. Ana kene nilaine padha, padha benere padha apike padha anggone, padha ditampane, padha diaminke. Kabeh oleh. Kowe arep gawe donga sing madik-madik nganggo tata caramu, waton diwiwiti Bapa Kami, ampuhe padha. Tegese tetep Kabul.”
Doa Bapa kami bisa untuk ujub yang banyak? :”Apike aja. Doa Bapa Kami cukup untuk memuliakan Allah. Yen rosario kabeh kuwi mau kan rangkaian termasuk Bapa Kami”
Kamis malam kami berkumpul di rumah pak Mardayat; aku, pak Pudjono, pak Siahaan, pak Abraham, pak Yohanes. Kemudian datang pak Sumadi, mas Agus Sudarno, pak Hartono dan pak Wahyanto.
Sebelumnya saudara pak Mardayat (pak Suwarno Kushadi) sudah konsultasi kesehatan untuk istrinya yang sakit payudara.
22.45 simbol yang kelihatan oleh pak Pudjono, gunung Merapi seperti digaru diratakan ke bawah. dan masih terlihat. Kami berdoa untuk para saudara di gunung Merapi. Kemudian kami bertanya kira-kira berhenti atau malah membesar, ada kurban atau tidak:”Ora ana liya sing ngerti sedulurmu dhewe. Nek kowe ora oleh weruh.. Yen wingi sagenggem, saiki sak tenggok.”
Apakah bisa disyarati untuk mengurangi jumlah kurban :”Syarate getih abang.” Yang terlihat simbul degan dipotong/ diparas. Selama ini menjadi simbul untuk orang mati.
Apakah ada yang menjaga gunung Merapi, tetapi tidak ada jawaban.
Simbul yang kelihatan malah simbul gunungan tetapi seperti ada lampunya.
:”sing dianggo sing mburi. Papan kamulyan Dalem arep turun, arep rawuh. Tegese cagak (yang kelihatan warna hitam) Ya pantes yen cagak kuwi ireng marga abot. Gen tetep dadi tunggul. Dadi kowe kabeh yen wis dadi panutan, kuwi abot. Aja nganti uwal, aja nganti bedhol. Dadi dudu Gusti Yesus sing rawuh ananging jiwamu dhewe-dhewe. Kajaba nyangga awakmu dhewe, nyangga kanan kering, kaya ucapanmu mau. Cagak kuwi mau kumpulaning atimu. Aja nganti goyah, ndhak ngisin-isini. Aja nganti liline mati. (sekarang cagak sudah berubah menjadi putih). Juru selamat masa kini, juru selamat ginawe ayu. Dadi kowe kudu bisa dadi juru selamat. Percuma Roh Kudus mapan, kowe aja ngguya ngguyu, ketoke rada maido.”
Menapa malih Gusti? Seratan utawi ungel2 menapa?
:”The first order, Son cum laude decide be size ”home side” guide homeless “
Sekarang yang terlihat seperti kitab tetapi tidak tebal dan masih baru.
:”Kitab cekelane para nabi gen bisa munggah swarga. Dadi duwe cekelan dhewe. isine darma mukti, darma wisuda. Kelakuanmu kudu kok tepakke ana awakmu dhewe, iso apa ora? (ada gambar cakar ayam, jago berjalan pincang) „
Simbol lainnya?
:”Gampangane anggepen wongliya kuwi ya awakmu dhewe. Nek nggawe susah wong liya, susahe dhewe. Nggawe rekasa wong liya rekasane dhewe. Nggawe ajal wong liya kena awake dhewe. Tangane wong liya anggepen tangane dhewe. Tegese yen ana wong nabok, ana wong milara, anggepen ora ana apa-apa. Gampangane ora oleh nekakke kuk, ora oleh ngewanke uwong. “
Gusti kok ajaranipun kados mekaten, wonten menapa? sepi tidak ada jawaban
:”Cekelanmu kitab warta lelampah utama. Gampangane kitab para rasul. Kuwi anggonen, rak slamet. Tugasmu genti nggenteni para rasul. Wong wis diwisuda kok isih bingung. Dadi yen dadi rasul ora perlu nek pas ngumpul. Wong Roh Kudus wis turun kok isih wedi. Ya manut kekiyatane dhewe-dhewe, manut bisane dhewe-dhewe. Ora perlu ngemu teges agung, cukup nyuwita ing Pengeran. Danganing penggalih ora saka akeh maca, akeh tuladha.”
Kelihatan buku sudah ditutup :”Saiki kowe padha ndongaa dhewe-dhewe. Kowe mesti wis duwe tugas dhewe-dhewe minurut pengangen-angenmu, ndongakke sapa wae oleh. “
Kami berdoa bersama dengan ujub masing-masing.
Kemudian terlihat nasi satu lepek (satu cawan). Tegesipun menapa Gusti?
:”Dhaharan jasmani wis cumawis, mung kari kudu kok genepi nganggo makanan rohani. Genti ana kene kowe sing nyawisake, gen kabeh melu mangan.”
Menapa menika Gusti :”Dongamu kuwi mau isih kurang panjang, kurang komplit, isih kurang akeh. Kuwi sing kudu kok cawisake. Ora tak arani bengi iki, kena liya dina. “
Menapa malih Gusti? :”Gunane melek bengi, kejaba dadi kidung, uga dadi sarana kabecikan, sarana tetulung, sarana ungkapan kasih mring pepadha; Ora apa-apa ndongakke wong sing ora ngerti, ora krungu. Kuwi becik Mesthine imbalane ya ana.”
pak Sumeri melihat seseorang seperti biksu berpakaian kuning :”Yakuwi Bapa fadjar Baru sing arep ngekeki pencerahan marang pak Sumeri. Yakuwi roh kang awujud.”
Yang terlihat Bapa Fadjar Baru menjadi satu dengan pak Sumeri dan terlihat seperti orang bersila. :”Jagadmu isih abang.” Kemdian spertinya Roh Kudus turun kepada pak Sumeri yang membuat putih, berubah seperti burung blekok. Alkitab ditangan pak sumeri dan diletakkan di dada. :”Rubahen atimu nganggo atiKu. Pak Sumeri, Sang Sabda uwis rawuh. Unjukna atur. Wis sethithik wae. Madhepa ngetan, ngadega kabeh berkatana.”
Ada simbul gigi geraham :”Paribasan wis dewasa, wis kuwat.”
Terlihat seperti tangan kanan diacungkan kedepan seperti memberkati.:”Jane kowe krasa apa ora?” Pak Sumeri menjawab bahwa kraos. :”Nek krasa ateges Gusti wis makarya”
:”Gampangane umbaren, kabeh omonganmu kanggo.”
Kemudian terlihat sepertinya pak Mardayat ngrogoh sukma berdiri di belakang mas Hartono.
Sepertinya pak Mardayat kepanjingan Bunda Maria, karena berubah seperti Bunda membawa tasbih dan bermahkota.
Bunda Maria :”Berkah ora saka aku, aku mung menyampaikan.”
Pak Mardayat diminta ngajar namun sebagai pengantara Bunda Maria.
:”Penyuwunmu marang Putraku wis ..... (nggak bisa ngejar kata-kata pak Mardayat)
Bunda Maria :”Urusan doa tetep marang Allah Bapa. Aku mung nggenepi. Kurang luwihe saka pengentha-enthamu, banjur diaturke dening Bunda marang Gustimu. Dadi isine doamu, Bunda kang nggenepi amrih dadi kinarbuka ing astane Hyang Rama. Wis semono wae, mengko ndhak aku dioyak.”
Penjelasan doa yang langsung ke Allah Bapa, dimana Tuhan Yesus:
Bunda Maria:”Letake Gusti Yesus dadi siji karo Bunda.”
:”Pokoke loro-lorone bener. Mung umume aku dikiwakke. “
Dongamu kuwi lancang, wong kowe durung tau weruh Gusti Allah. Sing ngerti aku.”
:”Aturna marang Bunda ben Bunda sing ngaturake Dongamu becike kaya mengkono. Dongamu kudu kok aturke marang Bunda utawa GustiYesus. Kuwi pokok pangerten urut-urutane.”
Penjelasan doa Bapa Kami ? :”Bundamu kuwi Bunda segala bangsa. Nek kowe donga Bapa Kami ndhak kowe kleru sing nyembah, ndhak nyembah allah lain. Inti utamane lewat Bunda karo Gusti Yesus. Doa Bapa Kami dianggo ndhak kowe nggoleki allah lain.”
:”Doamu kuwi senenge bertele-tele. Sing kanggo Bunda Maria/ Tuhan Yesus doakanlah kami, Ben uwong kuwi mari, ben uwong kuwi lancar. Keblatmu rak nyang Allah Bapa njaluk kawusanan. Ning apike sing ngaturake Bunda.”
Ampuhnya doa Bapa Kami?
:”Ampuhe yen kowe ngakoni yen Gusti Allah ana. Penyuwunmu kuwi tetep neng Gusti Yesus. Sing ngusadani, sing nuntaske Sang Hyang Rama kang ana. Sang Hyang Rama kuwi jejer, kang ana kuwi kang linuwih kang ora katon. Gampangane Sang Sabda. Dadi yen kowe nyebut Sang Hyang Rama, mungkin neng atimu ora ana Sang Sabda. “
Ana kuwi tegese ana kang ana ananing ana, dudu ana ateges suasana utawa ana ing sasana.
Bapa kami yang ada di SURGA ? :”Ana kene ngemu teges papan panyembahan, papan kang suci, manggone utawa tempate, letake, singgasanane ana ing swarga ning ora kudu swarga. Swargane gawenen dhewe. Pangerten kuwi angel kanggone kowe, gampang kanggone Bunda.”
:”Nek kowe isa ngilangke duniamu, nglalekke rekasamu, pikiran jahatmu, pikiran alamu. kowe wis bisa mbayangke yen swarga kuwi ana. Ning kowe durung bisa ngrasakke tenane swarga. gampangane kowe lagi ngerti kahanan neng swarga sing kaya pengimpen-impenmu. Swarga kuwi kahanan kang nyata, gampangane mulya.”
:”Donga kurang dawa, dongamu lagi sethithik ora murakabi wong liya. Bertele-tele, dongamu kuwi njelehi. Penjalukmu kuwi mboseni. Cukup nyebut jenenge, Bunda lan Gustimu wis pirsa. Sakjane dongamu kuwi karepe rak cepet rampung. Intine rak nyuwun mari, rak nyuwun jodo, rak nyuwun dangan. Bunda kuwi wis pirsa sebuten jenenge wae. Wis ta mengko rak mari. Doa ungkapan iman kuwi doa sing tanpa pamrih. Kuwi ateges memuji memuliakan, mengungkapkan. Doa sing pendhek kuwi doa cepat tepat. Mosok kowe kepleset ndadak nganggo doa panjang, wis tiba.”
Bagaimana doa 2 jam? :”Jane donga kuwi piye ta? Donga sing dawa padha karo donga sing cekak. Yen kowe ndonga rong jam telung jam ora papa, diisi ukarane dhewe kena, diisi pangayubagya bisa, Nyanyian kuwi pangalembana oleh.”
:”Donga kok nganggo maca. Yen dibatin mengko kowe diganggu liya-liya. Memangnya padha iso meditasi? “
Doa dinyanyikan :”Kuwi luwih apik, sebab yen kowe nyanyi pikiranmu malah sawiji. Mazmur lan litany oleh ning kudu diapalke.”
:”Dongamu kuwi sak rangkean, wiwit saka menyat saka ngomah, nganti tekan ketemu wonge, kuwi kanggo. Niyatmu saka ngomah rak kepengin nambani.”
:”Nek Bunda isih kanggo, Bunda isih ana, arep ngetutke kowe tekan ngomah.”
Kami berdoa mengucap syukur, kemudian sebagian besar pulang tinggal tuan rumah, aku. pak Yohanes, pak Pudjono, pak Sumeri dan mas Rudi.
Sebaiknya dalam doa permohonan, penyuwunan dahulu baru doa pakem.
:”Sing genep rosario kuwi 150 kanggo satu ujub, ora kena liyane numpang, ora kena liyane nunut.”
Utk pak Pudjono kurangane isih akeh durung genep.
Sing disebut satu ujub kuwi satu perkara, sak panyuwunan, mung mligi. Apike neng kene ora susah nyang-nyangan.”
Bagaimana jika kepada Tuhan Yesus dengan ujub yang banyak tanpa rosario :”Biyen-biyene donga kuwi mung siji, Bapa Kami, kena dianggo apa wae. Banjur muncul doa-doa kang akeh kanggo samubarang, nganti bisa teka jroning ati, njur dadi pengganti doa Bapa Kami thok. Ana kene nilaine padha, padha benere padha apike padha anggone, padha ditampane, padha diaminke. Kabeh oleh. Kowe arep gawe donga sing madik-madik nganggo tata caramu, waton diwiwiti Bapa Kami, ampuhe padha. Tegese tetep Kabul.”
Doa Bapa kami bisa untuk ujub yang banyak? :”Apike aja. Doa Bapa Kami cukup untuk memuliakan Allah. Yen rosario kabeh kuwi mau kan rangkaian termasuk Bapa Kami”
Langganan:
Postingan (Atom)