Bunda Maria datang
Waktu itu hari Sabtu, waktu latihan koor di rumah pak Mardayat. Kebetulan aku datang agak terlambat bersama isteri. Di luar sedang duduk sendirian pak Pudjono yang mengantar istrinya latihan koor. Karena penglihatannya yang sudah menurun jauh, pak Pudjono sudah tidak bisa membaca apapun. Dia lebih senang duduk di luar menunggu.
Aku tidak ikut masuk ke dalam, namun aku mendekati pak Pudjono untuk ngobrol dan menemani duduk bersila di luar. Aku minta tolong kepadanya, karena temanku Ida ingin punya anak, yang sampai lebih lima tahun belum juga diberi momongan.
Sewaktu kami berdoa di dalam hati, pak Pudjono memberi tahu kepadaku bahwa ada seorang putri dengan pakaian seperti ibu dari Timur Tengah. Datangnya seperti dari arah kebun di depan rumah pak Mardayat. Aku mencoba untuk melihat, namun sama sekali tidak dapat melihat apa-apa. Dalam keadaan kebetulan, listrik di tempat pak Mardayat mendadak padam, seperti tidak kuat dengan beban listrik yang dinyalakan. Agak aneh memang, karena rumah tetangga masih menyala.
Pak Pudjono memberi tahu aku bahwa putri itu semakin mendekat di depanku, tempat aku duduk bersila. Ada perkataan yang diucapkan dan disampaikan oleh pak Pudjono kepadaku : “Dar, kenapa isih nganggo ewuh pakewuh ?” (Dar, kenapa masih segan dan sungkan?) Terus terang aku tidak tahu maksud perkataan tersebut. Aku berusaha untuk berdoa, Bunda berkatilah aku, kami semua yang sedang berkumpul memuji nama Tuhan. Bulu kudukku terasa berdiri, yang menjadi tanda bahwa aku tidak dapat berpikir apa-apa, dan sedang membayangkan bahwa Bunda Maria yang datang. Aku berusaha sedapat mungkin untuk melihat Bunda Maria, dan hasilnya tetap tidak bisa. Apakah hal tersebut karena pengalaman pertama berjumpa dengan yang kudus? Begitu Bunda Maria pergi, lampu di rumah pak Mardayat tiba-tiba menyala. Bunda Maria datang menemui kami berdua sebentar sekali, dan aku masih bingung. Yang sedang latihan koor jelas tidak mengetahui apa yang sedang kami alami di luar.
Setelah beberapa saat berlalu, pak Pudjono memberi tahu aku lagi bahwa ada seorang ibu (jika tidak salah Santa Brigitta) mendatangi kami dengan menggendong anak yang akan diserahkan kepada kami. Namun seperti tidak mengucapkan kata-kata, hanya memperlihatkan diri atau sebagai pertanda bahwa doa kami akan dikabulkan? Semoga.
Dalam penglihatan pak Pudjono, suami Ida mempunyai kelemahan di alat reproduksinya. Secara medis mereka berdua tidak ada masalah karena bibit dari keduanya baik-baik saja. Hanya karena sesuatu hal di alat kelaminnya, sperma yang dikeluarkan seperti harus melewati jalan panjang berliku-liku dan lama, sehingga pada saatnya ketemu dengan telur sudah mengalami kelelahan yang hebat dan tidak mampu membuahi.
Pak Pudjono mengatakan bahwa ada simbul buah terong ungu yang panjang, apakah untuk pengobatan atau mempunyai makna lain aku belum berani bertanya lebih dalam. Sepertinya ada cara pengobatan untuk hal tersebut, namun tidak umum. Aku tidak berani mengatakannya.
Aku bertanya kepada Ida beberapa hari berikutnya, apakah suaminya mempunyai masalah dalam hal itu. Dia menjawab bahwa memang betul ada masalah, yang katanya dapat diobati di Singapore. Namun masalah biaya menjadi batu sandungan. Beberapa tahun berselang, baru aku ketahui bahwa simbul tersebut menyatakan bahwa Ida temanku mengambil anak angkat. Kehidupan mereka selanjutnya aku tidak mengetahui lagi, dan mereka tinggal di Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Jagalah kesantunan dalam berkomunikasi, walaupun diselimuti kemarahan, kejengkelan, tidak puas dan sejenisnya.